x

In Memoriam Ir. Khaidil Anwar: Punggawa Organisasi ICMI Aceh yang Santun dan Tak Tergantikan

waktu baca 5 menit
Senin, 24 Nov 2025 18:56 82 redaksi

Oleh: Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh

Dalam panggung sejarah organisasi, seringkali sorotan hanya ditujukan pada para pemimpin yang berada di garda terdepan. Namun, di balik panggung yang terang itu, ada sosok-sosok yang menjadi penopang utama, poros kesetiaan, dan memori hidup yang menjamin keberlangsungan organisasi. Mereka adalah punggawa induk semang yang menggerakkan roda organisasi dengan sunyi dan pasti. Di Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Aceh, sosok itu adalah almarhum Ir. H. Khaidil Anwar. Kepergiannya pada Kamis 19 November 2025 yang mendadak pukul 22.20 WIB di usia 62 tahun bukan sekadar duka biasa, melainkan sebuah kehilangan struktural yang meninggalkan ruang hampa yang sulit terisi. Ia adalah arsitek di balik layar, sekaligus eksekutor yang menjadi satu-satunya penggerak utama administrasi ICMI Aceh sejak organisasi ini berdiri.

Konsistensi di Tengah Gelombang Perubahan Kepemimpinan

Data dan fakta berbicara tentang ketekunan dan dedikasi yang luar biasa. Sebagai Pimpinan Sekretarian, beliau menjadi saksi sekaligus pelaku utama dalam perjalanan ICMI Aceh melayani peralihan kepemimpinan dari masa Gubernur Aceh Prof. Dr. Syamsuddin Mahmud hingga kini Dr. Taqwadin, S.H., M.H. Setiap pemimpin membawa karakter, gaya, dan visi yang berbeda. Menjembatani perbedaan ini membutuhkan lebih dari sekadar keterampilan administratif; ia memerlukan kecerdasan emosional, kesabaran, dan kebijaksanaan yang tinggi. Khaidil Anwar adalah master dalam hal ini.

Kemampuannya untuk “mengimbangi” berbagai karakter pemimpin, seperti yang penulis saksikan, adalah kunci mengapa pelaksanaan organisasi selalu berjalan lancar. Ia adalah penyeimbang yang memastikan bahwa roda organisasi tidak tergelincir oleh dinamika internal. Dalam perannya ini, ia bukan hanya sekretaris, melainkan juga penasihat informal, peredam konflik, dan pemastinya bahwa berbagai ketentuan organisasi dijalankan dengan baik dan bijaksana. Fakta bahwa organisasi sekompleks ICMI dapat bertahan dan berkembang melalui berbagai periode kepemimpinan adalah bukti nyata (evidence) dari kinerja dan diplomasi internal yang solid yang dipelopori oleh Khaidil Anwar.

Jaringan dan Efektivitas Komunikasi: Simpul Penghubung yang Efisien

Fakta lain yang tak terbantahkan adalah jaringannya yang luas dan efektif. Hampir semua anggota hingga pengurus inti ICMI Orwil Aceh merasakan sentuhannya. Kinerjanya “terbukti secara nyata” dalam melaksanakan komunikasi dan menjalankan Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) dengan Pengurus Pusat dan Pengurus Daerah. Dalam struktur organisasi vertikal dan horizontal seperti ICMI, peran seorang administrator seperti Khaidil Anwar adalah nyawa dari seluruh operasional. Ia adalah simpul yang menghubungkan kebijakan pusat dengan eksekusi di daerah, memastikan bahwa aspirasi bawah terdengar oleh atas, dan sebaliknya, instruksi dari pusat dapat diimplementasikan dengan konteks lokal yang tepat.

Ia adalah wajah ICMI Aceh yang sebenarnya, seorang yang santun dalam berkomunikasi, rendah hati dalam bersikap, namun sangat profesional dan teguh dalam prinsip organisasi. Kepiawaiannya dalam menjaga hubungan dengan semua pihak menjadikannya aset tak ternilai yang memperlancar arus informasi dan kolaborasi.

