x

Perihnya Warga Manyang Meureudu Saat Musibah Di Lokasi Pengungsian Sulit Membayangkan Tragedi Besar Itu

waktu baca 3 menit
Selasa, 23 Des 2025 17:13 37 redaksi

RAKYAT ACEH | MEUREUDU  – Jelang empat pekan sudah musibah banjir melanda Pidie Jaya. Belasan ribu penduduk terpaksa mengungsi karena rumah atau huniannya mengalami kerusakan berat. Malah sebagiannya roboh disapu banjir sehingga mereka harus tinggal di tenda-tenda darurat yang didirikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Di Pidie Jaya, sebagian dari delapan kecamatan disana mengalami musibah tersebut. Hanya tingkat atau persentase kerusakan yang bervariasi. Pantauan wartawan media ini, Kecamatan Meureudu dan Meurahdua adalah yang terparah.

Meureudu meliputi sejumlah desa. Antara lain, Masjid Tuha, Meunasah Lhok, Beurawang, Manyang Cut, Manyang Lancok. Disusul Meunasah Balek Dayah Kleng, Rhieng Blang, Rhieng Krueng serta Desa Blang Awe.

Sementara Meurahdua yaitu, Desa Beuringen, Meunasah Jurong Teupin Pukat, Pante Beureune, Meunasah Mancang. Berikutnya Gampong Dayah Usen, Dayah Kruet, Blang Cut, Des Raya, Gampong Blang, Desa Bie, Geunteng, Meunasah Teungoh dan Desa Bie.

Di Meureudu, Dusun Meunasah Krueng Batoh Desa termasuk Pante Ara Manyang tercatat wilayah yang terparah. Pemukiman yang berada tak jauh dari lintasan jalan Nasional Banda Aceh- Medan porak poranda. Disisi kiri dan kanan jalan puluhan unit rumah dan bangunan lainnya tertutupi tanah atau hanya yang tersisa adalah tampok rumoh.
Dapat dibayangkan bagaimana gerak cepat yang dilakukan para penghuni rumah tatkala musibah menerjang huniannya. Jangankan bisa menyelamatkan harta benda terkadang nyawa pun nyaris tak tertolong. Terlebih lagi mereka yang punya balita serta warga lanjut usia atau lansia.

Isak tangis membahana di malam buta sambil berlarian menyelamatkan diri. Apalagi dusun yang berada di daerah aliran sungai (DAS) Krueng Meureudu itu air dengan cepat meluber atau meluap. Beberapa warga setempat yang ditanya Rakyat Aceh di lokasi pengungsian kemarin mengaku sulit membayangkan tragedi memilukan itu.
“Banjir kali ini sangat dahsyat dan belum pernah ada sebelumnya. Bahkan lebih dari tsunami,” sebut seorang penduduk disana. M Yahya, seorang warga Desa Beurawang (tetangga Manyang Cut) juga mengomentari sedihnya derita yang dialami masyarakat pada musibah kali ini.

“Semua itu atas kehendak Allah SWT. Mungkin ada hikmah dibalik peristiwa ini,” timpal Yahya, yang juga seorang penyuluh pertanian plus tokoh tani.
Amatan Rakyat Aceh kemarin, beberapa alat berat tampak masih bekerja keras mengenyahkan tanah yang sudah menggunung di kawasan Meunasah Krueng Baroh. Sasaran utama adalah membuka kembali jalan utama antar desa/dusun yang sudah tertimbun lumpur. Meunasah Krueng Baroh nyaris tenggelam oleh lumpur yang kini sudah mengeras.
Di komplek Meunasah didirikan sejumlah tenda kuning untuk pengungsi termasuk juga depan rumah yang kini tertutupi lumpur tebal. Disitulah mereka bernaung. Menyangkut dengan makan sehari hari, mayoritas berasal dari bantuan warga asal dari sejumlah kecamatan di Pidie dan Pidie Jaya yang tidak terkena musibah.

“Kami makan nasi bungkus yang dibagikan penyumbang menggunakan mobil bak terbuka,” ucap seorang IRT. Ditanya kondisi di tenda, IRT tadi mengaku nyaris tak terpejam kan mata hingga dinihari.

“Mana bisa tidur dengan kondisi begini. Lihat itu di tenda juga ada anak anak kecil,. Kasihan mereka terkadang semalaman tak tidur pulas,” papar IRT tadi dengan menahan haru.
Selain Manyang Cut, beberapa desa lain termasuk di Meurahdua juga nyaris sama kondisinya. Terlebih jika malamnya diguyur hujan deras. Praktis mereka siaga jangan jangan banjir kembali menerjang desanya.
“Kami yang rumahnya sepanjang DAS was was saat hujan deras,” sebut Nur seorang IRT Desa Meunasah Jurong Teupin Pukat. (age/rus)

 

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x