Direktur Utama Perumdam Tirta Pase, Imran, S.T., FOR RAKYAT ACEHRAKYAT ACEH | ACEH UTARA – Sejak banjir bandang melanda Aceh Utara pada 26 November 2025, air bersih tak lagi sekadar kebutuhan domestik. Ia menjelma menjadi simbol ketahanan layanan publik di tengah krisis.

Di balik kran yang tak mengalir normal, tersimpan kisah kerusakan infrastruktur, tekanan keuangan, dan perjuangan Perusahaan Umum Daerah Air Minum (Perumdam) Tirta Pase menjaga suplai air bagi puluhan ribu pelanggan.
Bencana tersebut menghantam langsung tulang punggung sistem penyediaan air bersih. Sedikitnya 12 Instalasi Pengolahan Air (IPA) mengalami kerusakan berat. Pipa induk patah, jaringan distribusi tergerus arus deras, dan ribuan sambungan rumah pelanggan terputus. Dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat, tetapi juga mengguncang kondisi keuangan perusahaan.
Direktur Utama Perumdam Tirta Pase, Imran, S.T., mengungkapkan total kerugian akibat banjir bandang mencapai Rp36 miliar.
“Bencana ini bukan hanya merusak aset fisik, tetapi juga mematikan aliran pendapatan. Ketika air tidak mengalir, penagihan otomatis berhenti,” ujarnya.
Dalam situasi darurat, Perumdam Tirta Pase dihadapkan pada dilema berat. Biaya perbaikan terus berjalan, sementara pemasukan menurun drastis. Seluruh proses pemulihan dilakukan secara mandiri, tanpa tambahan sokongan anggaran khusus.
Kerusakan paling kompleks terjadi pada jaringan pipa induk dan fasilitas pengolahan air yang berada di lintasan sungai dan jembatan. Sejumlah IPA terpaksa dihentikan operasionalnya bukan karena kerusakan mesin, melainkan akibat kualitas air baku yang masih keruh dan tidak layak diolah.
Salah satunya IPA Krueng Pase yang kembali dihentikan operasionalnya pada 13 Januari 2026, meskipun perbaikan pipa induk berdiameter 300 milimeter telah rampung. Kondisi serupa juga terjadi di IPA Teupin Punti, Langkahan, dan Meunasah Asan.
“Air baku pascabanjir masih membawa lumpur dan material berat. Jika dipaksakan, justru berisiko merusak instalasi yang sudah diperbaiki,” kata Imran.
Bertahan di Tengah Keterbatasan
Pemulihan layanan dilakukan secara bertahap dan dengan kehati-hatian tinggi. Di Kecamatan Baktiya, suplai air masih terbatas akibat kapasitas pompa yang belum kembali optimal. Sementara di Kecamatan Dewantara, perbaikan pipa induk yang melintasi jembatan rel kereta api berjalan lambat karena tingkat risiko pekerjaan yang tinggi.
Meski demikian, hasil pemulihan mulai terlihat. Pasokan air bersih di Paya Itek, Syamtalira Bayu, Meurah Mulia, hingga Kota Lhokseumawe kini kembali normal. Perbaikan jaringan menuju Krueng Geukueh melalui Jembatan Bungkaih juga hampir rampung dan segera memasuki tahap uji coba.
Saat ini, sebanyak 12 IPA dari Krueng Mane hingga Langkahan masih beroperasi dalam kondisi darurat untuk melayani sekitar 43 ribu pelanggan.
“Kami bekerja dalam situasi krisis. Target utama kami adalah memastikan masyarakat tetap mendapatkan air bersih, meskipun dengan berbagai keterbatasan,” ujar Imran.
Di tengah tekanan akibat bencana, Perumdam Tirta Pase justru memperkuat pembenahan internal. Perusahaan ini tercatat sebagai Perumdam pertama di Aceh yang secara konsisten menerapkan Good Corporate Governance (GCG), dibuktikan dengan predikat baik dari BPKP pada November 2024.
Menurut Imran, penerapan GCG menjadi fondasi penting agar perusahaan tetap bertahan di tengah krisis.
“GCG bukan sekadar dokumen, tetapi disiplin, transparansi, dan tanggung jawab, terutama saat menghadapi kondisi terburuk,” kata Imran kepada Rakyat Aceh, pada Senin (2/2).
Namun, tantangan struktural masih membayangi. Sejumlah IPA, bak pengendap lumpur, serta jaringan pipa utama mengalami kebocoran. Tak kurang dari 8.000 unit meter air dilaporkan rusak, berdampak pada akurasi pencatatan pemakaian dan pendapatan.
Dengan keterbatasan anggaran, penggantian meter air baru mampu dilakukan sekitar 500 unit per tahun.
“Jika diganti sekaligus, biayanya bisa mencapai miliaran rupiah. Kami harus realistis dan bertahap,” ujarnya.
Di balik mesin, pipa, dan laporan keuangan, terdapat sumber daya manusia yang memastikan layanan tetap berjalan. Perumdam Tirta Pase tetap menjaga kesejahteraan karyawan melalui pembayaran gaji tepat waktu, kepesertaan BPJS, dana pensiun, serta pemberian insentif.
Langkah ini dinilai manajemen sebagai kunci menjaga disiplin, loyalitas, dan respons cepat pegawai di tengah tekanan kerja dan keterbatasan fasilitas.
Bagi masyarakat Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe, pemulihan layanan air bersih mungkin terasa lambat. Namun di balik proses tersebut, berlangsung perjuangan panjang untuk menjaga layanan publik tetap hidup pascabencana.
Air mungkin belum sepenuhnya mengalir normal. Tetapi upaya memulihkannya terus berjalan pelan, bertahap, dan penuh tantangan. (arm/ra)
Tidak ada komentar