x

Jembatan Tak Kunjung Dibangun, Warga Pining Bertaruh Nyawa Setiap Hari Demi Bertahan Hidup

waktu baca 2 menit
Jumat, 3 Apr 2026 18:12 2 redaksi

Gayo Lues (RA) — Luka masyarakat Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, belum juga sembuh pasca bencana hidrometeorologi. Alih-alih membaik, penderitaan justru kian dalam. Jembatan yang menjadi satu-satunya akses vital hingga kini tak kunjung terwujud, menyisakan kisah pilu yang terus berulang setiap hari.

Bagi warga Pining, kehidupan bukan lagi sekadar bertahan, melainkan perjuangan melawan risiko maut. Anak-anak terpaksa menyeberangi sungai demi menggapai pendidikan. Orang sakit harus dipapah melintasi arus untuk mendapatkan penanganan medis. Sementara para petani memikul hasil bumi di pundak, menembus derasnya air demi menyambung hidup.

Semua itu hanya bisa dilakukan saat sungai bersahabat. Namun ketika banjir datang, aktivitas lumpuh total. Warga hanya bisa pasrah menunggu air surut, sementara kebutuhan hidup terus mendesak.

Tak berhenti di situ, ancaman banjir masih terus menghantui. Desa Pertik dan Pining kembali dilanda banjir dalam waktu dekat ini akibat sungai yang kerap meluap. Kondisi tersebut semakin memperparah tekanan hidup masyarakat—ekonomi terpuruk, pendidikan terganggu, dan layanan kesehatan kian sulit dijangkau.

“Kami hanya ingin hidup layak. Jangan biarkan kami terus menderita. Janji demi janji sudah sering kami dengar, tapi hingga hari ini belum juga terealisasi,” ungkap Usman, salah satu pemuda Pining, Jumat (3/4), dengan nada penuh harap.

Ia meminta perhatian serius dari pemerintah, mulai dari Kepala BNPB, Kementerian PUPR, Pemerintah Aceh, hingga Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, agar segera membangun jembatan dan melakukan normalisasi sungai.

Sementara itu, Wakil Bupati Gayo Lues, H. Maliki, menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah berulang kali mengusulkan pembangunan jembatan tersebut. Setidaknya tiga kali proposal telah diajukan ke BNPB, PUPR Aceh, hingga Kementerian PU.

“Awalnya direncanakan jembatan gantung, lalu berubah menjadi jembatan baelly sambil menunggu jembatan permanen. Namun hingga kini belum juga terealisasi,” diselah-selah jelasnya dalam sidang Paripurna LKPJ Bupati Tahun 2025.

Ia menambahkan, posisi jembatan berada di ruas jalan provinsi yang menjadi kewenangan Pemerintah Aceh, sehingga pemerintah kabupaten tidak dapat mengalokasikan anggaran secara langsung tanpa melanggar prosedur.

Meski demikian, pemerintah daerah mengaku tidak tinggal diam dan terus berupaya berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait agar persoalan ini segera mendapatkan solusi.

Di balik tumpukan janji dan birokrasi, masyarakat Pining masih setia menunggu—menanti hadirnya jembatan yang bukan sekadar penghubung jalan, tetapi juga harapan untuk hidup yang lebih manusiawi. (yud/mar)

Masyarakat pining yang sedang sakit dipapah melintasi arus sungai untuk mendapatkan penanganan medis. Foto: Ist

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x