x

Tiga Priode Bupati Simeulue, Pelabuhan Pulau Siumat Jadi “Jebakan Maut”

waktu baca 2 menit
Jumat, 13 Feb 2026 18:09 6 redaksi

RAKYAT ACEH | SIMEULUE – Pelabuhan pulau Siumat, Kabupaten Simeulue yang total rusak parah selama 12 tahun hingga tahun 2026, tidak ada tanda-tanda akan dibangun, sehingga warga menyebut dan menjuluki dengan label “Pelabuhan Maut”.

Warga menilai dan pantas menjuluki pelabuhan maut, disebabkan selama 12 tahun itu, telah silih berganti penguasa, yakni tiga priode Bupati Simeulue, tiga priode Anggota Dewan Simeulue dan tiga priode Gubernur Aceh serta tiga Priode Presiden RI.

Selama 12 tahun pelabuhan pulau Siumat yang dibiarkan rusak parah tanpa ada upaya pembangunan serta telah silih berganti penguasa maupun wakil rakyat. Hal itu disampaikan Kurniawan (40) warga pulau Siumat, kepada Harian Rakyat Aceh, Jumat 13 Februari 2026.

“Sudah 12 tahun pelabuhan satu-satunya di pulau Siumat itu dibiarkan rusak, sehingga kami berikan nama pelabuhan maut karena disana menanti jebakan maut. Perlu diketahui selama 12 tahun itu, sudah tiga priode Bupati Simeulue, tiga priode anggota dewan Simeulue, tiga priode Gubernur Aceh dan tiga priode Presiden RI,” kata Kurniawan, dengan wajah merah padam.

Kurniawan kembali menyebutkan, dirinya bersama masyarakat pulau Siumat, menilai pihak Pemerintah dan pihak Legislatif yang diduga sengaja menutup mata serta menduga sengaja ada itikad untuk ditelantarkan pelabuhan pulau Siumat.

Perlu diketahui, sebut Kurniawan yang kembali memapaparkan bahwa pulau Siumat masih dalam wilayah Kecamatan Simeulue Timur, dan hanya dapat dijangkau dengan transportasi laut selama 3 jam berlayar dari pulau Simeulue.

“Bila ada warga kita yang sakit dan darurat, kemudian hendak dibawa ke RSUD di Sinabang, maka tantangan beratnya saat melintasi pelabuhan itu. Bila cuaca bagus bisa lancar, kalau cuaca tidak bagus, maka jenis apapun transportasi lautnya, tidak mau sandar di pelabuhan pulau Siumat,” imbuh Kurniawan.

Kurniawan merincikan Pulau Siumat dihuni sekitar 120 Kepala Keluarga (KK), dan disana juga tersedia fasilitas pendidikan Sekolah Satu Atap (Satap) dengan jumlah murid sebanhak 82 siswa siswi, serta fasilitas Pustu, termasuk telah ada listrik juga jaringan komujikasi.

“Wajar kami warga pulau Siumat menilai dan menduga bahwa Pemerintah maupun legislatif yang sengaja tutup mata serta telantarkan pelabuhan pulau Siumat. Padahal kami ini juga Rakyat Simeulue, Rakyat Aceh dan Rakyat Indonesia,” tutup Kurniawan.

Diketahui Pulau Siumat berada dalam wilayah administrasi Kecamatan Simeulue Timur, Kabupaten Simeulue, terdiri dari dua dusun, antara lain dusun Gunung Indah dan dusun Kawat Berduri, dengan jarak dari pulau Simeulue, sekitar 11 mil laut.

Pulau Siumat dengan luas sekitar, 3,97 kilometer, yang dikelilingi lautan dan dengan sumberdaya alam yang didominasi perkebunan milik warga, yakni kebun cengkeh, kebun kelapa serta kebun sayur mayur juga termasuk penghasil ikan. (Ahi).

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x