x

Dari Huntara Aceh Tamiang, Prabowo Tegaskan Negara Hadir di Garis Depan Pemulihan Pasca Bencana 

waktu baca 3 menit
Minggu, 22 Mar 2026 12:45 4 redaksi

ACEH TAMIANG | RAKYAT ACEH– Presiden Prabowo Subianto menunaikan salat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah bersama masyarakat di Masjid Darussalam, kawasan hunian sementara (huntara) Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Sabtu (21/3/2026). Momen tersebut menjadi penegasan kehadiran negara di tengah masyarakat yang tengah menjalani proses pemulihan pasca bencana.

 

Sejak pagi hari, ribuan warga telah memadati area masjid yang berada di lingkungan huntara. Presiden tiba dengan pengamanan terbatas dan langsung bergabung bersama sekitar 1.300 jamaah tanpa sekat, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat namun tetap khidmat.

 

Pelaksanaan salat Idulfitri dimulai pukul 07.30 WIB, dipimpin oleh imam Tengku Junaidi. Lantunan takbir, tahmid, dan tahlil menggema di kawasan tersebut, menghadirkan nuansa religius yang kuat sekaligus menjadi penguat spiritual bagi masyarakat yang tengah bangkit dari situasi sulit.

 

Khutbah Idulfitri yang disampaikan oleh Zulkhaizir mengangkat tema “Makna Idulfitri sebagai Wadah Menyatukan Hati, Menguatkan Negeri dalam Iman dan Taqwa (Pascabencana Alam)”. Dalam pesannya, khatib menegaskan bahwa Idulfitri bukan sekadar perayaan, melainkan momentum refleksi untuk memperkuat keimanan, kesabaran, dan keteguhan hati dalam menghadapi cobaan.

 

Ia juga mengajak masyarakat untuk menjadikan musibah sebagai sarana mempererat ukhuwah Islamiyah dan solidaritas sosial. “Dari ujian inilah kita belajar arti kebersamaan, saling menguatkan, dan membangun kembali dengan penuh harapan,” ujar khatib dalam khotbahnya.

 

Usai pelaksanaan salat dan khotbah, Presiden mengikuti kegiatan halalbihalal bersama masyarakat. Dalam suasana penuh kehangatan, Presiden menyapa warga satu per satu, bersalaman, serta berbincang singkat dengan sejumlah tokoh masyarakat dan keluarga penghuni huntara.

 

Momentum tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga mencerminkan pendekatan kepemimpinan yang humanis—hadir langsung di tengah rakyat, mendengar, dan merasakan kondisi yang dihadapi masyarakat.

 

Sebagai bentuk konkret dukungan pemerintah, Presiden turut menyerahkan bantuan secara simbolis kepada perwakilan warga. Bantuan tersebut meliputi perlengkapan ibadah, mushaf Al-Qur’an, serta pakaian layak pakai.

 

Selain itu, pemerintah juga menyalurkan bantuan sosial dalam bentuk paket sembako kepada warga huntara dan masyarakat sekitar. Total bantuan yang disiapkan mencapai sekitar 7.000 paket, yang diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama masa pemulihan.

 

Penyaluran bantuan ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam memastikan proses rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan seiring dengan pemulihan sosial dan ekonomi masyarakat terdampak.

 

Kehadiran Presiden di Aceh Tamiang pada hari raya Idulfitri tidak hanya memiliki makna simbolik, tetapi juga strategis. Di tengah momentum hari kemenangan umat Islam, negara menunjukkan perannya sebagai pengayom dan penguat, terutama bagi masyarakat yang tengah menghadapi tantangan pascabencana.

 

Langkah ini sekaligus mempertegas bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pemulihan mental, spiritual, dan sosial masyarakat.

 

Dengan semangat Idulfitri yang sarat nilai persatuan dan kepedulian, kunjungan Presiden menjadi pesan kuat bahwa pemulihan Aceh Tamiang adalah bagian dari tanggung jawab bersama antara pemerintah dan rakyat untuk bangkit lebih kuat dan tangguh di masa depan. (arm/ra)

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x