Foto : Jembatan Kuta Blang, akses utama lintasan Bireuen menuju Lhokseumawe dan sebaliknya putus. Ribuan warga antri untuk menyeberang memanfaatkanboat kecil nelayan. IDRIS BENDUNG-RAKYAT ACEHLHOKSEUMAWE |RAKYAT ACEH – Setelah dua hari pasca penetapan status darurat bencana di Provinsi Aceh, terdata 47 korban meninggal dunia. Selain itu, 51 orang dinyatakan hilang dan arus pengungsi mencapai 48.887 kepala keluarga.

“Untuk wilayah Aceh ada 47, kemudian 51 masih hilang dan 8 luka-luka. Ini akan berkembang terus datanya, karena ada operasi SAR gabungan yang kemungkinan akan terus menemukan korban,” terang Suharyanto, seperti keterangan tertulis disampaikan Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, Ph.D. dalam keterangan tertulis diterima Rakyat Aceh, Minggu (30/11).
Menurut dia, jumlah pengungsi tertinggi berada di Aceh Utara, bener Meriah, Aceh Tengah dan Aceh Singkil. Banyaknya kerusakan jembatan dan jalan nasional berdampak pada terputusnya akses utama, termasuk jalur Banda Aceh–Lhokseumawe serta jalur perbatasan Aceh–Sumatera Utara di Aceh Tamiang. Hingga kini, beberapa daerah seperti Gayo Lues, Aceh Tengah, dan Bener Meriah masih belum dapat diakses melalui jalur darat.
BNPB telah mengaktifkan dukungan komunikasi darurat menggunakan jaringan satelit Starlink di sejumlah titik, terutama di wilayah yang terisolir jaringan. Pengiriman logistik dilakukan melalui udara menggunakan helikopter dan pesawat Cessna Caravan untuk menjangkau daerah yang tidak dapat diakses melalui jalur darat.
Bantuan Presiden berupa alat komunikasi, tenda, genset, perahu karet, makanan siap saji, dan perlengkapan keluarga telah tiba di Aceh dan sebagian besar telah didistribusikan ke 17 kabupaten/kota terdampak. Dua helikopter BNPB juga telah dikerahkan dari Bandara Sultan Iskandar Muda untuk mendukung distribusi ke titik-titik kritis. (ung)
Tidak ada komentar