x

Simpur Ketambe, Akses Yang Belum Kembali

waktu baca 4 menit
Senin, 8 Des 2025 20:09 44 redaksi

RAKYAT ACEH | Kutacane – Di balik heningnya pegunungan Ketambe, tersimpan sebuah kisah getir dari Desa Simpur, sebuah desa kecil yang hingga kini seakan terputus dari dunia. Bukan karena jaraknya, bukan pula karena jauhnya pemukiman, tetapi karena akses menuju desa itu belum kembali utuh setelah banjir bandang meluluhlantakkan Kecamatan Ketambe Aceh Tenggara pada 26 November 2025.

Simpur dihuni kurang lebih 187 kepala keluarga atau 749 jiwa. Letaknyapun hanya sekitar 3-5 Km dari titik terakhir jalan nasional yang ambalas diterjang banjir di Desa Leuser, Ketambe. Terletak di Lintas Nasional batas Aceh Tenggara -Kabupaten Gayo Lues, dalam kondisi normal, jarak ke Simpur dari desa terakhir yang telah bisa di akses roda empat hanya hitungan menit. Namun tragedi memperpanjang jarak itu menjadi seakan tak terjangkau. Jembatan runtuh, jalan terputus, tanah longsor mengancam dari segala arah, membuat Simpur bagai pulau yang karam di tengah daratan.

Meski jalan alternatif telah dibuka, satu-satunya akses itu harus ditempuh lewat tebing curam dengan medan ekstrem. Kendaraan roda empat tak mampu menembusnya. Bantuan logistik dipikul dengan tangan, dioper dari satu orang ke orang berikutnya, seakan setiap karung beras adalah nyawa yang harus dijaga agar tidak jatuh atau terbuang.

Senin yang Menggetarkan

Letkol Czi Arya Murdyantoro, S.T., Komandan Kodim (Dandim) 0108/Aceh Tenggara, memimpin langsung 80 personel Babinsa menembus jalur alternatif dengan sepeda motor trail. Lumpur setinggi mata kaki dan jalur yang miring hingga 45 derajat tidak menghentikan mereka. Yang mereka bawa bukan sekadar logistik, tetapi juga isyarat bahwa Simpur tidak sedang dibiarkan bertahan sendiri.

“ Bantuan kami salurkan berupa pakaian layak sebanyak 14 Karung, Obat- oabatan, Pampers anak – anak, sembako, sabun cuci piring dan kebutuhan lainnya. Termasuk makanan kecil utuk anak- anak,” ujar Letkol Czi Arya Murdyantoro, S.T.

Namun kedatangan rombongan dari Prajurit TNI bukan hanya membawa bantuan logistik, tetapi membawa energi, membawa keberanian, membawa pesan bahwa masyarakat Simpur tidak sendiri dalam gelap dan duka itu.

Deru knalpot trail memecah sunyi, suara yang bagi warga terdengar seperti tanda kehidupan. Debu dan lumpur yang memercik seakan menjadi saksi bahwa perjuangan untuk membantu tidak pernah surut, meski rintangannya bertubi-tubi.

Trauma Healing di Tengah Luka

Harapan kembali datang dari arah berbeda. Ibu Ketua Persit KCK Cab XXIII Dim 0108/Agara Koorcab Rem 011/Lilawangsa PD Iskandar Muda, bersama psikolog Nasri, S.Psi., M.Psi., hadir langsung di tengah pengungsi Desa Simpur Jaya. Ketambe yang masih dihantui ketakutan.

Di tenda-tenda pengungsian yang berdiri di atas tanah lembab, mereka melakukan kegiatan trauma healing, merangkai kembali senyum yang hilang, memeluk anak-anak yang masih terjaga setiap mendengar suara air, serta menenangkan para ibu yang matanya masih menyimpan cerita malam paling gelap dalam hidup mereka. Menjadikan dukungan emosional bagi warga Simpur.

Di antara wajah-wajah lelah, tampak secercah semangat baru. Walau air telah surut, luka di hati warga Simpur jauh lebih lambat mengering. Namun perhatian dan kehadiran para relawan menjadi obat yang mampu menahan perih itu, meski hanya sedikit demi sedikit.

Simpur: Desa yang Masih Menunggu Pulihnya Akses

Sampai hari ini, Simpur tetap menjadi simbol betapa panjangnya proses pemulihan setelah bencana. Akses jalan yang belum kembali menunjukkan bahwa penderitaan tidak hanya terjadi pada saat banjir menerjang, tetapi juga pada hari-hari panjang setelahnya, ketika segala sesuatu terasa tak pasti dan harapan diuji berkali-kali.

Meski begitu, masyarakat Simpur tetap bertahan. Mereka tidak menyerah pada tanah yang masih rapuh atau jalan yang belum kembali. Mereka tetap menyalakan harapan, sekecil apa pun, sambil menunggu hari ketika roda empat kembali bisa melintas, ketika anak-anak bisa kembali bermain dengan tenang, dan ketika desa itu dapat bernapas lega setelah sekian lama terjebak dalam keterasingan.

Simpur mungkin terpisah oleh akses.Namun kehadiran pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara ditengah mereka negitu juga masyarakat Aceh Tenggara, serta personel Babinsa, Persit, relawan, dan semua yang datang membawa bantuan, telah menunjukkan bahwa hati mereka tetap satu.

Selama masih ada tangan-tangan yang terulur, semangat di Simpur tidak akan padam. Simpur menunggu pulihnya akses. Tapi semangat warganya tidak pernah benar-benar runtuh. []

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x