Penulis: Tgk. Jamaluddin H. Kadir (Waled Jamal Blang Rayeuk), Pimpinan Dayah QAHA LhokseumaweRAKYAT ACEH – Perubahan zaman melaju begitu cepat, menggilas batas-batas nilai dan norma. Arus digitalisasi dan derasnya gelombang globalisasi membawa dunia ke genggaman tangan, namun di saat yang sama, perlahan melunturkan fondasi kehidupan manusia terutama pada generasi muda.

Fenomena hilangnya moral dan etika sosial di kalangan remaja kini bukan lagi isu sepele. Kita menyaksikannya di media sosial, di jalanan, bahkan di lingkungan kita sendiri: perilaku yang menyimpang, tutur yang kasar, hingga tindakan kriminal yang melibatkan anak muda. Dekadensi moral ini menjadi tanda bahaya yang seharusnya menggugah semua pihak untuk segera bertindak.
Masa remaja sejatinya adalah fase penting pembentukan jati diri. Di masa inilah seseorang mencari arah hidup dan membangun nilai-nilai moralnya. Bila fase ini dilewati tanpa bimbingan, tanpa keteladanan, maka bukan mustahil mereka akan kehilangan arah dan terjerumus pada perilaku destruktif.
Dalam beberapa tahun terakhir, kita dikejutkan oleh maraknya aksi begal, geng motor, hingga penyalahgunaan narkoba yang melibatkan remaja. Fakta ini menjadi cermin bahwa kondisi generasi muda khususnya di Aceh sedang tidak baik-baik saja. Mereka membutuhkan pendampingan, bukan sekadar hukuman. Mereka perlu ruang untuk didengar, dibimbing, dan diberi arah, bukan hanya disalahkan.
Ada dua faktor besar yang menjadi akar dari dekadensi moral ini. Pertama, hilangnya keteladanan dalam keluarga. Kedua, menurunnya kualitas pendidikan, baik agama maupun umum. Dua hal ini saling terkait dan berperan besar dalam membentuk pola pikir serta karakter generasi muda.
Keluarga adalah pondasi utama. Orang tua semestinya menjadi guru pertama bagi anaknya. Namun, realitas hari ini menunjukkan banyak orang tua terlalu sibuk mengejar karier dan urusan pribadi, hingga abai terhadap tugas mendidik dan membentuk karakter anak. Padahal, rumah adalah “dayah” pertama, tempat nilai dan akhlak ditanamkan sejak dini.
Tak jarang, justru karena kelalaian orang tua, anak-anak kehilangan arah dan mudah terjerumus. Banyak yang seharusnya mengisi malam dengan belajar dan mendalami agama, malah menghabiskan waktu di kafe dengan gawai di tangan, larut dalam dunia maya tanpa batas. Fenomena ini dianggap biasa, padahal sesungguhnya sedang menyiapkan “bom waktu” sosial yang sewaktu-waktu bisa meledak.
Allah SWT telah memperingatkan dalam Surah An-Nisa ayat 9:
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka…”
Ayat ini menjadi pesan abadi bahwa tanggung jawab membentuk generasi kuat dan bermoral bukan hanya tugas sekolah atau pemerintah, tetapi tanggung jawab setiap keluarga.
Kini saatnya kita merenung: apakah kita masih menjadi teladan bagi anak-anak kita? Apakah rumah kita masih menjadi sekolah pertama yang menumbuhkan iman dan akhlak? Karena jika keluarga runtuh, maka runtuhlah generasi, dan bila generasi hancur, masa depan bangsa pun ikut terpuruk. (*)
Tidak ada komentar