x

Miris! Ternyata Korban Bencana di Bireuen Butuh Huntara

waktu baca 4 menit
Minggu, 18 Jan 2026 19:48 34 redaksi

Rakyat Aceh | Bireuen – Kebijakan Bupati Bireuen, H Mukhlis ST, yang menolak pembangunan Hunian Sementara (Huntara) bagi korban banjir bandang menuai sorotan tajam dari berbagai kalangan. Pasalnya, Huntara merupakan salah satu program prioritas nasional Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam penanganan cepat dan darurat korban bencana alam.

Penolakan tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Mukhlis saat konferensi pers di Pendopo Bupati Bireuen, Rabu, 31 Desember 2025 lalu. Dalam keterangannya, Mukhlis menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Bireuen tidak mengusulkan pembangunan Huntara, dan memilih langsung membangun Hunian Tetap (Huntap) bagi korban banjir dan tanah longsor.

Menurut Mukhlis, keputusan tersebut diambil setelah pihaknya turun langsung ke lokasi bencana bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Ia menilai kebutuhan mendesak masyarakat bukan hunian sementara, melainkan hunian permanen yang lebih layak dan berjangka panjang.

Namun, kebijakan tersebut dinilai sangat miris dan tidak sejalan dengan kondisi riil di lapangan. Berdasarkan investigasi yang dilakukan Rakyat Aceh di sejumlah desa terdampak banjir dan tanah longsor di Kabupaten Bireuen, mayoritas korban justru sangat membutuhkan Huntara untuk bertahan hidup dalam waktu dekat, terlebih menjelang bulan suci Ramadan.

Seorang tokoh masyarakat di Gampong Salah Sirong, Kecamatan Jeumpa, mengungkapkan bahwa seluruh korban bencana di desanya sangat membutuhkan hunian sementara. Ia menyebutkan, para korban tidak pernah diberikan pilihan terkait Huntara oleh pemerintah daerah.

“Korban tidak pernah diberi pilihan untuk memilih Huntara. Yang ada, keuchik menyampaikan kepada korban yang rumahnya hanyut, bahwa bupati mengatakan akan dibangun Huntap. Tidak ada pilihan lain,” ujar tokoh masyarakat tersebut yang tidak mau disebutkan namanya.

Menurutnya, kondisi pengungsian saat ini sangat memprihatinkan. Sebagian korban masih bertahan di tenda-tenda darurat yang panas di siang hari dan dingin saat malam. Sementara dapur umum menjadi satu-satunya tumpuan hidup, yang tidak semua korban sanggup menjangkaunya setiap hari.

Ia juga menyebutkan bahwa pembangunan Huntap membutuhkan waktu yang lama, sementara korban membutuhkan tempat tinggal yang layak sekarang juga. “Kami bukan menolak Huntap, tapi kami butuh Huntara dulu. Jangan biarkan korban berbulan-bulan hidup di tenda,” tegasnya.

*Jeritan Nek Ti Gade: Tolong Buatkan Rumah Sementara untuk Beribadah di Bulan Ramadan

Jeritan pilu datang dari seorang lansia bernama Nek Ti Gade (73), warga Gampong Salah Sirong, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen. Ia tinggal sebatang kara sejak rumahnya hanyut dibawa arus sungai saat banjir bandang menerjang wilayah tersebut. Meski memiliki anak, seluruhnya telah berkeluarga dan tidak tinggal bersamanya.

Dengan suara lirih dan mata berkaca-kaca, Nek Ti Gade memohon kepada pemerintah membangunkan rumah sementara agar ia bisa menjalani ibadah Ramadan dengan layak.

“Neupeget barak/huntara manteng keu long, kop payah dikeu puasa hana nyaman taibadat (Tolong dibuatkan rumah barak/huntara untuk saya, susah sekali Ramadan tidak nyaman untuk beribadah),” ucapnya kepada Rakyat Aceh, Sabtu (17/1) sore.

Di usianya yang renta, Nek Ti Gade mengaku sudah tidak sanggup lagi bolak-balik ke dapur umum saat waktu makan. Kondisi fisik yang lemah membuatnya sering menahan lapar dan kelelahan.

“Han ek le long tinggai bak tenda, brat suum, hana nyaman (Saya tidak sanggup lagi tinggal di tenda, panas sekali, tidak nyaman),” katanya sambil terisak. Ia berharap ada sedikit perhatian agar bisa berteduh dan beribadah dengan tenang.

Ia juga mengaku tidak pernah ditanya oleh pihak manapun apakah membutuhkan Huntara atau tidak. Yang ia dengar hanyalah janji akan dibangunkan rumah permanen, tanpa kejelasan waktu.

“Dimeujanji dipeuget rumoh tetap, aleh pajan dipeuget hana tatepue. Sang dua ge puasa teuk, kamoe manteng lam tenda (Dijanjikan rumah tetap, entah kapan. Mungkin dua kali puasa lagi, kami masih di tenda),” ujarnya dengan nada pasrah.

Warga Salah Sirong: Bupati Datang ke Pengungsian untuk Masak Indomie

Kekecewaan juga disampaikan warga terkait kunjungan Bupati Bireuen ke lokasi pengungsian. Menurut warga, kehadiran bupati tidak membawa solusi nyata bagi korban bencana.

“Bupati geujak keunoe geu gureng indomie, hana pah sagai bupati (Bupati datang ke sini cuma menggoreng Indomie, tidak pantas sekali),” ungkap Nek Ti Gade, diamini tokoh masyarakat setempat.

Salah seorang warga di desa tersebut menyebutkan, bupati sudah beberapa kali datang ke Gampong Salah Sirong. Namun, hingga kini belum ada musyawarah serius dengan perangkat desa maupun korban terkait kebutuhan mendesak pengungsi.

“Yang kami lihat, bupati langsung ke dapur masak Indomie. Tidak pernah kami lihat bermusyawarah dengan keuchik atau warga soal kebutuhan kami,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat.

Masyarakat berharap, pemerintah daerah tidak menutup mata terhadap jeritan korban. Mereka mendesak agar pembangunan Huntara segera direalisasikan sebagai solusi kemanusiaan sementara, sembari menunggu proses pembangunan Hunian Tetap yang membutuhkan waktu panjang.

“Bagi kami, Huntara bukan soal kenyamanan, tapi soal bertahan hidup. Terlebih Ramadan sudah di depan mata,” pungkas tokoh masyarakat tersebut. (akh)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x