Komandan Kodim 0103/Aceh Utara, Letkol Arh Jamal Dani Arifin, disaksikan Bupati Aceh Utara Ismail A.Jali, melakukan peletakan batu pertama pembangunan jembatan di Gampong Dayah Seupeng, Kecamatan Geureudong Pasee, pada Kamis kemarin. FOR RAKYAT ACEH.ACEH UTARA | RAKYAT ACEH – Upaya mempercepat pemerataan pembangunan di wilayah pedalaman kembali ditegaskan melalui langkah konkret pembangunan infrastruktur strategis. Komando Distrik Militer (Kodim) 0103/Aceh Utara resmi memulai pembangunan Jembatan Perintis di Gampong Dayah Seupeng, Kecamatan Geureudong Pasee, Kamis (9/4), sebagai bagian dari program pembangunan 15 jembatan serentak di berbagai kecamatan.

Ground breaking ini menjadi penanda dimulainya fase lanjutan pembangunan konektivitas wilayah yang selama ini menjadi tantangan utama masyarakat pedalaman. Program tersebut merupakan implementasi kebijakan nasional yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto, dengan pelaksanaan teknis di bawah koordinasi Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak selaku Ketua Satuan Tugas Pembangunan Jembatan.
Komandan Kodim 0103/Aceh Utara, Letkol Arh Jamal Dani Arifin, menegaskan bahwa pembangunan jembatan perintis ini merupakan kelanjutan dari tahap sebelumnya yang telah menghadirkan berbagai tipe jembatan, mulai dari gantung, Bailey hingga Aramco. Infrastruktur tersebut terbukti mampu meningkatkan mobilitas masyarakat sekaligus membuka akses ekonomi di wilayah terpencil.
Pada tahap ketiga ini, sebanyak 15 titik pembangunan telah disetujui, dengan dua di antaranya berada di Kecamatan Geureudong Pasee. Selebihnya tersebar di sejumlah kecamatan lain di Kabupaten Aceh Utara.
“Pembangunan ini bukan hanya proyek fisik, tetapi juga upaya menghadirkan akses yang layak bagi masyarakat. Kami mengajak seluruh elemen untuk bersama-sama menjaga proses pembangunan agar berjalan lancar dan tepat waktu,” ajak Dandim.
Dukungan penuh juga disampaikan Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil. Ia menilai pembangunan jembatan menjadi langkah strategis dalam membuka isolasi wilayah, mempercepat arus barang dan jasa, serta meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan.
Menurutnya, kehadiran 15 jembatan ini sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal sekaligus mempercepat pemerataan pembangunan di Aceh Utara.
“Ini bukan sekadar pembangunan jembatan, tetapi simbol hadirnya harapan baru bagi masyarakat pedalaman untuk hidup lebih sejahtera dan terhubung,” ungkapnya.
Prosesi peletakan batu pertama dilakukan oleh unsur Forkopimda, dilanjutkan dengan tradisi peusijeuk dan doa bersama yang turut dihadiri unsur Muspika setempat. Momentum ini tidak hanya sarat makna budaya, tetapi juga menjadi penegas komitmen bersama agar pembangunan berjalan aman, lancar, dan memberikan manfaat nyata terutama dalam mengatasi kendala transportasi yang kerap terjadi saat musim hujan. (arm/ra)
Tidak ada komentar