x

Menjaga Cahaya Iman di Tengah Badai Musibah: Harapan dari Pengungsian Aceh Utara

waktu baca 2 menit
Senin, 22 Des 2025 19:35 15 redaksi

RAKYAT ACEH | ACEH UTARA – Di tengah kesedihan dan kehilangan yang mendalam, suara tangis anak-anak di pengungsian Aceh Utara sering bersahutan dengan lantunan doa yang penuh harapan. Pasca banjir bandang dan longsor yang melanda daerah tersebut, tak hanya rumah dan harta benda yang hilang, tetapi juga ruang-ruang belajar agama yang menjadi benteng spiritual bagi masyarakat.

Tgk. Jamaluddin HK, Pimpinan Dayah QAHA Ukhwatul Qur’an Kota Lhokseumawe, yang langsung terjun ke lokasi pengungsian, berbagi pengalaman haru pada Senin, 22 Desember 2025. Dalam kunjungannya, ia menyaksikan kenyataan yang kerap terabaikan, masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan sandang dan pangan, tetapi juga asupan ruhaniah yang dapat menguatkan hati mereka yang tengah dilanda trauma.

“Banyak dayah dan balai pengajian yang hancur. Alquran dan kitab-kitab rusak terendam banjir. Jangan sampai bencana ini menghalangi anak-anak kita untuk terus belajar agama,” ujar Tgk. Jamaluddin dengan nada penuh keprihatinan.

Ia menambahkan, hampir sebulan penuh, anak-anak di pengungsian tidak lagi mengaji. Padahal, di tengah kekosongan pasca bencana, pendidikan spiritual adalah kunci agar mereka tidak kehilangan arah hidup. Tgk. Jamaluddin menegaskan pentingnya mengaktifkan kembali pengajian di camp-camp pengungsi, meskipun harus dipusatkan di satu titik seperti menasah atau masjid sebagai tempat berkumpul.

“Anak-anak ini butuh Alquran, kitab, dan perlengkapan ibadah seperti sarung, sajadah, dan mukena. Ini bukan sekadar alat, tapi penopang iman mereka,” tambahnya dengan tegas, kepada Rakyat Aceh, Senin (22/12).

Lebih jauh, Tgk. Jamaluddin mengingatkan bahwa trauma pascabencana yang mendalam bisa menghambat upaya pemulihan. Tanpa pendampingan spiritual yang memadai, kekosongan dalam jiwa berpotensi diisi oleh ajaran yang menyimpang dan merusak akidah. Pendidikan agama langsung di tempat pengungsian harus menjadi perhatian utama agar masyarakat tetap menjaga kekuatan spiritual mereka.

“Harta boleh hilang, tapi jangan sampai iman dan ketakwaan kita ikut hanyut dibawa banjir. Selama kita tidak kehilangan kasih sayang Allah, sejatinya kita tidak kehilangan apa pun,” tuturnya dengan penuh makna.

Dengan penuh harapan, Tgk. Jamaluddin mengajak seluruh elemen masyarakat dan donatur untuk bersama-sama menyediakan Alquran dan perlengkapan ibadah bagi para korban. Baginya, menghidupkan kembali pengajian di pengungsian bukan hanya soal pendidikan agama, tetapi juga ikhtiar mencegah bencana spiritual yang lebih besar.

“Ini catatan penting bagi kita semua. Mari kita jaga agar cahaya iman tetap menyala di tengah gelapnya musibah,” ujar Tgk. Jamaluddin menutup dengan penuh semangat.

Pesan ini bukan hanya menjadi seruan untuk Aceh, tetapi juga untuk kita semua agar dalam setiap ujian hidup, cahaya iman tetap bersinar, memberi harapan, dan menjadi penopang bagi mereka yang tengah dilanda musibah.(arm/ra)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x