Ketua JASA Bireuen, Tgk Mauliadi, memakai baju toga wisuda.RAKYATACEH | BIREUEN – Sebuah kisah inspiratif datang dari Universitas Islam Aceh (UIA). Mauliadi SH, yang merupakan anak dari kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan sekarang menjabat sebagai Ketua Jaringan Aneuk Syuhada Aceh (JASA) Kabupaten Bireuen, resmi menyelesaikan pendidikan sarjana hukumnya di kampus UIA.

Hal tersebut dibuktilan dengan keikutsertaan Mauliadi dalam Rapat Senat Terbuka Wisuda Sarjana dan Magister Angkatan XXXVII Tahun Akademik 2024/2025, yang berlangsung di Auditorium Tgk Abdurrahman, UIA Peusangan Bireuen pada Sabtu, 18 Oktober 2025 kemarin.
Lulusan Fakultas Hukum ini juga dikenal aktif di JASA Bireuen, sebuah lembaga sosial yang fokus pada pemberdayaan masyarakat pascakonflik dan isu kemanusiaan.
Dalam prosesi wisuda, Tgk Mauliadi terlihat menahan haru. Ia mengenang perjuangan panjang yang harus dilaluinya sebagai anak korban perang yang tumbuh dalam situasi sulit.
“Ayah saya korban konflik, saya anak kombatan, tapi saya tidak mau masa lalu menjadi penghalang untuk menuntut ilmu dan berbuat baik bagi masyarakat,” ujar Tgk Mauliadi kepada Rakyat Aceh, Selasa (21/10).
Bagi Muliadi, menyelesaikan kuliah bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi simbol kebangkitan generasi pascakonflik Aceh yang bertekad membangun daerah melalui pendidikan dan perdamaian.
Ia mengaku, selama menempuh studi sering menghadapi kendala ekonomi dan sosial, namun dukungan keluarga dan semangat perubahan, membuatnya mampu bertahan hingga berhasil meraih gelar sarjana hukum.
Sebagai Ketua JASA Bireuen, Tgk Muliadi berkomitmen melanjutkan perjuangannya di bidang sosial dan hukum. Ia berharap, lembaganya bisa menjadi wadah memperjuangkan hak-hak masyarakat kecil, korban konflik, dan generasi muda Aceh yang masih tertinggal dalam pendidikan.
“Saya ingin membuktikan bahwa anak kombatan GAM juga bisa berkontribusi positif untuk bangsa. Bukan dengan senjata, tapi dengan pena dan ilmu,” tegasnya.
Kisah Tgk Mauliadi menjadi gambaran nyata bahwa pendidikan adalah jalan rekonsiliasi terbaik bagi Aceh. Dari reruntuhan perang, lahir semangat baru untuk membangun masa depan yang damai, berkeadilan, dan bermartabat.
Profil Mauliadi :
Mauliadi merupakan putra dari Sulaiman Umar dan Darmawati Nurdin, kelahiran Tanjong Raya, Kecamatan Gandapura, 25 Oktober 1987. Pada 2004 silam, Sulaiman Umar meninggal dunia dalam sebuah pengepungan masa konflik di Leubu Kuta Barat, Kecamatan Makmur, Kabupaten Bireuen.
Almarhum merupakan Panglima Sagoe Chiek Muda Madhasan D IV. Ia meninggalkan 5 orang anak, salah satunya Tgk Mauliadi, anak tertua yang ditinggalkan. Sejak remaja, ia menempuh hidup dengan kemandirian, tanpa ada yang bisa diharapkan.
Ibunya Darmawati harus menanggung beban sendiri, dan menafkahi 4 orang adiknya yang masih kecil, sejak suaminya ditembak dalam masa konflik.
Tak mau membebani ibunya, Tgk Mauliadi sudah mengarungi kehidupan sendiri sejak umur 15 tahun tanpa berharap kepada ibu Darmawati lagi yang harus menjaga dan merawat 4 orang adiknya.
Tgk Mauliadi menjalani hidup sembari menuntut ilmu hingga 2007 silam. Bertahun-tahun mondok di dayah, ia pulang kampung dan menikahi seorang gadis cantik jelita bernama Nurlina Yusuf. Pasangan tersebut dikarunia 3 anak, terdiri dari 1 laki-laki, dan 2 perempuan.
Mereka hidup dengan kesederhanaan dan diberi tanggung jawab oleh masyarakat menjadi Imam Gampong di Tanjong Raya selama 10 tahun sejak 2009 hingga 2019.
Pada tahun 2021, Tgk Mauliadi dipercaya menjadi Keuchik Gampong Tanjong Raya hingga saat ini. Selain menjabat sebagai keuchik, Tgk Mauliadi sekarang juga dipercaya sebagai Ketua APDESI Gandapura, dan Ketua JASA Kabupaten Bireuen. (akh)
Tidak ada komentar