x

Danrem Ali Imran Tegaskan Larangan Simbol Separatis dan Serukan Penguatan Persatuan di Aceh

waktu baca 2 menit
Kamis, 20 Nov 2025 18:00 5 redaksi

RAKYAT ACEH | LHOKSEUMAWE – Komandan Korem 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Ali Imran, menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi radikalisme dan separatisme di Indonesia, termasuk di Provinsi Aceh. Hal itu disampaikan di hadapan ratusan pelajar dalam kegiatan komunikasi sosial (komsos) yang digelar di Gedung Jenderal Ahmad Yani, Korem 011/Lilawangsa, Lhokseumawe, Kamis (19/11/2025).

Kegiatan komsos bertema pembinaan komunikasi sosial adaptif tersebut bertujuan memperkuat sinergi antara TNI dan pelajar dalam mencegah radikalisme dan separatisme serta memperkokoh persatuan bangsa. Acara ini diikuti perwakilan siswa SMA, SMK, dan MAN se-Kota Lhokseumawe, bersama kepala sekolah, guru, dan perwakilan Dinas Pendidikan.

Kolonel Ali Imran, putra asli Aceh, kembali menegaskan larangan penggunaan bendera maupun simbol-simbol separatis di wilayah Indonesia.

“Ada aturan dan undang- undangnya. Siapa pun yang melanggar, perintah Kapolri jelas: harus ditindak. Di Indonesia hanya satu bendera yang boleh berkibar, yaitu Merah Putih,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa bahkan satuan militer sekalipun harus mendapatkan persetujuan pusat sebelum menggunakan lambang kesatuan. “Bendera Merah Putih adalah lambang negara yang bersifat sakral,” tambahnya.

Selain isu radikalisme, Danrem juga menyoroti maraknya kasus bullying yang masih menghantui lingkungan pendidikan. Ia menyebut perundungan sebagai cerminan dua hal: kegagalan sistem pendidikan menciptakan lingkungan aman, serta rendahnya literasi emosional siswa.

“Sering kali bullying dianggap sebagai candaan. Padahal dampaknya sangat serius. Banyak korban memilih diam, bahkan ada yang berhenti sekolah karena merasa tak berdaya,” tegasnya.

Bahas Program Pemerintah dan Peran Generasi Muda

Dalam kesempatan itu, Danrem menyampaikan bahwa pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto tengah mengupayakan peningkatan kesejahteraan rakyat di seluruh provinsi, termasuk Aceh. Ia menilai program unggulan nasional seperti MBG memerlukan dukungan seluruh pihak.

“Masukan itu baik, tapi bukan hanya bisa mencela. Semua butuh proses. Jiwa nasional Presiden Prabowo sangat luar biasa dan diakui dunia,” ujarnya.

Ia kemudian berpesan agar para pelajar mempersiapkan diri menjadi generasi penerus yang berwawasan kebangsaan. “Adik-adik adalah agen perubahan. Tugas menjaga persatuan tidak hanya pada TNI, tetapi membutuhkan sinergi seluruh masyarakat,” katanya.

Kegiatan komsos Korem 011/Lilawangsa mendapat antusiasme tinggi dari para pelajar dan guru. Mereka menilai edukasi mengenai radikalisme, persatuan bangsa, hingga isu bullying sangat relevan dengan kondisi yang sering viral di media sosial.

“Kasus bullying sering menyisakan kisah pilu yang tak terdengar. Edukasi seperti ini sangat dibutuhkan,” ungkap salah satu peserta. (arm/rif)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x