
RAKYAT ACEH | Aceh Tenggara : Tidak ada sirene. Tidak ada barisan resmi. Hanya sebuah mobil sederhana yang berhenti di tepi jalan becek menuju tenda pengungsian di Aceh Tenggara. Dari dalamnya, AKBP Yulhendri turun sambil menenteng beberapa dus nasi kotak.

Di belakangnya, beberapa personel menyusul, membawa sembako dan kantong berisi makanan ringan untuk anak-anak.
“Pak polisi datang lagi,” Inen Wen seorang ibu di pengungsian di Desa Benar Bepapah, Kecamatan Ketambe.
Bagi mereka yang telah bertahan selama 22 hari di pengungsian karena kehilangan rumah. Kehadiran Kapolres bukan lagi peristiwa seremonial. Sejak hari pertama banjir meluap dan memaksa warga meninggalkan rumah, AKBP Yulhendri hampir tak pernah absen. Kadang pagi, kadang menjelang sore. Datangnya tanpa janji, pulangnya sering membawa doa.
Di tenda pengungsian, anak-anak langsung mengerubungi plastik berisi biskuit dan susu sedikit makanan ringan lainnya. Beberapa di antaranya masih mengenakan pakaian yang sama sejak dua hari lalu. Yulhendri berjongkok, menyapa satu per satu, menepuk kepala mereka dengan canggung namun hangat. “Sudah makan?” tanyanya pelan.
Banjir di Aceh Tenggara bukan sekadar merendam rumah. Ia menghapus rutinitas, memindahkan kehidupan ke bawah terpal, dan menguji kesabaran banyak keluarga. Di tengah situasi itu, kehadiran yang konsisten sering kali lebih bermakna daripada pidato panjang.
“Beliau tidak cuma datang lihat-lihat,” ujar Aman Nipak (56), pengungsi yang rumahnya hancur diterjang banjir.
. “Selalu ada yang dibawa. Kadang nasi, kadang sembako. Yang penting kami merasa tidak sendiri.” melanjutkan kisahnya.
Dalam beberapa kunjungan, AKBP Yulhendri tak datang sendiri. Ia turut mengajak istrinya, Ketua Bhayangkari Cabang Aceh Tenggara, Ny. Ilma Yulhendri. Dengan kerudung sederhana, Ilma ikut menyapa para ibu pengungsi, menyerahkan bantuan, dan sesekali membantu membagikan makanan kepada anak-anak.
Dalam fragmen lain Ny. Ilma juga terlihat mengelap ingus anak korban banjir di pengungsian tersebut.
Tidak ada kalimat motivasi berlebihan. Hanya tatapan dan sentuhan yang cukup membuat mata si ibu berkaca-kaca.
Bagi Yulhendri, pengungsian bukan sekadar titik kunjungan dinas. Ia duduk, mendengar keluhan, dan menanyakan kebutuhan yang paling mendesak.
Tenda yang bocor, air bersih yang terbatas, anak-anak yang mulai batuk di malam hari. Catatan kecil itu ia simpan, lalu berusaha dicarikan jalan keluar.
“Kalau kami bisa datang hari ini, kenapa harus menunggu besok,” ujarnya AKBP Yulhendri suatu sore, sambil membantu personel membagikan nasi kotak.
Tidak ada nada heroik dalam suaranya. Hanya kesadaran bahwa empati tak bisa dijadwalkan.
Beberapa pengungsi bahkan sudah akrab memanggilnya dengan sebutan sederhana, “bapak”. Sebutan yang tak lahir dari jabatan, tetapi dari kebiasaan hadir. Dari kesediaan meluangkan waktu di tengah padatnya tugas kepolisian.
Banjir ini belum sepenuhnya usai. Air memang mulai surut dan meninggalkan jejak, lumpur dan sisa pondasi rumah yang berdiri di tepi sungai Alas, dan kecemasan belum benar-benar pergi.
Dua bulan lagi, Ramadan akan tiba. Banyak warga bertanya-tanya, apakah mereka akan menyambutnya di rumah atau masih di tenda pengungsian atau menunpang dirumah saudara – kerabat.
Menjelang magrib, AKBP Yulhendri pamit. Mobilnya perlahan meninggalkan lokasi pengungsian. Di belakang, anak-anak, dan kaum ibu – ibu melambaikan tangan sambil menggenggam biskuit. Para ibu kembali merapikan tikar. Malam akan datang, dingin akan turun, tetapi setidaknya hari ini mereka diperhatikan.
Di tengah bencana, empati sering hadir dalam bentuk paling sederhana, datang, mendengar, dan membawa sedikit beban orang lain. Dan di Aceh Tenggara, itu dilakukan berulang kali—tanpa janji, tanpa sorotan hingga menjadi kebiasaan. []
Tidak ada komentar