x

Demi UKW di Lhokseumawe, Tinggalkan Istri dan Anak di Daerah Terisolir

waktu baca 4 menit
Sabtu, 13 Des 2025 07:35 52 redaksi

Laporan : IDRIS BENDUNG

LHOKSEUMAWE |RAKYAT ACEH : “ Istri dan dua anak ku tinggalkan. Daerah itu masih terisolir pasca banjir dan longsor. Beras sulit diperoleh apalagi Bahan Bakar Minyak (BBM). Hanya do’a restu keluarga membuat aku tegar menghadapi bencana ini. Berawal Bismillah, langkah kaki kanan menuju Lhokseumawe, mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW)”

Itulah, Muhammadsyah (31) wartawan Media Lintas Gayo.com harus berjalan kaki seharian ditengah bukit-bukit longsor dan jembatan putus. Syukur setiba di Desa Seni Antara, ada orang berbaik hati hingga mengantarnya sampai kawasan Gunung Salak, Kabupaten Aceh Utara, hanya ingin membuktikan musibah bukan halangan dan membuat kita hidup lemah.

Mentari pagi bersinar keemasan terlihat di Desa Ujong Gele, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah. Di rumah hari itu, hanya sendiri Aman (panggilan orang tua-red) Ayasa (4) dan Aira (6 bln). Rasa kuatir akan keadaan keluarganya, Muhammadsyah bergegas ingin bertemu buah hati dan istri tercinta.

Bukit longsor menutupi badan jalan utama terjadi disana-sini. Itu belum lagi, jembatan yang sudah menyatu didasar jurang. Suami Sri Rahayu tetap melangkahkan kakinya ke Desa Resep Antara yang sampai Jum’at 12 Desember 2025 masih terisolir, pasca banjir, Rabu 26 November 2025.

Suami Rahayu berkisah, sehari sebelum bencana, mengunjungi keluarganya di Desa Resep Antara. Ayasa, Aira dan istri tigal di desa itu. Sedangkan Muhammdsyah kembali ke Desa Ujong Gle.

Langkah, pertemuan dan maut, siapa tahu. Hujan deras tak henti-hentinya. Longsor dan banjir pun terjadi. Wartawan Media Lintas Gayo ini, harus mengikuti UKW di Lhokseumawe, sekitar 145 km dari tempatnya tinggal. Setelah bertemu keluarga, berizin pamit mengikuti UKW.

Bismillah. Kamis sore 11 Desember tiba di Lhokseumawe. Sepeda motor harus ditinggalkan di Buntul. Kemudian berjalan kaki seharian menerobos longsoran dan jembatan putus Krueng Pase, lintasan KKA-Bener Meriah. Syukurnya di Desa Seni Antara, Kecamatan Permata, yang berubah menjadi pusat pasar pasca banjir, ada orang berbaik hati.

Menggunakan sepeda motor modifikasi khusus penjual BBM dadakan, Aman Ayasa diantar sampai ke posko tenda TNI di KM 42 perbatasan Bener Meriah dan Aceh Utara. Hanya hitungan menit, melintas mobil double cabin penuh dengan jerigen kosong untuk isi BBM di SPBU Batuphat, Lhokseumawe. Muhammadsyah dapat tumpangan. Bau menyengat Pertamax bercambur aroma solar menusuk hidung tak dihiraukan.

Dari SPBU Batuphat, Kecamatan Muara Satu, inilah, ojek mengantarnya sampai ke acara UKW gawean PWI Lhokseumawe di Hotel Green Sydney, Lhokseumawe. UKW diikuti 24 peserta di tiga kelas yaitu muda, madya dan utama. Muhammadsyah ikut jenjang wartawan Muda. UKW berlangsung selama dua hari, Jum’at- Sabtu, 12-13 Desember 2025 yang dibuka oleh Asisten III Pemko Lhokseumawe, dr Said Alam Zulfikar.

“ Jangan jadikan musibah banjir ini jadi alasan tidak ikut UKW. Kita tidak boleh mengalah. Ujian ini harus dilawan. Saya mengikuti ujian UKW berupaya meningkatkan kualitas dan kredibilitas sebagai wartawan,” papar Muhammadsyah panjang lebar – hingga mengisahkan saat bencana terjadi buah kopi lagi panen hingga cabai merah dikebunnya ngak tau dijual kemana.

Sedangkan penguji Drs Muhammad Syahril, anggota Kehormatan PWI Pusat, bersama Austin Tumengkol, Pimpinan Redaksi Harian Waspada, Medan. Dibantu Tarmilin Usman pemilik media online Berita Merdeka dan Adlin Naingolan, kata Ketua PWI Lhokseumawe, Sayuti Ahmad, Jum’at malam.

Raman Toa Pinjam Uang Anak

Usia sudah setengah abad. Abdul Raman masih ingin ikut UKW. Sosok wartawan tanah Gayo ini ingin menapak ke jenjang Utama. Uang disaku tak punya. Tapi niatnya mengebu-ngebu.Disapa Raman Toa, berkisah tak jauh beda dengan Muhammadsyah.

Bergerak dari Desa Blang Bebangka, Pegasing, Takengon, diantar kawan naik sepmor sampai Simpang Tiga Redelong, Bener Meriah. Kemudian berjalan kaki ke Buntul hingga Desa Seni Antara, Kecamatan Permata.

“Sebelum sampai Buntul saja, ada empat titik longsor. Selewat itu, ada tiga titik longsor lagi. Baru sampai Desa Seni Antara,” katanya.

Berbekal status wartawan anaknya pun sukses meraih sarjana. Sementara anak kedua duduk di bangku SLTA.

Ditengah perjalanan, ketemu anak tertua menjemput di Simpang KKA, Krueng Geukueh. Raman berpindah. Sepmor berjalan menuju arah timur dengan celana dan sepatu masih penuh lumpur.

Sampai di Hotel Grand Sydney, tanpa malu-malu malah pinjam uang sama anaknya.

“Nak pake duitmu dulu 400, besok mudah mudahan sudah ku ganti,” ujar Rahman Toa mengulang dengan bahasa khas Gayo kepada Rakyat Aceh.

Semoga sukses Aman Ayasa dan Raman Toa ikut UKW ditengah bencana Hidrometrologi. Informasi melalui media juga ibadah bagi kita. Aamin. *

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x