Duka mendalam menimpa keluarga kecil Musnaini (35), warga Gampong Geulanggang Baro, Kecamatan Lapang, Aceh Utara. Suaminya, Muhammad Sabar (45), meninggal dunia dalam kecelakaan tunggal di kawasan Gunung Singgah Mata, Beutong Ateuh, Nagan Raya, Jumat (31/10/25) seusai waktu ashar. FOR RAKYAT ACEHRAKYAT ACEH | ACEH UTARA – Duka mendalam menimpa keluarga kecil Musnaini (35), warga Gampong Geulanggang Baro, Kecamatan Lapang, Aceh Utara. Suaminya, Muhammad Sabar (45), meninggal dunia dalam kecelakaan tunggal di kawasan Gunung Singgah Mata, Beutong Ateuh, Nagan Raya, Jumat (31/10/25) seusai waktu ashar. Putra mereka, Muhammad Asyraf masih berumur 4 tahun selamat namun mengalami luka parah, retak tulang kepala dan rahang hingga harus menjalani operasi serta perawatan intensif di RSUD Zainoel Abidin (RSUDZA), Banda Aceh.

Kecelakaan terjadi ketika keluarga sedang dalam perjalanan menuju Aceh Selatan untuk menghadiri resepsi pernikahan kerabat. Mereka berangkat dengan tiga sepeda motor. Saat melintas di tikungan menurun Gunung Singgah Mata, sepeda motor yang dikendarai Sabar diduga mengalami rem blong dan terjun ke jurang sedalam 16 meter. Sabar meninggal di lokasi, sementara Asyraf dan seorang keponakan yang dibonceng selamat meskipun mengalami luka serius.
20 Hari Menjaga Anak di Rumah Sakit, Musnaini Kehabisan Biaya
Selama 20 hari mendampingi putranya pascaoperasi, Musnaini menghadapi kondisi ekonomi yang kian sulit. Tanpa suami yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga, kebutuhan dasar seperti pampers dan makanan pun sulit dipenuhi. Sesekali ia hanya mengandalkan bantuan dari sesama pasien.
Dalam kebingungan, seorang pasien memberikan nomor kontak petugas Baitul Mal Aceh Utara. Malam itu juga, dengan suara bergetar, Musnaini menghubungi nomor tersebut tanpa tahu siapa yang akan menjawab.
Telepon Malam Hari yang Mengubah Nasib
Kasubag Informasi dan Teknologi Baitul Mal Aceh Utara, Mukhlis, mengatakan ia menerima telepon tersebut dengan penuh kehati-hatian.
“Ibu ini menangis sambil menjelaskan kondisi anaknya. Ia mengirimkan foto dan video sebagai verifikasi. Kami segera meminta data seperti KTP, KK, dan rekam medis,” jelas Mukhlis.
Ia menambahkan bahwa meski prosedur tetap dijalankan, Baitul Mal Aceh Utara punya kebijakan untuk bertindak cepat dalam kasus darurat.
“Tim lapangan langsung melakukan pengecekan ke gampongnya. Hasilnya, benar bahwa keluarga ini merupakan korban kecelakaan yang sempat viral,” ujarnya.
Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh Utara, Samsul Bahri, SE, melalui Mukhlis, menegaskan bahwa lembaganya selalu terbuka bagi masyarakat yang membutuhkan.
Rekening Dibuat di RSUDZA, Bantuan Cair dalam Sehari
Dari seluruh syarat administrasi, hanya satu yang belum dipenuhi Musnaini: rekening Bank Aceh sebagai ketentuan pencairan bantuan. Keesokan harinya, Kamis (20/11), ia mengurusnya di counter Bank Aceh yang berada di RSUDZA dan berhasil mendapatkan buku rekening pada hari yang sama.
Tidak sampai 24 jam setelah berkas lengkap diterima, bantuan pendampingan pasien sebesar Rp1 juta langsung ditransfer ke rekeningnya. Karena tidak punya layanan mobile banking, Musnaini memeriksanya melalui pencetakan buku tabungan.
Melihat saldo bertambah, ia tak kuasa menahan tangis.
“Seperti mimpi. Di saat saya benar-benar tidak punya apa-apa, Allah menghadirkan pertolongan,” ucapnya haru.
Diunggah ke Baitul Mal Aceh untuk Bantuan Tambahan
Selain bantuan awal, petugas juga mengarahkan Musnaini agar mengajukan bantuan tambahan ke Baitul Mal Aceh guna memenuhi kebutuhan selama masa pemulihan Asyraf. Setelah menyerahkan berkas, ia diminta menunggu proses berikutnya.
Baitul Mal Aceh Utara, Hadir dalam Masa Sulit Warga
Musnaini menyampaikan rasa terima kasihnya atas respons cepat dan bantuan yang ia terima.
“Mereka tidak mengenal saya, tapi tetap membantu. Semoga Allah membalas semua kebaikan ini,” ujarnya.
Kisah ini menjadi bukti bahwa Baitul Mal Aceh Utara bukan sekadar lembaga pengelola dana umat, tetapi juga tumpuan harapan bagi masyarakat yang menghadapi cobaan berat. (arm/ra)
Tidak ada komentar