x

Apresiasi Desa Budaya 2025: Mengangkat Rawa Nipah ke Panggung Nasional

waktu baca 3 menit
Rabu, 7 Jan 2026 22:32 69 redaksi

RAKYAT ACEH | ACEH BARAT – Desa Suak Timah, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, mencatatkan prestasi gemilang di tingkat nasional. Desa ini terpilih sebagai salah satu dari lima penerima penghargaan Apresiasi Desa Budaya 2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Penghargaan ini merupakan puncak dari program Pemajuan Kebudayaan Desa (PKD) yang telah berjalan sejak 2021. Desa Suak Timah berhasil menyisihkan 150 desa yang terseleksi secara ketat hingga masuk ke jajaran lima besar terbaik bersama Desa Cibaliung (Banten), Desa Duarato (NTT), Desa Tanjung Isuy (Kaltim), dan Desa Tebat Patah (Jambi).

Fondasi Budaya sebagai Jantung Nasional

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dalam keterangannya menegaskan bahwa desa memiliki posisi sentral dalam menjaga identitas bangsa. Menurutnya, desa budaya adalah benteng peradaban di tengah arus globalisasi.

“Budaya bukan sekadar simbol, tetapi merupakan kekuatan hidup yang menyatukan dan membangun karakter bangsa. Di desa-desalah tradisi, seni, dan kearifan lokal hidup dan berkembang,” ujar Fadli Zon. Ia menambahkan bahwa langkah ini sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan nasional yang berakar pada kemandirian rakyat desa.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra, menyebut desa sebagai “museum hidup”. Pengembangan budaya desa menjadi prioritas karena di sanalah nilai-nilai komunal menjadi dasar kehidupan masyarakat.

Keunggulan Festival Nipah

Keberhasilan Desa Suak Timah tak lepas dari keberanian mereka mengelola potensi lokal melalui Festival Nipah. Inisiatif ini dinilai juri lintas disiplin sebagai praktik baik dalam menghidupkan kembali pengetahuan lokal yang berakar pada ekosistem rawa nipah.

Dahulu, rawa nipah di desa ini dikenal sebagai benteng pertahanan para pejuang. Kini, melalui tangan kreatif masyarakat, ekosistem tersebut bertransformasi menjadi penopang budaya dan ekonomi melalui festival yang melibatkan seluruh lapisan warga, termasuk kelompok perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas.

Komitmen Kepala Desa

Kepala Desa (Keuchik Gampong) Suak Timah, Afdhal, menyatakan bahwa penghargaan ini adalah amanah sekaligus tantangan untuk masa depan.

“Kami sangat bersyukur. Penghargaan ini adalah legitimasi atas semangat kolektif warga dalam menjaga tradisi. Ke depan, kami akan bekerja lebih dalam dan fokus pada pembinaan serta pemanfaatan kebudayaan lokal di Suak Timah,” tegas Afdhal. Ia berharap capaian ini dapat dirasakan langsung dampaknya oleh masyarakat, baik secara sosial maupun ekonomi.

Menuju Puncak Acara di Samosir

Proses penilaian Apresiasi Desa Budaya 2025 dilakukan secara komprehensif melalui tahapan temu-kenali, pendalaman, hingga aktivasi. Keterlibatan aktif warga menjadi poin krusial yang membawa Suak Timah meraih posisi prestisius ini.

Rencananya, acara puncak penganugerahan Apresiasi Desa Budaya 2025 akan diselenggarakan pada Februari 2026 di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Acara tersebut dijadwalkan akan dihadiri langsung oleh Menteri Kebudayaan untuk memberikan penghargaan secara resmi kepada desa-desa terpilih.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x