x

Petani Menjerit, Sawah di Bireuen Tertimbun Lumpur dan Terancam Bertahun-tahun Tak Bisa Ditanami

waktu baca 2 menit
Rabu, 10 Des 2025 07:17 12 redaksi

RAKYATACEH | BIREUEN – Sejumlah petani di Kabupaten Bireuen menjerit setelah ribuan hektare sawah mereka berubah seperti daratan akibat tertimbun lumpur pascabanjir besar yang melanda wilayah tersebut beberapa waktu lalu.

Jakfar, salah seorang petani di Bireuen mengatakan, kondisi lahan pertanian kini sangat memprihatinkan. Lapisan lumpur yang tebal membuat sawah tidak lagi bisa diolah sebagaimana mestinya.

“Rumah kami penuh lumpur. Sawah juga sudah seperti daratan. Diprediksi bertahun-tahun ke depan, kami tidak bisa bertani kalau kondisi begini,” ujar Jakfar dengan nada sedih kepada Rakyat Aceh, Selasa (9/12).

Para petani kini mengharapkan langkah cepat dari pemerintah untuk mengatasi bencana tersebut. Mereka meminta agar pemerintah secapat mungkin turun tangan menangani kerusakan lahan, membersihkan lumpur, serta mencari solusi jangka panjang agar sumber penghidupan mereka tidak hilang.

“Kami meminta pemerintah membantu, karena tanpa pertolongan, kami tidak tahu bagaimana harus bertahan hidup,” sebut Jakfar.

Ia mengaku menunggu respons dan tindakan nyata dari pihak terkait untuk memulihkan lahan pertanian yang menjadi sumber ekonomi utama masyarakat di Bireuen

“Kami masyarakat Bireuen berharap kepada pemerintah daerah segera melakukan pendataan menyeluruh dan menetapkan program pemulihan lahan, baik melalui pembersihan lumpur, normalisasi saluran irigasi, maupun bantuan alat berat. Tanpa intervensi pemerintah, sektor pertanian terancam lumpuh total dalam jangka panjang,” tegasnya.

Sebelumnya, Bupati Mukhlis, telah melaporkan kondisi kritis di sektor pertanian melanda Kabupaten Bireuen kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, saat kunjungan presiden ke Kecamatan Juli, Minggu (7/12) kemarin.

Dalam laporannya, Bupati Mukhlis menyampaikan, sekitar 15 ribu hektare sawah kini tidak bisa lagi dibajak akibat tertimbun lumpur dan pasir banjir. Ia menegaskan bahwa situasi ini merupakan krisis yang belum pernah mereka hadapi sebelumnya.

“Bendung jebol, saluran irigasi rusak parah, dan hampir semua sawah berubah menjadi daratan. Petani kita benar-benar tidak bisa turun ke sawah lagi. Kami butuh program pemulihan jangka panjang. Lumpur yang menimbun sawah sangat tebal, harus ada intervensi besar agar lahan ini bisa kembali produktif. Tanpa itu, perekonomian Bireuen akan lumpuh,” jelasnya.

Bupati Mukhlis berharap bantuan dan intervensi cepat dari pemerintah pusat dapat mencegah krisis pangan dan membuka kembali akses para petani untuk kembali berproduksi.

Menanggapi laporan tersebut, Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk bertindak cepat dalam memulihkan Bireuen. “Sampaikan kepada rakyat, kita akan atasi. Tidak ada yang akan kelaparan ke depannya,” pungkas Presiden Prabowo. (akh)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x