Warga Samar Kilang memilah bibit tanaman dan sayuran untuk ditanam. (FIRHAN/RAKYAT ACEH)RAKYAT ACEH | BENER MERIAH – Masyarakat Kemukiman Samar Kilang, Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah, perlahan bangkit dari krisis pangan pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda wilayah mereka pada November 2025 lalu.

Meski akses jalan menuju desa masih rusak parah, warga mulai menata kembali harapan dengan menanam berbagai jenis sayuran untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bencana hidrometeorologi tersebut sebelumnya merusak kebun dan sawah milik warga, menyebabkan gagal panen dan kerugian besar. Kondisi ini sempat memicu kekhawatiran akan krisis pangan, mengingat Samar Kilang berada jauh dari ibu kota kabupaten, Simpang Tiga Redelong, dengan waktu tempuh sekitar tiga jam perjalanan darat pada kondisi normal.
Namun pascabencana, akses menuju wilayah tersebut semakin sulit. Sejumlah titik jalan mengalami longsor dan amblas, sehingga distribusi bahan pangan dari luar desa menjadi sangat terbatas.
Di tengah keterbatasan tersebut, warga Samar Kilang memilih bangkit dengan mengandalkan potensi sendiri. Mereka mulai kembali menanam berbagai jenis sayuran seperti cabai, bayam, kangkung, tomat, timun, sawi, hingga jagung untuk konsumsi harian.
Riski, salah seorang pemuda Samar Kilang, mengaku senang dan terbantu dengan adanya bantuan bibit tanaman yang diterima warga. Menurutnya, bantuan tersebut sangat berarti dalam upaya memulihkan kondisi pangan masyarakat pascabencana.
“Dengan adanya bibit ini, kami bisa kembali menanam dan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Ini sangat membantu warga agar tidak terlalu bergantung pada pasokan dari luar,” ujar Riski, Ahad (1/2).
Bantuan bibit tersebut disalurkan oleh LSM Katahati Institute. Selain membagikan sembako kepada warga terdampak bencana, lembaga tersebut juga memberikan berbagai bibit tanaman dan sayuran sebagai langkah jangka menengah untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat.
Melalui upaya ini, warga Samar Kilang kini memiliki harapan baru untuk keluar dari ancaman krisis pangan. Aktivitas bercocok tanam yang kembali menggeliat menjadi simbol kebangkitan masyarakat pascabencana. (fir/min)
Tidak ada komentar