x

H + 15 Pasca Banjir, Beras dan BBM Hanya Bisa Transaksi di Desa Seni Antara

waktu baca 3 menit
Rabu, 10 Des 2025 12:39 71 redaksi

RAKYAT ACEH | ACEH UTARA : Berjalan jauh menapak tanah berlumpur bukan persoalan bagi masyarakat Takengon, Aceh Tengah dan Bener Meriah. Dapur harus tetap berasap. Berbekal pesan berantai dari mulut ke mulut puluhan kilometer tetap ditempuh.

Sinyal HP tak ada, apalagi listrik tentu padam. Jalan dan jembatan porak-poranda. Sedangkan kebutuhan akan beras dan BBM sangat mendesak. Syukurnya, informasi untuk mendapatkan beras dengan cepat tersebar ke masyarakat seantero dataran tinggi Gayo, melalui pesan berantai dari mulut ke mulut milik Allah yang tetap Update di penghujung tahun 2025.

Titik pasar tertuju kepada Desa Seni Antara, Kecamatan Permata. Semua transaksi kebutuhan akan masyarakat berlangsung disitu. Padahal, kawasan ini tidak terlepas dari terjangan banjir bandang dan tanah longsor.

Beruntung, Desa ini berada di lintasan jalan KKA-Bener Meriah menuju Lhokseumawe dan Aceh Utara, hanya hari ketiga pasca banjir 26 November lalu, tidak bisa dilalui.

Pedagang kagetan bermunculan. Satu sisi mencari laba, sisi lainnya mempermudah warga terisolir memperoleh beras. Bukankan ini bisa masuk katagori beramal pula ?

Berjalan kaki seharian turun naik bukit tidak dipersoalkan. Badan berlumpur menjadi lukisan perjuangan hidup. Beras dan BBM harus diperoleh. Setidaknya itulah disampaikan Irwan warga Atu Lintang, Takengon, Aceh Tengah kepada Rakyat Aceh, disela-sela saat isterahat bersama kawannya, di sudut bukit.

“Sehari semalam kami tiba disini untuk dapat beras dan BBM. Beras kami beli di Lhokseumawe,” katanya sembari menujuk ukuran sak 15 kg.
Tidak banyak beras dibawa pulang ke Atu Lintang. Jumlah sak beras, sesuai dengan jumlah kawannya yang ikut. Karena, beras nantinya – lebih banyak digendong satu sak per orang. Plus, BBM ukuran lima liter di jerigen.

Namun, syukurlah, beras pun hingga Selasa siang masih terpenuhi di pasar kaget Seni Antara. Ukuran 15 kg harus merogoh kocek Rp 265 ribu. Sedangkan BBM jenis Pertamax Rp 20 ribu perliter. Siapa pemasok beras ? Tentu saja warga Lhokseumawe dan Aceh Utara dengan gigih pula menerobos longsor jalan KKA di kawasan Gunung Salak.
Iwan sempat bercerita, BBM Pertamax tembus Rp 80 ribu per liter. Itu pun sangat sulit didapat.

“Pertamax didatangkan penjual musiman dari Lhokseumawe. Tetapi, pusat penjualan di Desa Seni Antara. Kami semua ini dapat kabar daripembicaraan mulut ke mulut. Maka banyak orang dari Jagong Joget, Pegasing dan Atu Lintang menuju kemari,” paparnya panjang lebar.
Setelah ada beras, BBM jadi inceran tambah Iwan. “Ada minyak, kami bisa melihat ke kebun untuk bersih-bersih lahan. Sebab, kebun kami jauh-jauh dari rumah.

Ikan asin pun menjadi primadona warga berhawa sejuk itu. Tak terkecuali Iwan dan rekannya. ikan asin jenis anak kembung dilepas Rp 80 ribu sekilo. “Banyak pak yang minat ikan asin sekarang. Harga memang agak mahal, Ya, Rp 80 ribu,” kata Surya penjual dadakan. Kendati agak mahal, stok ikan asin cepat menipis di lapaknya.

Kabut tipis disertai hujan rintik-rintik masih memberikan warna keindahan Tanah Gayo, semoga segera pulih dari derita banjir dan longsor. Sudah H+15 pasca banjir bandang. (ung).

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x