x

Lima Santri dan Satu Pimpinan Dayah Meninggal Saat Banjir Aceh Utara “Ratusan Dayah Sempat Lumpuh”

waktu baca 2 menit
Selasa, 6 Jan 2026 19:54 142 redaksi

RAKYAT ACEH | ACEH UTARA – Banjir besar yang melanda Kabupaten Aceh Utara pada 26 November 2025 menimbulkan dampak serius terhadap lembaga pendidikan dayah (pesantren). Selain merusak sarana dan prasarana, bencana tersebut juga menelan korban jiwa, yakni lima santri dan satu pimpinan dayah.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh Utara, Muhammad Yunus, S.Hi, menyampaikan bahwa hingga Selasa (6/1/2026), sebanyak 101 dayah dari total 211 dayah terdampak telah kembali menjalankan proses belajar mengajar. Meski demikian, pemulihan secara menyeluruh masih menghadapi berbagai kendala di lapangan.

“Hari ini Tim Peduli Dayah bersama ASN, PPPK, dan PPPK paruh waktu melakukan pembersihan di Dayah Darul Aman, Gampong Tanjung Dalam Selatan, Kecamatan Langkahan,” ujar Muhammad Yunus, dikonfirmasi Rakyat Aceh, Selasa (6/1).

Ia menjelaskan, kegiatan gotong royong tersebut merupakan tindak lanjut dari instruksi Bupati Aceh Utara untuk mempercepat pemulihan lembaga pendidikan dayah pascabanjir.

Menurutnya, ketebalan lumpur yang menimbun sejumlah dayah masih menjadi hambatan utama. Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan alat berat seperti ekskavator agar proses pembersihan dapat dilakukan secara lebih cepat dan efektif. Selain itu, banyak fasilitas pendidikan yang rusak berat dan belum sepenuhnya tersentuh bantuan.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Pos Pendataan Musibah Banjir Aceh Utara Bidang Pendidikan Dayah, Sazali, mengungkapkan bahwa dari 211 pesantren yang terdampak, 10 pesantren mengalami kerusakan berat, 6 pesantren rusak ringan, dan 195 pesantren rusak sedang.

“Bencana ini berdampak luas terhadap komunitas dayah. Sebanyak 4.420 santri, 5.035 ustaz, dan 211 pimpinan pesantren terdampak langsung,” kata Sazali.

Ia juga menyebutkan adanya korban jiwa akibat banjir tersebut. “Tercatat lima santri dan satu pimpinan pesantren meninggal dunia,” ujarnya.

Selain itu, Sazali meminta Kementerian Agama RI memberikan dukungan konkret untuk percepatan pemulihan pesantren di Aceh Utara, khususnya dalam perbaikan infrastruktur vital seperti asrama, balai pengajian, mushala, rumah guru, fasilitas mandi-cuci-kakus (MCK), serta dapur umum.

Selain infrastruktur, pesantren juga membutuhkan dukungan sarana penunjang pendidikan dan kebutuhan dasar santri.

“Kami sangat membutuhkan bantuan Al-Qur’an, Kitab Turats, lemari, komputer, mesin air, pakaian santri, hingga perlengkapan tidur,” kata Sazali, yang juga menjabat Plt Kepala Bidang Pendidikan dan Sumber Daya Santri Dinas Pendidikan Dayah Aceh Utara.

Ia berharap Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, dapat berkunjung langsung ke Aceh Utara guna melihat kondisi riil pesantren pascabanjir dan mendorong percepatan pemulihan.

“Perhatian langsung dari pemerintah pusat sangat dibutuhkan agar aktivitas pendidikan dayah bisa kembali normal dan berkelanjutan,” pungkasnya. (arm/ra)

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x