
Penulis: Dr (C). Ir. Muhammad Hatta, SST., MT

Koordinator Humas dan Kerjasama Politeknik Negeri Lhokseumawe
RAKYAT ACEH | LHOKSEUMAWE-
Ramadhan kembali menyapa, bukan sekadar sebagai penanda pergantian bulan dalam kalender Hijriah, tetapi sebagai ruang jeda di tengah dunia yang kian bising. Di era ketika notifikasi gawai lebih sering terdengar daripada suara hati, Ramadhan hadir membawa keheningan yang justru terasa paling nyaring, keheningan yang memanggil kesadaran.
Di tengah arus informasi yang tak terbendung, polarisasi sosial yang kerap mengeras, serta kompetisi hidup yang semakin intens, Ramadhan menawarkan sesuatu yang langka ruang untuk memperlambat diri. Ia bukan hanya tentang sahur dan berbuka, tetapi tentang mengatur ulang orientasi hidup. Ia mengajarkan bahwa dalam dunia yang serba instan, kedewasaan justru lahir dari proses menahan.
Puasa menghadirkan pengalaman fisik yang sederhana namun berdampak mendalam lapar dan dahaga. Dari situlah empati menemukan bentuknya. Lapar bukan lagi sekadar sensasi biologis, melainkan jembatan kesadaran sosial. Ia menyentuh nurani, mengingatkan bahwa ketimpangan bukan statistik semata, tetapi realitas yang dialami jutaan orang setiap hari.
Lebih dari itu, Ramadhan adalah laboratorium etika publik. Ia melatih integritas saat tak ada sorotan kamera dan tak ada pengawasan manusia. Dalam kesendirian, seseorang diuji: tetapkah ia jujur ketika tak seorang pun melihat? Nilai inilah yang relevan bagi kehidupan berbangsa bahwa moralitas sejati tidak dibangun oleh tekanan eksternal, melainkan oleh kesadaran internal.
Di masjid dan ruang-ruang ibadah, sekat sosial seolah luruh. Jabatan, status ekonomi, dan latar belakang melebur dalam satu barisan. Ramadhan menghadirkan praktik kesetaraan yang konkret, bukan retorika. Ia memperlihatkan bahwa harmoni sosial bukan utopia, melainkan sesuatu yang mungkin diwujudkan ketika ego ditundukkan.
Pertanyaannya, mampukah energi spiritual itu melampaui batas ritual? Ramadhan semestinya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan yang meriah di awal dan redup di akhir. Nilai pengendalian diri yang dilatih selama sebulan idealnya menjelma dalam kebijakan yang lebih berkeadilan, transaksi ekonomi yang lebih jujur, serta komunikasi publik yang lebih santun.
Di tengah tantangan kebangsaan—dari disrupsi digital hingga fragmentasi sosial Ramadhan dapat menjadi sumber daya moral. Ia memperkuat literasi batin saat literasi digital berkembang pesat. Ia mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi tanpa kedewasaan etika hanya akan mempercepat konflik dan kesenjangan.
Pada akhirnya, Ramadhan adalah perjalanan pulang: pulang kepada kejernihan niat, kepada kesederhanaan hidup, dan kepada tanggung jawab sosial. Kemenangan yang dirayakan saat Syawal bukan semata keberhasilan menahan lapar, melainkan keberhasilan menundukkan ego dan meneguhkan komitmen moral.
Jika setelah Ramadhan kita menjadi lebih jujur dalam bekerja, lebih empatik dalam memimpin, dan lebih santun dalam berbicara, maka di situlah transformasi itu nyata. Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, melainkan momentum membangun kembali etika publik dari keheningan spiritual menuju peradaban yang lebih beradab.(*)
Tidak ada komentar