Persawahan di Kecamatan Seunedon terendam banjir, Ahad (23/11). Petani berharap adanya perhatian pemerintah setempat. istimewaRAKYAT ACEH | LHOKSUKON – Sebanyak 1.444 jiwa warga Aceh Utara terpaksa mengungsi dampak hujan dan sungai Krueng Pase meluap. Diantara pengungsi dilaporkan terdapat 54 ibu hamil, 310 balita, 84 Lansia dan lima menyandang disabilitas.

Tak hanya itu, ratusan hektar tambak dan puluhan hektar sawah juga terendam air terutama dikawasan Kecamatan Seunedon. Banjir kawasan ini melanda di 14 gampong. Ketinggian air rata-rata mencapai 30-50 cm.
Kepala BPBD Aceh Utara, Fuad Mukhtar, S. Sos, M.S.M membenarkan derasnya arus warga mengungsi dari tujuh kecamatan yang terdampak hujan deras sepanjang Jumat hingga Minggu.
Menurut Fuad Mukhtar, total korban banjir ada 2.070 KK atau 3.057 jiwa. Dengan rincian, di Kecamatan Tanah Jambo Aye, ada 494 jiwa pengungsi yang tersebar di lima titik.
“ Warga mengungsi di posko meunasah masing-masing,” kata Fuad kepada Rakyat Aceh, Ahad (23/11).
Sedangkan di Seunedon ada 14 gampong terdampak yaitu 566 kepala keluarga. Tetapi hanya warga gampong Ule Reubek Timu yang mengungsi sebanyak 725 jiwa. di Bale Dusun Keude.
Sementara di Kecamatan Banktiya ada 41 gampong terdampak atau 2.563 jiwa. Sedangkan pengungsi ada 225 jiwa dengan memanfaatkan rumah sanak saudara.
Di Kecamatan Muara Batu, banjir terdampak di lima gampong. Tidak ada arus pengungsian di wilayah paling barat Aceh Utara ini.
Lalu di Kecamatan Langkahan terdampak satu unit rumah rusak akibat abrasi tebing sungai di Dusun Pante Sejahtera. Hingga Minggu sore, Ka BPBD Aceh Utara, menyebutkan ada 6 lokasi titik pegungsian.
Bupati Aceh Utara, H Ismail A Jalil sudah memerintahkan Dinas Sosial pastikan logistic makanan untuk pengungsi. “Kita sudah membagi tim untuk memantau seluruh kerusakan yang disebabkan banjir,” kata Ayah Wa sapaan akrabnya.
Petani minta Perhatian Pemda
Sejumlah petani sawah di Kecamatan Seunedon berharap Pemerintah Daerah, memberikan perhatian khusus pada mereka. Pasalnya, persawahan mereka rusak tergenang air. Dalam sebuah media social yang diunggah berharap bantuan.
Ada pun bunyi dengan bahasa Aceh yang kental menyebutkan “Kepada Pemerintah Aceh Utara melalui dinas terkait tolong segera tanggulagi padi kami yang sudah ditanam belum kami bayar. Sementara kami sudah banjir. Ka Ngop “. (ung/min)
Tidak ada komentar