RAMPUNG : Salah satu jembatan gantung terpanjang yang dibangun TNI AD dan Tim VRI di Desa Lubuk Sidup- Desa Aras Sembilan sudah bisa dilalui kendaraan khusus roda dua status jembatan perintis pascabencana banjir di Aceh Tamiang, Senin (2/3/2026). DEDE/RAKYAT ACEHRAKYAT ACEH | ACEH TAMIANG – Komando Distrik Militer (Kodim) 0117/Aceh Tamiang memastikan sejumlah proyek rehabilitasi infrastruktur jembatan pascabanjir di Kabupaten Aceh Tamiang telah memasuki tahap penyelesaian. Salah satu capaian krusial adalah rampungnya Jembatan Gantung Perintis Desa Lubuk Sidup – Desa Aras Sembilan yang menghubungkan Kecamatan Sekerak dengan Kecamatan Bandar Pusaka.

Dandim 0117/Aceh Tamiang Letkol Arm Raden Subhi Fitra Jaya, S.Sos, M.M menyatakan bahwa proyek yang dikerjakan bersama tim Vertical Rescue Indonesia tersebut berhasil diselesaikan dalam waktu 1,5 hingga 2 bulan, lebih cepat dari target awal yang ditetapkan selama tiga bulan.
Progres Infrastruktur
Hingga awal Maret 2026, TNI telah menangani beberapa titik kerusakan infrastruktur dengan rincian sebagai berikut: Jembatan Gantung Lubuk Sidup-Aras Sembilan): Rampung 100%. Memiliki bentang antar-gawang sepanjang 180 meter dengan total panjang kawat mencapai 220 meter.
Jembatan Gantung Bandar Mahligai (Sekerak): Progres pembangunan mencapai 45%. Jembatan ini memiliki bentang 240 meter dan melintasi Sungai Tamiang. Jembatan Bailey Tanjung Genteng (Kejuruan Muda): Rampung 100%. Memiliki panjang 30 meter dan siap diresmikan.
Jembatan Gantung Desa Pangkalan (Kejuruan Muda): Rampung 100% dan sudah dapat dilalui kendaraan roda empat. Jembatan Armco (gorong-gorong plat baja): Sebanyak 3 unit jembatan baja setengah lingkaran telah dipasang di Desa Suka Mulia, Kecamatan Rantau, Desa Tanah Terban, Kecamatan Karang Baru dan Desa Blang Kandis, Kecamatan Bandar Khalifah. Infrastruktur ini diklaim mampu menahan beban di atas 5 ton.
“Kendala teknis di lapangan relatif minim, namun tantangan utama ada pada ketersediaan material khusus seperti angkur dan kabel seling yang harus didatangkan dari luar daerah, termasuk Medan dan Jakarta,” ujar Dandim di Karang Baru, Senin (2/3).
Dukungan Logistik dan Ekonomi
Menurutnya pembangunan infrastruktur ini mendapat dukungan pendanaan dari Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Infrabangwil). Meskipun saat ini statusnya masih jembatan perintis atau gantung yang terbatas untuk kendaraan roda dua dan tiga, keberadaannya dinilai vital sebagai “kado Ramadan” bagi masyarakat.
Secara terpisah, Wakil Ketua I DPRK Aceh Tamiang, Syaiful Bahri, mengapresiasi langkah cepat TNI dalam memulihkan konektivitas tersebut. Ia menekankan bahwa Jembatan Lubuk Sidup merupakan urat nadi bagi lebih dari 15 desa.
“Tanpa jembatan ini, masyarakat harus memutar melalui Sungai Liput atau Pulau Tiga dengan tambahan waktu tempuh hingga 2 jam. Ini berdampak signifikan pada distribusi ekonomi, akses kesehatan, dan pendidikan,” tutur Syaiful saat ditemui, Selasa (3/3).
Dorongan Jembatan Permanen
Meski jembatan darurat telah berfungsi, pihak legislatif meminta Pemerintah Provinsi Aceh dan Pemerintah Pusat untuk segera mengalokasikan anggaran pembangunan jembatan permanen.
Sebagai informasi, jembatan permanen sebelumnya yang dibangun menggunakan Dana Otonomi Khusus Aceh (DOKA) ambruk akibat luapan Sungai Tamiang setinggi 10 meter pada akhir November 2025. Hingga proyek permanen terealisasi, masyarakat diimbau untuk mematuhi kapasitas beban jembatan gantung guna menjaga ketahanan struktur bangunan.
Dijadwalkan poyek fungsional ini menunggu peresmian oleh Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak atau Menko Infrabangwil Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). (ddh)
Tidak ada komentar