
RAKYAT ACEH | LHOKSEUMAWE : Cabai merah dan hijau ‘banjir’ di Kota Lhokseumawe, pasca bencana hidrometeorologi landa wilayah Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah. Harganya pun kian anjlok dari sempat mencapai Rp 250 ribu perkilogram diawal musibah alam itu. Kini petani jual hanya Rp 25 ribu perkilogram baik cabai merah maupun hijau, Minggu (21/12).

Beberapa petani asal bumi Gayo menjajakan cabai hasil panen mereka dengan membuka lapak dadakan di sisi jalan keluar dan masuk Kota Lhokseumawe. Untuk harga cabai dengan kondisi sedikit agak layu, dijual Rp 15 ribu perkilogram.
Pantauan Rakyat Aceh, setidaknya ada 5 titik lokasi lapak. Pertama di jalan keluar selepas jembatan Cunda. Disini ada enam penjual berjejer sisi timur jalan. Selain cabai merah, juga ada menjual jeruk, nenas, tomat dan buah durian.
Sedangkan di jalan masuk kota arah dari Cunda, terdapat empat titik. Ya, disisi barat jembatan masuk, depan terminal bus lama, depan Kantor Inspektorat Aceh Utara, dan sisi kanan hotel Singapore.
Seorang penjual cabai merah yang datang bersama dua keluarganya menyebut cabai dibawa dari Aceh Tengah, kawasan Ketol. “Iya, ini cabai dari Aceh Tengah. Tadi subuh sampai kemari. Maka masih segar cabainya,” kata Rusdi sambil mengisi cabai merah dalam plastic kresek yang dibeli seorang ibu-ibu dari Gampong Kuta Blang, Lhokseumawe.
“Sekarang harga kita jual untuk cabai merah kondisi segar Rp 25 ribu sekilo pak. Tapi yang ini, agak sedikit layu hanya Rp 15 ribu per kilogram,” paparnya.
Disebutkan, rata-rata pembeli hanya sekiloan saja walau harga saat ini sudah cukup murah. “Dari tadi ibu-ibu membeli sekilo. Tidak ada yang borong sampai 5 kg. Harga jual kami tidak melebih murah dari penjual di pasar-pasar. Harus sama juga,” pungkas Rusdi sembari menyebutkan harga cabai hijau juga sama Rp 25 ribu sekilo.
“ Cabai merahnya segar sekali. Saya setiap hari pulang lewat sini, tetap beli. Tetapi hanya setengah kilo saja. Ya, secukupnya saja,” ujar Ibu Rosma.
Dari pengakuan beberapa penjual, mereka tidak saja warga asli tanah Gayo, tetapi ada pula warga Aceh yang selama ini memiliki lahan di Ketol, Aceh Tengah dan Bener Meriah. “ Tomat merah ini hanya Rp 10 ribu sekilo. Dan, buah kol atau kubis 7 ribu sekilo, ujar Ahmad, petani wilayah Bener Meriah.
Disebutkan, bila kondisi kembali cepat normal, maka Ahmad bakal kembali ke Bener Meriah. Sebab, keluargamya masih menjaga rumah dan lahan milik mereka. Cabai yang dibawa ke Lhokseumawe, pengakuan dia, menggunakan sepeda motor.
“Lebih mudah membawa cabai ke mari satu karung besar dengan sepeda motor.,” pungkasnya yang mengaku sudah mencapai belasan tahun tinggal di Bener Meriah. (ung)
Tidak ada komentar