x

Epson dan IDC Rilis Fakta, Teknologi Digital Dye-Sublimation Jadi Kunci Percepatan Industri Textile Regional

waktu baca 3 menit
Jumat, 27 Feb 2026 14:26 4 redaksi

RAKYAT ACEH | JAKARTA — Epson kembali menegaskan posisinya sebagai pemimpin global teknologi pencetakan profesional dengan merilis whitepaper terbaru hasil kolaborasi bersama International Data Corporation (IDC) berjudul Digital Sublimation Printing: Driving Customer Value, Sustainability, and Growth.

Berdasarkan survei regional terhadap pemilik dan pengambil keputusan perusahaan cetak tekstil di Indonesia, Filipina, dan Thailand, laporan tersebut menyoroti peran strategis teknologi digital dye-sublimation dalam mentransformasi industri cetak tekstil Asia Tenggara.

Di tengah meningkatnya ekspektasi pelanggan, tekanan ekonomi, serta tuntutan keberlanjutan, pelaku industri kini beralih ke solusi digital canggih guna mempertahankan daya saing.

IDC mencatat lonjakan signifikan pengiriman printer digital dye-sublimation di kawasan Asia Pasifik dari kurang 1.500 unit pada 2017 menjadi proyeksi lebih dari 3.000 unit pada akhir 2025.

Permintaan terhadap produk tekstil yang dapat dikustomisasi dan ramah lingkungan menjadi pendorong utama. Sebanyak 44 persen responden survei menyebut efisiensi biaya untuk produksi skala kecil dan kustomisasi sebagai alasan utama adopsi teknologi ini.

Digital dye-sublimation dinilai unggul dalam menghasilkan warna cerah dan desain variatif, bahkan untuk produksi satuan. Hal ini menjawab kebutuhan pasar akan kualitas tinggi dengan waktu produksi lebih cepat.

Laporan tersebut juga menunjukkan perusahaan yang berinvestasi pada teknologi digital dye-sublimation mencatat pertumbuhan pendapatan delapan kali lebih cepat dibandingkan metode sablon konvensional.

Dalam periode 24 bulan, rata-rata pertumbuhan mencapai 8,4 persen, jauh di atas metode tradisional yang hanya sedikit di atas 1 persen.

Berbeda dengan sablon yang membutuhkan jumlah cetak minimum besar, teknologi ini memungkinkan produksi sesuai permintaan (on-demand) dalam skala kecil. Selain mencetak gulungan kain, penyedia jasa kini juga mampu memproduksi label dan tag tekstil berukuran kecil secara efisien.

Sebanyak 60 persen penyedia layanan cetak bahkan berhasil memperluas segmen pelanggan, mulai dari penyelenggara acara, pemilik merek, hingga desainer kain.

Meningkatnya tren aktivitas luar ruang seperti maraton dan hiking turut mendorong permintaan apparel dan sportswear kustom. Sebanyak 81 persen penyedia layanan cetak melayani pasar ini, terutama produk berbahan polyester yang ideal untuk teknologi dye-sublimation.

Selain apparel, peluang juga tumbuh di segmen homeware (36 persen) dan footwear (33 persen). Lebih dari separuh responden (52 persen) melaporkan peningkatan pengalaman pelanggan berkat waktu produksi yang lebih cepat dan kemampuan mencetak desain kompleks.

Laporan tersebut menegaskan komitmen industri terhadap praktik berkelanjutan. Tujuh dari sepuluh penyedia layanan cetak menyatakan keberlanjutan sebagai prioritas bisnis. Pada perusahaan yang sepenuhnya mengadopsi digital dye-sublimation, angka ini bahkan mencapai 88 persen.

Namun demikian, hanya sepertiga responden yang menilai pelanggan memiliki tingkat kepedulian yang sama. Hal ini menunjukkan perlunya edukasi dan komunikasi yang lebih kuat antara penyedia teknologi dan pelanggan.

Dari sisi operasional, 49 persen responden menyebut teknologi ini mendorong pertumbuhan bisnis, sementara 24 persen menilai mampu mengurangi dampak lingkungan. Bahkan 33 persen melaporkan peningkatan keselamatan kerja karena minimnya paparan tinta kimia dan emisi berbahaya.

Head of Vertical Business Epson Indonesia, Lina Mariani, mengatakan masih terdapat kesenjangan antara ambisi keberlanjutan penyedia layanan dan prioritas pelanggan.

“Momentum menuju pencetakan berkelanjutan terus menguat. Ini menjadi peluang bagi Epson untuk mengkomunikasikan manfaat bisnis, lingkungan, dan kesehatan dari praktik berkelanjutan secara lebih efektif,” ujarnya.

Menurutnya, digital dye-sublimation tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mengurangi konsumsi energi, membatasi paparan bahan kimia bagi pekerja, serta membuka peluang pasar bernilai tinggi.

“Melalui kemitraan dan integrasi teknologi hemat energi, kami ingin memberdayakan industri cetak Asia Tenggara agar lebih kompetitif sekaligus berkontribusi pada masa depan yang lebih berkelanjutan,” tutupnya

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x