x

Ramadhan dan Kebangkitan Solidaritas Sosial Menuju Pribadi Bertaqwa

waktu baca 2 menit
Jumat, 20 Feb 2026 15:12 10 redaksi

RAKYAT ACEH | LHOKSEUMAWE – Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah ritual, melainkan ruang perjumpaan spiritual dan sosial yang mempertemukan hati-hati yang rindu pada kebaikan. Di bulan yang dimuliakan ini, umat Islam di seluruh penjuru dunia menyambutnya dengan sukacita, merujuk pada sabda-sabda Rasulullah SAW dan penjelasan para ulama tentang kemuliaan serta keberkahan yang terkandung di dalamnya.

Pimpinan Dayah QAHA Ukhwatul Qur’an Kota Lhokseumawe, Tgk. Jamaluddin HK, menegaskan bahwa Ramadhan adalah momentum untuk melipatgandakan bukan hanya kualitas ibadah personal, tetapi juga kepedulian sosial. Selain menjalankan puasa sebulan penuh, umat Islam dianjurkan memperbanyak shalat tarawih berjamaah, tadarus Al-Qur’an, bersedekah, serta memperbanyak zikir kepada Allah SWT.

Namun lebih dari itu, Ramadhan menghadirkan dimensi sosial yang sangat kuat. Shalat tarawih berjamaah, misalnya, bukan hanya bernilai pahala, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi yang mempererat hubungan antarwarga. Masjid-masjid yang ramai bukan hanya simbol ketaatan, tetapi juga potret hidupnya interaksi sosial yang hangat dan penuh kebersamaan.

Dalam konteks kehidupan modern yang kerap diwarnai jarak sosial dan polarisasi, Ramadhan seharusnya menjadi titik balik. Ia mengajarkan empati melalui rasa lapar dan dahaga, menumbuhkan solidaritas melalui sedekah, serta membangun komunikasi yang santun melalui silaturahmi. Ibadah vertikal kepada Allah SWT harus berjalan seiring dengan ibadah horizontal kepada sesama manusia.

Islam tidak hanya membentuk pribadi yang rajin shalat dan berpuasa, tetapi juga mendorong umatnya menjadi pribadi yang peduli, saling menguatkan, dan menjaga persaudaraan. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa memutuskan silaturahmi merupakan perbuatan yang tercela, terlebih di bulan suci Ramadhan. Pesan ini menjadi penegasan bahwa kualitas ibadah seseorang tak dapat dilepaskan dari kualitas hubungan sosialnya.

Ramadhan pada akhirnya adalah tentang keseimbangan, antara zikir dan aksi, antara doa dan kepedulian, antara kesalehan pribadi dan tanggung jawab sosial. Di tengah dinamika masyarakat yang terus berubah, bulan suci ini hadir sebagai pengingat bahwa kekuatan umat terletak pada persatuan dan solidaritasnya.

“Semoga Ramadhan tahun ini benar-benar menjadi jalan pembentuk insan bertaqwa pribadi yang dekat dengan Allah, sekaligus hangat dalam pelukan ukhuwah dengan sesamanya,”ucap Tgk Jamaluddin akrab disapa Waled Jamal Blang Rayeuk ini, kepada Rakyat Aceh, Jum’at (20/2). (arm/ra)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x