
RAKYAT ACEH | KUTACANE — Banjir bandang yang melanda sejumlah desa di Kecamatan Ketambe, Aceh Tenggara, bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah ujian kemanusiaan. Di tengah derasnya air yang menyeret rumah, kenangan, dan harapan, tersisa manusia-manusia yang bertahan dengan luka fisik dan batin.

Sepanjang jalan Lawe Mengkudu hingga kawasan Rumah Bundar, Kecamatan Ketambe, sedikitnya 196 rumah warga hilang terbawa arus. Angka itu bukan sekadar statistik. Ia adalah potret keluarga yang kehilangan tempat pulang, ruang aman, dan masa depan yang selama ini dibangun perlahan.
Di Desa Bener Bepapah, 17 kepala keluarga terpaksa mengungsi secara mandiri setelah rumah mereka hanyut diterjang banjir pada 26 November lalu. Dalam keterbatasan dan sunyi yang panjang, harapan paling nyata adalah hadirnya negara, hadir bukan hanya sebagai simbol, tetapi sebagai tindakan kemanusiaan.
Empati yang Datang Tanpa Seremoni
Sabtu, 13 Desember 2025, Kapolres Aceh Tenggara AKBP Yulhendri, S.I.K., kembali menyambangi Desa Bener Bepapah. Ia datang tanpa upacara, tanpa pidato panjang. Yang dibawa adalah nasi bungkus, makanan ringan untuk anak-anak, serta sedikit uang tunai sebagai tali asih. Bantuan yang mungkin sederhana, namun sarat makna, kepedulian, kehadiran, dan empati yang diwujudkan.
“Sedikit bantuan ini semoga bisa meringankan beban dan memenuhi kebutuhan mendesak saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah,” ujar AKBP Yulhendri di hadapan warga.
Didampingi istrinya, Ny. Ilma Yulhendri, Ketua Bhayangkari Cabang Aceh Tenggara, Kapolres menyapa anak-anak pengungsian, menanyakan kabar, membagi senyum, menenangkan trauma yang belum sepenuhnya pulih. Dari Bener Bepapah, rombongan bergerak ke Desa Lawe Penanggalan. Di sana, Kapolres duduk bersama warga, mayoritas kaum ibu, mendengar keluh, merasakan cemas, dan meneguhkan harap.
“Atas nama institusi dan pribadi, kami turut prihatin atas musibah yang menimpa saudara-saudara kami di Aceh Tenggara, khususnya warga Kecamatan Ketambe,” tuturnya.
Empati Kepolisian Resor Aceh Tenggara juga terlihat sehari sebelumnya, Jumat (12/12/2025). Ketika listrik padam dan udara dingin menyelimuti para korban banjir, Kapolres AKBP Yulhendri menyediakan minyak tanah agar warga dapat menyalakan lampu teplok dan melewati malam dengan sedikit kehangatan. Dalam gelap, kehadiran itu menjadi cahaya kecil yang berarti.
Dirinya juga memilih menginap bersama warga. Duduk di lantai rumah yang masih lembap, ia mendengarkan kisah kehilangan tentang rumah yang hanyut, ladang yang rusak, dan masa depan yang tiba-tiba terasa asing.
Memulihkan Luka, Menjaga Harapan
Upaya kemanusiaan tak berhenti pada logistik. Kamis (11/12/2025), Polres Aceh Tenggara menggelar kegiatan trauma healing bagi anak-anak di Desa Simpur. Kegiatan di Pimpin langsung oleh dirinya bersama Polwan, dan personel Polres serta ibu – ibu Bhayangkari. Anak-anak diajak bermain, dan tertawa kembali dengan hrapan perlahan memulihkan rasa aman yang sempat hilang.
Sejak awal bencana, AKBP Yulhendri dan jajarannya terus bergerak. Minggu (7/12/2025), bantuan disalurkan ke sejumlah desa dan dusun di Kecamatan Ketambe. Bahkan di Desa Lauser, Polres Aceh Tenggara menyediakan akses internet gratis, membantu warga tetap terhubung untuk berkomunikasi dan mengurus kebutuhan penting di tengah keterisolasian.
“Dalam situasi bencana, komunikasi adalah kebutuhan mendesak. Kemanusiaan hari ini bukan hanya soal makanan, tetapi juga tentang harapan,” kata AKBP Yulhendri.
Punbantuan telah disalurkan, disadari itu semua belum cukup untuk membangun kembali rumah – rumah yang hilang, ladang yang rusak, dan masa depan yang tergerus air.
Demikian AKBP Yulhendri mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut berempati, bergotong royong, saling menguatkan, dan memastikan bahwa para korban tidak berjalan sendiri menghadapi hari esok.
Di Ketambe, banjir memang telah surut. Namun ujian kemanusiaan masih berlangsung. Dan di tengah keterbatasan itu, kehadiran yang tulus menjadi harapan terdekat bagi warga yang Di Ketambe, banjir memang telah surut. Namun ujian kemanusiaan masih berlangsung.
Dan di tengah keterbatasan itu, kehadiran yang tulus menjadi harapan terdekat bagi warga yang sedang berjuang bangkit.
Tidak ada komentar