x

ISRF 2025: Kolaborasi Global Tekan Emisi Sektor Beras

waktu baca 3 menit
Senin, 17 Nov 2025 19:53 7 redaksi

RAKYAT ACEH | JAKARTA  – Upaya global menekan emisi dari sektor pangan kembali mengerucut pada komoditas paling strategis: beras. Di tengah tantangan perubahan iklim, Preferred by Nature bersama Sustainable Rice Platform (SRP), Rikolto, dan International Rice Research Institute (IRRI) menggelar International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 di Jakarta, 17–18 November 2025.

Forum internasional perdana ini menjadi ruang pertemuan para pemimpin dan pelaku sektor pangan dari berbagai negara untuk mempercepat transformasi praktik pertanian padi yang lebih hijau, efisien, dan mendukung kesejahteraan petani.

Beras, sebagai makanan pokok lebih dari separuh penduduk dunia, ternyata menjadi salah satu penyumbang signifikan emisi gas rumah kaca global. Laporan World Resources Institute mencatat, budidaya padi menyumbang 1,0 gigaton CO₂ ekuivalen setiap tahun, sebagian besar akibat pola pengairan dan penggunaan agrokimia yang tidak efisien.

Situasi ini membuat adopsi praktik pertanian berkelanjutan menjadi agenda mendesak, tidak hanya untuk mitigasi iklim tetapi juga untuk ketahanan pangan jangka panjang. Mengangkat tema “Low Carbon Rice. High Global Impact”, ISRF 2025 membuka diskusi besar tentang masa depan sistem pangan global.

Menteri Koordinator Bidang Pangan, DR (HC) Zulkifli Hasan dalam keynote speechnya menegaskan komitmen pemerintah Indonesia untuk memperkuat kedaulatan pangan melalui produksi beras, jagung, dan protein yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Ia menyebut dalam lima tahun ke depan pemerintah membangun sektor pertanian secara masif mulai dari pengembangan varietas unggul, mekanisasi, hingga teknologi baru dengan melibatkan kolaborasi internasional.

“Tujuannya jelas: memastikan pangan bergizi dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat Indonesia,” kata Zulkifli Hasan, Senin (17/11/2025).

Dukungan serupa datang dari Uni Eropa. Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, H.E. Denis Chaibi, menegaskan komitmen mendukung produksi beras berkelanjutan melalui program SWITCHAsia.

“Kami mendorong praktik yang lebih hijau, memperkuat rantai nilai regional, dan mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat,” kata Chaibi.

Selama dua hari penyelenggaraan, forum ini mempertemukan pembuat kebijakan, petani, penggilingan, lembaga riset hingga donor internasional. Mereka berbagi pengalaman, inovasi dan arah kebijakan global terkait produksi beras rendah karbon.

Executive Director Preferred by Nature, Peter Feilberg, menyebut peluang besar sektor beras untuk membawa perubahan positif.

“Kita sudah memiliki ilmu dan solusinya. Yang kita butuhkan adalah menjembatani sains, kebijakan, dan praktik lapangan,” ujarnya.

Hadir tokoh global seperti Dr. Yvonne Pinto (IRRI), Jens Soth (SRP), Ajit Radakrishnan (World Bank 2030 WRG), hingga perwakilan FAO turut hadir. Diskusi panel hingga breakout session mengangkat isu mulai dari peluang produksi beras berkelanjutan di Asia, akses pasar, digitalisasi, pembiayaan, hingga kebijakan nasional yang menyelaraskan ketahanan pangan dan agenda iklim.

Indonesia sendiri berada pada posisi strategis sebagai salah satu produsen beras terbesar di dunia. Melalui Proyek Low Carbon Rice, Indonesia menjadi pusat inisiatif penerapan pertanian berkelanjutan.

Dalam empat tahun terakhir, proyek ini telah melibatkan ribuan petani dan memfasilitasi transformasi di tingkat penggilingan dan lahan. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, program ini antara lain berhasil membantu 67 penggilingan kecil beralih dari diesel ke listrik dan menggandeng 2.650 petani di area 1.037 hektare.

Ketua Umum PERPADI, Sutarto Alimoeso, menegaskan penggilingan juga memegang peran besar dalam menurunkan emisi. Peralihan mesin diesel ke listrik, katanya, mampu menekan biaya operasional hingga 40 persen dan mengurangi emisi sekitar 15 persen.

“Ini wujud nyata transformasi menuju sistem produksi beras rendah karbon. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, praktik ini bisa diperluas,” pungkasnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x