x

Korban Bencana Rayakan Lebaran di Tenda Pengungsian Kantor Bupati Bireuen

waktu baca 2 menit
Sabtu, 21 Mar 2026 13:22 21 redaksi

Rakyat Aceh | Bireuen – Suasana Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, tidak sepenuhnya diwarnai kebahagiaan. Puluhan warga korban banjir terpaksa merayakan lebaran di tenda pengungsian yang didirikan di halaman Kantor Bupati Bireuen, Sabtu (21/3).

 

Tenda-tenda tersebut bukan hanya menjadi tempat berlindung, tetapi juga mencerminkan kekecewaan warga terhadap pemerintah. Hingga kini, mereka mengaku belum memperoleh kepastian terkait hunian tetap maupun pemenuhan hak-hak dasar pascabencana lainnya.

 

Di tengah keterbatasan, para pengungsi tetap menjaga tradisi lebaran. Mereka saling bersalaman, bermaaf-maafan, dan merayakan hari kemenangan dengan kebersamaan sederhana di bawah tenda darurat.

 

Jamilah, warga Gampong Kapa, Kecamatan Peusangan, mengaku berusaha menerima kondisi yang ada. Ia tetap bersyukur meski Lebaran tidak dirayakan di rumah sendiri.

 

“Memang bukan di rumah, tapi di sini kami merasa lebih nyaman. Kami tetap ingin merayakan Lebaran walau dalam keadaan seperti ini,” ujarnya haru.

 

Hal serupa disampaikan Suratinnur. Ia menilai kebersamaan di pengungsian justru memperkuat solidaritas antarwarga. “Kami saling menguatkan. Yang penting anak-anak masih bisa tersenyum,” katanya di bawah tenda pengungsian.

 

Sementara itu, Ramadhan, warga Gampong Alue Kuta, Kecamatan Jangka, menegaskan dirinya bersama keluarga akan bertahan di lokasi pengungsian hingga ada kejelasan dari pemerintah terkait hak-haknya. “Kami akan tetap di sini sampai hak-hak kami sebagai korban banjir dipenuhi,” tegasnya.

 

Sejumlah pengungsi dari Gampong Raya Dagang dan Gampong Salah Sirong Jaya juga memilih bertahan di halaman kantor bupati. Mereka menilai fasilitas di lokasi tersebut lebih layak dibandingkan tenda darurat di desanya masing-masing.

 

Momentum lebaran, semangat gotong royong tampak kuat. Warga bersama-sama membersihkan area tenda pengungsian dan menata tempat tinggal sementara agar lebih nyaman. Bantuan dari para dermawan turut menghadirkan kehangatan, terlihat dari anak-anak yang mengenakan pakaian baru serta ibu-ibu yang menyiapkan hidangan sederhana.

 

Namun di balik suasana kebersamaan itu, tersimpan kekecewaan terhadap janji pemerintah pusat. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan komitmen untuk tidak meninggalkan korban bencana.

 

Pernyataan tersebut disampaikan saat malam pergantian tahun 2025 di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Saat itu, ia memastikan pemerintah akan hadir dan bekerja keras memulihkan kondisi masyarakat terdampak.

 

Fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. Hingga lebaran tiba, berbagai hak korban seperti hunian sementara (huntara), dana tunggu hunian (DTH), jaminan hidup (Jadup), hingga hunian tetap (Huntap) belum terealisasi.

 

Situasi ini membuat warga memilih bertahan di halaman Kantor Bupati Bireuen sebagai bentuk tuntutan sekaligus kritikan agar pemerintah segera mengambil langkah nyata. (akh)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x