Dalam tausiyahnya, Ustadz Mirza Gunawan menegaskan bahwa Ramadhan tidak boleh dipahami sebatas ritual tahunan. Namun bulan Ramadhan merupakan sarana pembinaan diri yang menyentuh aspek spiritual sekaligus sosial. FOR RAKYAT ACEH.RAKYAT ACEH | LHOKSEUMAWE– Suasana Ramadhan di lingkungan Korem 011/Lilawangsa terasa lebih khusyuk. Menjelang pelaksanaan salat tarawih berjamaah, ratusan prajurit bersama keluarga dan warga sekitar memadati Masjid Al-Fitrah untuk mengikuti kuliah tujuh menit (kultum) yang menekankan pentingnya pembenahan ibadah.

Dalam tausiyahnya, Ustadz Mirza Gunawan menegaskan bahwa Ramadhan tidak boleh dipahami sebatas ritual tahunan. Menurutnya, puasa merupakan sarana pembinaan diri yang menyentuh aspek spiritual sekaligus sosial.
“Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan haus. Ini momentum memperbaiki kualitas sholat, memperbanyak sedekah, dan memperkuat hubungan kita dengan Allah serta sesama manusia. Di sinilah nilai takwa dibentuk,” ujarnya di hadapan jamaah, pada Kamis malam (26/2).
Ia menjelaskan, tujuan utama puasa adalah melahirkan pribadi muttaqin, yakni individu yang taat, jujur, dan bertanggung jawab dalam setiap peran kehidupan. Ketakwaan, katanya, tidak berhenti di masjid, melainkan tercermin dalam sikap sehari-hari, mulai dari kedisiplinan, kejujuran, hingga kepedulian sosial.
“Takwa itu luas maknanya. Bukan hanya ibadah ritual, tapi bagaimana kita menjaga lisan, perbuatan, dan amanah,” tambahnya.
Untuk memperkuat pesan, Mirza membagikan kisah tentang tanggung jawab seorang ayah dalam membimbing keluarganya agar tetap mendirikan salat meski sedang berpuasa. Ia mengutip ayat Al-Qur’an tentang kewajiban menjaga diri dan keluarga dari api neraka sebagai pengingat pentingnya pendidikan iman di rumah.
Menurutnya, keluarga adalah benteng pertama pembentukan karakter. Jika rumah tangga kuat secara spiritual, maka masyarakat pun akan kokoh.
Di akhir ceramah, ia mengajak seluruh jamaah memanfaatkan Ramadhan sebagai masa evaluasi diri, memperbaiki kekurangan ibadah, meningkatkan sedekah, memperbanyak zikir, serta menumbuhkan empati kepada kaum dhuafa.
“Semoga Ramadhan ini menjadi titik balik untuk memperbaiki diri, sehingga kita dipertemukan kembali dengan Ramadhan berikutnya dalam keadaan sehat dan lebih bertakwa,” tutupnya.
Usai kultum, kegiatan dilanjutkan dengan salat tarawih berjamaah yang berlangsung khusyuk. Kebersamaan antara prajurit, keluarga besar TNI, dan masyarakat sipil mencerminkan harmonisasi nilai keagamaan dan semangat gotong royong di lingkungan militer.
Momentum ini sekaligus menunjukkan bahwa pembinaan mental dan rohani menjadi bagian penting dalam membangun prajurit yang tidak hanya tangguh secara fisik, tetapi juga kuat secara spiritual. Ramadhan pun menjadi ruang refleksi, mempererat silaturahmi, serta memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat Lhokseumawe. (arm/ra)
Tidak ada komentar