Keteladanan: Kesantunan yang Menaklukkan Status Sosial

Mungkin, pelajaran paling berharga yang ditinggalkan almarhum adalah keteladanan hidupnya. Berasal dari keluarga berada, ia justru memilih jalan pelayanan tanpa pamrih. Dalam dunia yang seringkali mengagungkan gengsi dan pencitraan, sikapnya yang tanpa malu dan tanpa gengsi dalam menjalankan tugas-tugas administrasi yang kerap dianggap remeh adalah sebuah revolusi kesadaran. Ia membuktikan bahwa kesantunan dan kerendahan hati bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan sejati yang mampu membangun otoritas tanpa perlu menggertak dan memimpin tanpa perlu memerintah.

Nilai-nilai ini tidak hanya teori. Penulis, yang mengenal beliau sejak masa mahasiswa dan bersama-sama berkiprah di Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK) Aceh, hingga mengikuti pelatihan pengelolaan Baitul Qiradh di Jakarta dan magang di berbagai Baitulmal Wattanwil (BMT) di Jabodetabek, adalah saksi hidup bagaimana nilai-nilai itu dijalankan dalam keseharian. Perjalanan panjang bersama dalam dunia pemberdayaan ekonomi syariah ini semakin mengukir kesan mendalam tentang integritas dan ketulusannya.

Pengabdian Sampai Detik Terakhir: Sebuah Epilog yang Penuh Makna

Kisah terakhir perjalanannya ke Aceh Tamiang, yang penulis alami secara langsung, adalah gambaran sempurna dari komitmen dan ketulusannya. Meski sudah menunjukkan gejala tidak enak badan mual dan muntah di Cek GU Kupi Sare semangatnya untuk melaksanakan tugas melantik Pengurus ICMI Orda Aceh Tamiang tak pernah pupus. Ia bahkan tampak segar kembali setelah sholat Maghrib dan Isya, seolah mengabaikan ketidaknyamanannya sendiri demi misi organisasi.

Detik-detik terakhirnya di Kafe Gapthat, SPBU Teupin-punti, Aceh Utara, sangat mengharukan dan penuh makna. Sebagai ketua rombongan, dengan penuh tanggung jawab, ia masih menawarkan untuk beristirahat sejenak. Setelah menghabiskan teh panas dalam keadaan yang terlihat sehat, ia pun berpulang dengan tenang. Kepergiannya di tengah perjalanan dinas, dalam posisi sebagai seorang pemimpin yang peduli pada rombongannya, seolah menjadi simbol final dari sebuah pengabdian yang tidak kenal waktu dan tempat. Perjalanan untuk melantik pun harus berubah arah, untuk mengantarkan sang punggawa setia kembali ke rumahnya yang terakhir di Banda Aceh, untuk kemudian dikebumikan dengan penuh penghormatan di Lampreh, Ingin Jaya, Aceh Besar.

Warisan yang Abadi: Kosongnya Kursi Sang Punggawa

Ir. Khaidil Anwar telah pergi. Ruang kerjanya kini kosong, arsip-arsipnya telah diam, dan teleponnya tak lagi berdering menjawab panggilan tugas. Namun, warisannya yang paling abadi bukanlah pada dokumen-dokumen yang ia tinggalkan, melainkan pada telanan tentang integritas, kesantunan, dan dedikasi sejati. Ia meninggalkan sebuah ruang kosong yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga moral dan spiritual dalam tubuh ICMI Aceh.

Punggawa seperti dia tidak lahir setiap hari; ia dibentuk oleh komitmen panjang, kecintaan yang mendalam pada organisasi, dan ketulusan hati dalam melayani. Selamat jalan, sahabat yang santun dan penuh bersahaja. Jejak langkahmu telah mengukir kedamaian dan ketertiban bagi ICMI Aceh. Semoga Allah SWT meridhai segala ikhtiarmu, mengampuni segala khilafmu, dan mempertemukan kita kelak di Surga Jannatunna’im, tempat peristirahatan yang abadi bagi para pejuang yang ikhlas seperti dirimu. Terima kasih untuk semua pelajaran tentang makna ketulusan dan kerendahan hati. ICMI Aceh kehilangan sebuah pilar, namun semangatmu akan terus hidup dalam setiap nafas dan langkah organisasi yang kau cintai ini. <apridar@usk.ac.id>

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x