x

Peran Wanita Aceh untuk Kesejahteraan Rumah Tangga

waktu baca 5 menit
Jumat, 10 Jul 2026 15:59 33 redaksi

Oleh: Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK serta Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh

 

Setiap pagi, di ribuan dapur dan ladang Aceh, perempuan memulai pekerjaannya. Bukan sekadar mengurus rumah, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi keluarga. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pada Agustus 2025, jumlah perempuan bekerja di Aceh mencapai 962.758 orang. Angka ini naik dari 941.033 orang pada 2024 dan 906.469 orang pada 2023. Tren meningkat. Namun, di balik angka itu, masih ada cerita yang belum selesai.

 

Partisipasi yang Masih Tertinggal

 

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan Aceh hanya 50,01 persen. Artinya, dari dua perempuan usia kerja, hanya satu yang aktif di pasar tenaga kerja. Bandingkan dengan laki-laki yang mencapai 80,68 persen. Kesenjangan ini bukan karena malas. Perempuan Aceh memikul beban ganda: urusan domestik dan ekonomi. Norma sosial masih menempatkan perempuan sebagai pengurus rumah tangga. Akibatnya, banyak potensi yang terpendam.

 

Data BPS 2025 menunjukkan 36,37 persen perempuan usia kerja masih berstatus mengurus rumah tangga. Mereka tidak masuk dalam hitungan angkatan kerja. Padahal, aktivitas domestik mereka sangat berharga. Sayangnya, nilai ekonomi dari pekerjaan rumah tangga tidak terhitung. Potensi kontribusi mereka terhadap kesejahteraan keluarga menjadi tidak terlihat.

 

Sektor Pekerjaan dan Kesejahteraan

 

Penelitian Elisa Ismi (2026) terhadap 8.025 perempuan yang bekerja di Aceh mengungkap fakta penting. Perempuan yang bekerja di sektor nonpertanian memiliki pengeluaran konsumsi per kapita 12,41 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang bekerja di pertanian. Dimana perempuan yang bekerja di sektor nonpertanian rata-rata pengeluaranya Rp1,53 juta per bulan, sementara di sektor pertanian hanya Rp1,15 juta. Perbedaan ini signifikan.

 

Mengapa demikian? Sektor pertanian masih didominasi usaha skala kecil dengan produktivitas rendah. Perempuan di sektor ini sering menjadi pekerja keluarga tanpa upah. Sektor nonpertanian seperti perdagangan, jasa, industri pengolahan, memberikan pendapatan lebih stabil dan peluang berkembang. Data BPS 2025 menunjukkan perempuan Aceh paling banyak bekerja di sektor pertanian (312.218 orang), jasa kemasyarakatan (292.673 orang), dan perdagangan (224.685 orang). Peralihan dari pertanian ke nonpertanian menjadi kunci peningkatan kesejahteraan.

 

Penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa pengaruh sektor pekerjaan terhadap kesejahteraan tidak berdiri sendiri. Faktor-faktor lain turut berperan. Akses kredit, misalnya, meningkatkan pengeluaran konsumsi rumah tangga sekitar 12,53 persen pada sektor pertanian dan 10,19 persen pada sektor nonpertanian. Setiap tambahan satu anggota rumah tangga menurunkan pengeluaran per kapita sekitar 11,4 persen. Ini menunjukkan bahwa jumlah tanggungan memengaruhi kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan.

 

Pendidikan: Modal Utama

 

Pendidikan menentukan pilihan sektor pekerjaan. Penelitian Elisa Ismi membuktikan perempuan berpendidikan SMA/sederajat memiliki peluang 3,72 kali lebih besar bekerja di nonpertanian dibandingkan dengan yang tidak sekolah. Lulusan perguruan tinggi peluangnya 25 kali lebih besar. Pendidikan menengah ke atas membuka akses ke pekerjaan lebih produktif.

 

Dampaknya terhadap kesejahteraan juga nyata. Perempuan berpendidikan perguruan tinggi yang bekerja di sektor nonpertanian memiliki pengeluaran konsumsi 69 persen lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak bersekolah. Pendidikan bukan sekadar ijazah. Ia adalah tiket keluar dari kemiskinan struktural.

