x

Estetis! Huntara Kayu Polri Ubah Wajah Pasca-Banjir Aceh Tamiang

waktu baca 2 menit
Selasa, 7 Apr 2026 21:30 1 redaksi

​RAKYAT ACEH | ACEH TAMIANG – Wajah duka penyintas banjir bandang di Aceh Tamiang perlahan berganti optimisme. Proyek pembangunan hunian tetap (huntap) di Desa Simpang Kanan, Kecamatan Tenggulun, kini menjadi sorotan. Bukan sekadar deretan rumah bantuan biasa, hunian ini tampil memukau dengan sentuhan estetika yang berbeda.

​Sebanyak 150 unit huntap digarap cepat dengan dukungan penuh Mabes Polri. Uniknya, sebagian hunian dibangun memanfaatkan kayu sisa material bencana yang masih layak guna. Hasilnya kesan kaku khas konstruksi baja ringan menghilang, berganti nuansa hunian kayu yang hangat dan artistik.

​Hingga Senin (6/4), progres fisik pembangunan telah menembus angka 50 persen. Bupati Aceh Tamiang, Armia Pahmi menegaskan bahwa percepatan adalah harga mati agar warga tidak terkatung-katung di pengungsian.

​”Kami ingin warga segera mendapat kepastian tempat tinggal. Hidup harus kembali normal secepat mungkin,” tegas Armia saat meninjau lokasi bersama jajaran Forkopimda.

​Dengan perpaduan konstruksi beton dan kayu yang standar kelayakannya diawasi ketat, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang optimistis pemulihan pascabencana ini akan tuntas dan tepat sasaran. Targetnya jelas warga bangkit dengan hunian yang lebih layak, aman, dan bermartabat.

​Meski dikebut, ujar Armia, aspek sosial tidak ditinggalkan. Di Kampung Suka Jadi, Kecamatan Kota Kualasimpang, pemerintah tengah merampungkan 45 unit hunian sementara (huntara). Sasaran utamanya adalah warga yang sebelumnya tidak memiliki aset tanah, seperti penyewa atau mereka yang tinggal di lahan HGU.

​Ada tantangan menarik dalam relokasi ini. Sebagian warga yang sempat dipindah ke Kampung Upah memilih kembali ke desa karena merasa jauh dari lingkungan asal. Menanggapi hal itu, Armia menekankan pentingnya pendekatan yang memanusiakan warga.

​”Kami tidak hanya membangun fisik bangunan, tapi memastikan mereka nyaman dan tidak tercerabut dari akar sosialnya. Titik temu itulah yang sedang kami kunci,” tambahnya.

​Sembari menunggu bangunan rampung 100 persen, bantuan kebutuhan pokok terus diguyur ke titik-titik transisi seperti di Kecamatan Kejuruan Muda. Di sana, warga sudah mulai menghuni unit-unit awal dan mencoba kembali merajut aktivitas ekonomi. (ddh)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x