x

Rindu Rumah Aku Ingin Pulang Harapan Anak Pengungsi Kuala Cangkoi

waktu baca 2 menit
Kamis, 25 Des 2025 13:29 93 redaksi

RAKYAT ACEH | ACEH UTARA : “Tsunami sudah. Banjir bandang pun datang. Rumah hilang. Tempat bermain masa kecil tinggal kenangan,” kata Marzuki salah seorang tokoh masyarakat Kuala Cangkoi, Kecamatan Lapang, Aceh Utara, Selasa lalu.

Bencana Hidrometeorologi seumur-umurnya tidak pernah terjadi sampai meluluh lantak desanya. “

Tsunami mengejutkan ribuan warga Kuala Cangkoi, Lapang. Tapi yang ini, saya sudah pernah bertanya sama orang tua-tua memang belum pernah terjadi,” ungkapnya.

Suara lirih disampaikan Marzuki mantan kepala desa ini, senada pengakuan datang dari M Farhan (14) saat berada di tenda bantuan BNPB bersama ibu dan dua adiknya. “Rindu pulang. Rumah sudah hilang,” katanya dengan tetesan airmata dihadapan Rakyat Aceh.

Tempat bercengkarama dengan rekan sebaya sepulang sekolah sudah berubah menjadi alur atau anak sungai. Terlebih lagi tempat berlindung dari panas dan hujan (rumah-red) entah kemana dibawa air saat banjir, Rabu 26 November 2025 lalu.

Farhan, dalam tenda tetap menjaga adiknya Ariq usia (6). Sesekali diingatkan, jangan jauh main ke tepi pantai. Tanpa beralas kaki, Farhan tertawa berlari melihat perahu-perahu nelayan sepulang membawa hasil tangkapan melaut.

Puluhan tenda dan bagunan kecil dari kayu berdiri memang hanya berjarak sekitar 50 meter dari pantai Kuala Cangkoi. Di bawah pepohonan kelapa, “Kapan rumah kami ada lagi. Dan bisa kesekolah bersama kawan-kawan,” pungkasnya.

Di Kuala Cangkoi, Lapang, sebanyak 430 jiwa mengungsi. Balita tercacat 36 jiwa dan anak-anak bersama lansia tentunya. Kondisi pengungsi tinggal di tenda-tenda dan ada pula menempati berbentuk pondok kayu dipancang sebagai tiang, beratap plastic seadanya.

Rumah hilang 90 unit. Sedangkan yang rusak ringan mencapai 99 unit rumah.. “Saat ini kami berharap kebutuhan air bersih, beras dan makan bayi di lokasi pengungsi dapat terpenuhi,” kata Marzuki menjelang sebulan warganya mengungsi.
Ia menambahkan, banjir malah ‘melahirkan’ 14 titik muara baru dari dua titik sebelumnya.

Saat kunjungan petinggi BNPB, mengiyakan harapan pengungsi segera memiliki rumah di lokasi lama. Namun, sebelum selesai rumah, pemerintah akan memenuhi kebutuhan hidup pengungsi Rp 600 ribu sebulan.

“Rumah hilang akan kita bangun baru. Asal tanah yang dibangun tidak menimbulkan sengketa,” ujar Ka BNPB, Suharyanto. (ung)

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x