x

Tgk Lhok Weng Pertanyakan Komitmen UNHCR–IOM Bangun Shelter Rohingya di Lhokseumawe

waktu baca 2 menit
Selasa, 20 Jan 2026 20:19 61 redaksi

RAKYAT ACEH | LHOKSEUMAWE – Sebanyak 92 pengungsi Rohingya yang berada di bekas Kantor Imigrasi Punteuet Lhokseumawe, hingga kini masih menunggu kepastian pembangunan shelter permanen yang dijanjikan oleh United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) dan International Organization for Migration (IOM). Ketidakjelasan tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan pengelola lokasi penampungan dan masyarakat setempat.

Pimpinan Dayah Zurriyatul Qurani Al-Ma’arif (ZQA) Gampong Masjid Punteuet, Kecamatan Blang Mangat, Tgk Sulaiman Lhok Weng, mempertanyakan komitmen kedua lembaga internasional itu. Pasalnya, pembangunan shelter yang sebelumnya ditargetkan rampung pada awal Desember 2025 hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan dimulai.

“Targetnya awal Desember 2025 shelter sudah selesai dibangun, tetapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda pembangunan dilakukan,” ujar Tgk Sulaiman, kepada Rakyat Aceh Selasa (20/1).

Ia menjelaskan, pihak dayah melalui Yayasan Zurriyatul Qurani Al-Ma’arif telah menyiapkan lahan kosong seluas sekitar dua hektare yang dipinjamkan secara gratis untuk pembangunan shelter pengungsi Rohingya. Lahan tersebut berlokasi di Gampong Masjid Punteuet, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe.

Di sisi lain, Pemerintah Kota Lhokseumawe juga telah menyurati UNHCR dan IOM agar memfasilitasi pemindahan para pengungsi ke lokasi tersebut paling lambat 15 Desember 2025. Namun hingga kini, kepastian realisasi pembangunan shelter permanen masih belum diperoleh.

Sementara itu, sejumlah lembaga kemanusiaan menunjukkan komitmen nyata dalam mendukung fasilitas pendukung pengungsi. Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dilaporkan hampir merampungkan pembangunan klinik kesehatan dengan progres mencapai 90 persen. Yayasan Kemanusiaan Madani Indonesia (YKMI) juga telah membangun fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) dengan tingkat penyelesaian yang sama.

Selain itu, Jesuit Refugee Service (JRS) Indonesia menyatakan kesiapan untuk menyediakan fasilitas listrik di kawasan tersebut. Namun, pemasangan jaringan listrik belum dapat direalisasikan karena bangunan shelter sebagai fasilitas utama pengungsi belum tersedia.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran berbagai pihak terkait kepastian penanganan jangka panjang para pengungsi Rohingya, yang hingga kini masih hidup dalam keterbatasan dan ketidakpastian di wilayah Lhokseumawe.(arm/ra)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x