x

BMKG Imbau Masyarakat Waspada Bencana Hidrometeorologi

waktu baca 3 menit
Selasa, 21 Okt 2025 10:47 8 redaksi

RAKYAT ACEH| BANDA ACEH – Prakirawan BMKG Sultan Iskandar Muda, Amat Komi menyebutkan, hujan terus terjadi di wilayah Aceh dalam beberapa hari terakhir dipicu pengaruh bibit siklon tropis 93B yang terbentuk di Teluk Benggala bagian barat laut Aceh.

Amat Komi menjelaskan bibit siklon tropis 93B mulai terpantau oleh pihaknya sejak 19 Oktober 2025 pukul 13.00 WIB lalu. Selain itu, lanjut Amat, cuaca basah di Aceh juga dipengaruhi oleh aktifnya monsun Asia dan nilai Dipole Mode negatif yang meningkatkan aktivitas konvektif di wilayah Indonesia bagian barat.

“Kemudian terpantau juga aktifnya gelombang atmosfer Rossby Ekuatorial, adanya belokan angin dan konvergensi di wilayah Aceh, serta suhu muka laut yang hangat di Samudra Hindia Barat Sumatera dan Perairan Timur Aceh turut meningkatkan potensi penguapan,” jelas Amat, Senin (20/10).

Kondisi tersebut, kata Amat, memicu pembentukan awan hujan secara masif di berbagai wilayah Aceh. Dalam beberapa hari terakhir, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat dilaporkan terjadi di Aceh Barat, Aceh Jaya, Aceh Besar, Banda Aceh, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Lhokseumawe, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang.

“Untuk saat ini potensi hujan masih berlanjut hingga dua hari ke depan, dan akan terus kami update sesuai perkembangan kondisi atmosfer,” ujarnya.

Karena itu dia mengimbau masyarakat mewaspadai bencana hidrometeorologi, karena hujan terus-menerus melanda sejumlah wilayah di Aceh sejak pekan lalu hingga dua hari ke depan.

“Waspada potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, dan lainnya akibat hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang terus-menerus maupun dengan durasi lama,” kata Prakirawan

BMKG mengingatkan jika melihat awan tebal hitam dan hujan mulai rintik-rintik di daerah pegunungan, maka masyarakat disarankan untuk meninggalkan daerah lerengan serta wilayah aliran sungai.

Lebih lanjut, tak hanya berdampak pada daratan, aktivitas bibit siklon tropis 93B juga, sebut Amat, berpengaruh terhadap kondisi perairan barat Aceh. Pusaran angin di sekitar pusat tekanan rendah di Teluk Benggala, kata dia, menyebabkan peningkatan kecepatan angin permukaan dan gelombang laut di wilayah Samudra Hindia Barat Sumatera.

“Fenomena ini berpotensi meningkatkan risiko gelombang tinggi dan arus kuat, terutama di sekitar perairan Meulaboh, Calang, Tapaktuan, dan Sabang,” jelasnya.

BMKG mencatat, secara umum tinggi gelombang berada pada kategori sedang, yakni antara 0,5 hingga 2,5 meter. Namun, dampak tidak langsung dari bibit siklon tropis 93B dapat memicu gelombang mencapai 2,5 hingga 4 meter di Samudra Hindia Barat Aceh.

“Gelombang tinggi berpotensi terjadi di perairan barat Aceh akibat pengaruh bibit siklon tropis 93B. Kami mengimbau masyarakat pesisir, terutama nelayan dan penyedia jasa penyeberangan, agar mewaspadai kondisi ini dan tidak memaksakan berlayar jika cuaca memburuk,” pungkas Amat. (sep/min)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x