x

Ketua PMI Bireuen: Jangan Biarkan Politik Membutakan Mata Kita dari Tetes Keringat Bupati di Tengah Banjir Bandang

waktu baca 2 menit
Jumat, 20 Mar 2026 07:58 1 redaksi

Rakyat Aceh | Bireuen – Di tengah riuhnya tanggapan politik dari Anggota DPR RI, H Ruslan Daud (HRD), Ketua PMI Bireuen, Edi Saputra SH, hadir membawa pesan kesejukan yang menyentuh nurani. Sosok yang akrab disapa Edi Obama ini mengajak semua pihak untuk sejenak meninggalkan jubah politik dan melihat dengan mata hati.

 

“Saya berdiri di sini bukan sebagai politisi, tapi sebagai relawan yang melihat langsung bagaimana derita rakyat saat bencana menghantam. Hati saya terenyuh jika kita begitu mudah mengkritik, namun lupa siapa orang pertama yang berlari menembus kegelapan malam saat banjir bandang pertama kali menyapa Bireuen,” ujar Edi Saputra melalui siaran persnya, Jumat (20/3).

 

Edi mengisahkan kembali momen-momen sulit saat banjir melanda, di mana sosok Bupati Bireuen hadir bukan sekadar untuk berfoto, melainkan untuk merasakan dinginnya air dan lumpur bersama warga yang ketakutan.

 

“Beliau adalah orang pertama yang turun ke lapangan. Saat semua orang masih terlelap atau hanya bicara di kejauhan, Bupati sudah berada di tengah genangan, memastikan nyawa rakyatnya selamat. Bupati tidak menunggu komando, ia langsung bergerak. Inilah wajah pemimpin yang mencintai rakyatnya melebihi dirinya sendiri,” lanjut Edi penuh haru.

 

Tak hanya soal tanggap darurat, Edi juga menyinggung soal jembatan yang kini kokoh berdiri sebagai bukti cinta Bupati pada daerah.

 

“Jembatan-jembatan yang kini kita lalui dengan tenang itu dibangun dengan kecepatan luar biasa. Mengapa? Karena Bupati tahu, setiap menit jembatan itu terputus, ada urat nadi ekonomi rakyat yang terhenti. Ia bekerja siang malam agar warga tidak terisolasi. Ini bukan sekadar semen dan baja, ini adalah bentuk janji yang ditepati,” sebut sapaan Edi Obama itu.

 

Dalam keterangannya di siaran pers tersebut, Edi Obama berpesan agar kritik dari Pak HRD dijadikan penguat, namun jangan sampai melukai semangat pengabdian yang tulus.

 

“Harga diri seorang pemimpin itu basah oleh keringat pelayanan, bukan kering karena perdebatan. Mari kita jaga harmoni. Bireuen ini milik kita bersama, dan Bupati telah memberikan segalanya untuk kita. Mari kita rangkul, bukan kita pukul,” pungkasnya dengan pesan persaudaraan yang kuat. (rel)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x