 

Data juga menunjukkan perempuan bekerja di Aceh mayoritas berpendidikan SMA/sederajat (28,9 persen) dan perguruan tinggi (24,6 persen). Hanya 9,1 persen yang tidak sekolah. Kondisi ini menggembirakan. Namun, masih ada pekerjaan rumah. Perempuan yang tidak sekolah atau hanya lulus SD cenderung terjebak di sektor pertanian dengan pendapatan rendah. Mereka membutuhkan program peningkatan keterampilan dan literasi agar bisa beralih ke sektor lebih produktif.

 

Tantangan yang Masih Ada

 

Meski meningkat, tantangan tetap besar. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) perempuan Aceh mencapai 7,52 persen, jauh lebih tinggi dari laki-laki 4,48 persen. Struktur pasar kerja masih didominasi oleh sektor informal (63,91 persen). Pekerja informal tidak memiliki jaminan sosial, upah layak, atau kepastian pendapatan.

 

Jumlah anak balita dalam rumah tangga juga menjadi penghambat. Setiap tambahan satu anak balita menurunkan peluang perempuan bekerja di nonpertanian hingga 17,5 persen. Tanggung jawab pengasuhan masih membatasi mobilitas perempuan. Akses kredit juga menjadi faktor penting. Perempuan dari rumah tangga penerima kredit memiliki peluang 1,68 kali lebih besar bekerja di nonpertanian. Namun, hanya 12,5 persen rumah tangga perempuan bekerja di Aceh yang memiliki akses kredit.

 

Rata-rata umur perempuan yang bekerja di Aceh adalah 41,5 tahun. Perempuan di sektor pertanian rata-rata berusia 46,5 tahun, lebih tua dari sektor nonpertanian yang rata-rata 38,6 tahun. Ini menunjukkan perempuan muda lebih mudah masuk sektor nonpertanian. Sebaliknya, perempuan tua cenderung tetap di pertanian karena pengalaman dan keterikatan pada usaha keluarga.

 

Arah Kebijakan

 

Pemerintah Aceh perlu mengambil langkah nyata. Pertama, perluas akses pendidikan menengah dan tinggi bagi perempuan. Kedua, sediakan pelatihan keterampilan yang relevan dengan pasar kerja nonpertanian seperti perdagangan, jasa, industri kreatif. Ketiga, perluas akses kredit mikro tanpa agunan bagi perempuan pelaku usaha. Keempat, bangun fasilitas penitipan anak di sentra ekonomi untuk meringankan beban pengasuhan.

 

Sektor pertanian juga tidak boleh diabaikan. Perlu modernisasi teknologi, pelatihan teknis, dan pengolahan hasil pertanian agar nilai tambah meningkat. Perempuan di sektor pertanian berhak mendapatkan kesejahteraan yang sama. Pelatihan teknis dan akses pasar dapat membantu mereka meningkatkan produktivitas. Pengembangan agroindustri membuka peluang perempuan tidak hanya sebagai petani, tetapi juga sebagai pengolah hasil pertanian yang bernilai tambah.

 

Penutup

 

Perempuan Aceh bukan sekadar objek pembangunan. Mereka adalah subjek penggerak kesejahteraan rumah tangga. Ketika perempuan bekerja di sektor produktif, rumah tangga menjadi lebih baik, anak sekolah lebih tinggi, dan masa depan lebih cerah. Data telah berbicara. Kini saatnya kebijakan bergerak. Jangan biarkan potensi setengah penduduk Aceh hanya menjadi angka di laporan statistik. Wujudkan Aceh yang lebih sejahtera melalui pemberdayaan perempuan yang nyata dan berkelanjutan.

 

Peningkatan partisipasi perempuan dalam ekonomi bukan pilihan, melainkan keharusan. Aceh membutuhkan seluruh sumber dayanya untuk bangkit dan sejahtera. Sudah saatnya perempuan Aceh mendapatkan ruang yang layak untuk berkontribusi. Sudah saatnya kebijakan berpihak pada mereka. Aceh yang sejahtera dimulai dari rumah tangga yang kuat. Dan rumah tangga yang kuat dimulai dari perempuan yang berdaya.

 

Perempuan Aceh adalah pilar ekonomi keluarga. Mereka bekerja di sawah, di pasar, di kantor, dan di rumah. Kontribusi mereka nyata. Tingkatkan akses pendidikan, permudah akses kredit, dan sediakan infrastruktur pendukung. Dengan begitu, perempuan Aceh tidak hanya bekerja, tetapi juga sejahtera. Dan ketika perempuan sejahtera, keluarga sejahtera. Ketika keluarga sejahtera, Aceh sejahtera.

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x