x

Kerugian Bencana Aceh Utara Tembus Angka Rp27,4 Triliun “Pemkab Finalisasi Rencana Rehab dan Rekon”

waktu baca 3 menit
Rabu, 21 Jan 2026 17:53 57 redaksi

RAKYAT ACEH | ACEH UTARA – Pemerintah Kabupaten Aceh Utara mencatat total kerugian akibat bencana hidrometeorologi berupa banjir dan longsor mencapai Rp27,405 triliun. Angka tersebut merupakan hasil pemetaan awal yang dibahas dalam Rapat Koordinasi Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) terkait finalisasi Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana (R3P).

Rapat berlangsung di Aula Pendopo Bupati Aceh Utara, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe, Rabu (21/1) pagi, dan dipimpin langsung oleh Bupati Aceh Utara Ismail A. Jalil.

Plt Sekretaris Daerah Aceh Utara, Jamaluddin, mengatakan bahwa pembahasan tersebut merupakan tahap akhir dari penyusunan data awal sebelum disampaikan ke Pemerintah Provinsi Aceh.

“Ini sudah dua kali desk di provinsi dan hari ini merupakan finalisasi data awal. Selanjutnya akan kita sampaikan ke Pemerintah Aceh,” ujar Jamaluddin kepada Rakyat Aceh, Rabu (21/1).

Ia menjelaskan, dokumen tersebut akan menjadi dasar bagi tim terpadu yang melibatkan BNPB, TNI/Polri, serta unsur sipil di bawah koordinasi Pemkab Aceh Utara untuk melakukan verifikasi dan validasi langsung ke lapangan.

“Dokumen ini akan menjadi dokumen awal. Tim akan segera turun ke lapangan untuk memastikan akurasi data kerusakan dan kerugian yang telah kita sampaikan,” jelasnya.

Rapat Forkopimda tersebut turut dihadiri Dandim 0103/Aceh Utara Letkol Arh Jamal Dani Arifin, Kapolres Lhokseumawe AKBP Dr. Ahzan, perwakilan Kapolres Aceh Utara, Kejaksaan Negeri Aceh Utara, serta perwakilan DPRK Aceh Utara, perwakilan BNPB, Plt Sekda, para asisten, para kepala SKPK, para camat dan unsur terkait lainnya.

Infrastruktur Rusak Parah, Ribuan Rumah Tak Layak Huni

Jamaluddin mengungkapkan, hasil pemetaan menunjukkan kerusakan dan kerugian meliputi berbagai sektor, mulai dari perumahan, infrastruktur, ekonomi, sosial, hingga sektor lintas lainnya.

“Itu hasil mapping kita di lapangan. Seluruh kerugian masyarakat telah kita input, baik sektor perumahan, infrastruktur, ekonomi, sosial, dan sektor lainnya,” katanya.

Sektor infrastruktur menjadi yang paling terdampak. Sejumlah ruas jalan, jembatan, serta fasilitas publik mengalami kerusakan berat, sehingga menghambat aktivitas masyarakat dan distribusi logistik.

Selain itu, puluhan ribu unit rumah warga terdampak, dengan sebagian besar mengalami kerusakan berat bahkan hanyut, sehingga tidak lagi layak huni. Kemudian juga rumah warga mengalami rusak sedang dan ringan.

9.707 KK Terdampak Berat, Pemerintah Siapkan Huntara dan DTH

Berdasarkan hasil pemetaan, tercatat 9.707 kepala keluarga (KK) mengalami kerusakan rumah kategori berat dan hanyut akibat bencana yang terjadi pada 26 November 2025 lalu.

Untuk penanganan sementara, pemerintah membagi klasifikasi kerusakan rumah menjadi rusak berat/hilang, rusak sedang, dan rusak ringan. Bagi warga dengan rumah rusak berat dan hanyut, pemerintah menyiapkan Hunian Sementara (Huntara) serta Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp600 ribu per bulan selama tiga bulan.

Dana itu khusus diberikan kepada warga yang tidak mau tinggal di Huntara, dan dibolehkan tinggal dirumah sanak keluarganya atau menyewa rumah.

“Untuk rumah rusak berat dan hanyut, saat ini sedang dalam proses pembangunan huntara. Ada juga warga yang menerima DTH sambil menunggu hunian tetap,” terang Jamaluddin.

Saat ini, sekitar 1.500 unit Huntara telah dibangun dan sedang dibangun serta sebagian lainnya masih dalam proses penyelesaian di sejumlah titik, antara lain Kecamatan Langkahan, Lapang, Sawang dan beberapa lokasi lainnya.

Pemkab Aceh Utara menargetkan seluruh pengungsi sudah dapat menempati Huntara sebelum bulan suci Ramadan, sembari menunggu pembangunan Hunian Tetap (Huntap), baik di lokasi awal maupun melalui relokasi.

“Target kita sebelum pertengahan Februari, seluruh pengungsi sudah berada di huntara, sambil menunggu proses pembangunan hunian tetap,” pungkasnya.

Pertanian dan Perikanan Ikut Terpukul

Bencana juga berdampak signifikan pada sektor pertanian dan perikanan. Puluhan ribu hektar sawah terendam banjir dan mengalami gagal panen, sementara tambak ikan dan udang rusak parah. Kondisi ini dikhawatirkan akan memengaruhi pendapatan masyarakat serta ketahanan pangan lokal dalam beberapa waktu ke depan. (arm/ra)

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x