x

Melalui KKN 2026, ISBI Membumikan Literasi Budaya Lokal untuk Kesejahteraan Hakiki

waktu baca 6 menit
Sabtu, 1 Agu 2026 16:55 39 redaksi

Oleh: Muhammad Aqil

Mahasiswa Desain Komunikasi Visual ISBI Aceh dan Peserta KKN Desa Kuala Baro

Muhammad.aqil.isbi@gmail.com

Aceh adalah satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan syariat Islam sebagai pedoman hidup. Syariat bukan sekadar aturan formal. Syariat adalah tentang menghadirkan keadilan, menjaga kehormatan manusia, dan membangun masyarakat yang berakhlak. Kesejahteraan hakiki dalam Islam mencakup kesejahteraan dunia dan kedamaian di akhirat. Kesejahteraan tidak hanya diukur dari materi. Kesejahteraan juga diukur dari martabat, identitas, dan kebermaknaan hidup.

Pertanyaannya adalah bagaimana mewujudkan kesejahteraan hakiki di tengah masyarakat Aceh hari ini? Jawabannya terletak pada penguatan akar budaya. Budaya adalah cerminan nilai-nilai luhur yang diwariskan turun-temurun. Di Aceh, budaya dan syariat Islam tumbuh dalam satu tarikan napas. Keduanya saling menguatkan. Karena itu, upaya membumikan literasi budaya lokal bukan sekadar kegiatan pelestarian. Ini adalah jalan menuju kesejahteraan yang sesungguhnya.

ISBI Aceh mengambil langkah nyata. Pada 13 Juli 2026, sebanyak 38 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Reguler ISBI Aceh resmi diterjunkan ke Kecamatan Kuala Pesisir, Kabupaten Nagan Raya. Mereka mengabdi selama satu bulan hingga 12 Agustus 2026 di tiga gampong: Kuala Baro, Lhok, dan Padang Rebek. Tema yang diangkat adalah Membumikan Literasi Budaya Bangsa untuk menggapai kesejahteraan masyarakat secara hakiki.

Angka 38 mahasiswa ini dekat dengan angka 40 yang disebutkan dalam berbagai laporan. Perbedaan jumlah tidak mengurangi makna. Yang penting adalah esensi pengabdian yang mereka bawa.

Sebelum terjun ke lapangan, para peserta KKN diberikan pembekalan. Tujuannya agar mereka mampu melaksanakan tugas pokok dan fungsi dengan lebih baik. Pembekalan itu memastikan setiap program yang dijalankan memiliki makna bagi masyarakat setempat. ISBI Aceh tidak mengirim mahasiswa tanpa bekal. Mereka dipersiapkan secara matang.

Program KKN ini membawa berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis seni, budaya, dan ekonomi kreatif. Ini bukan program seremonial. Ini adalah intervensi terukur yang dirancang untuk menjawab kebutuhan riil di desa. Kepala LPPM ISBI Aceh, Saniman Andi Kafri, menegaskan bahwa mahasiswa tidak hanya hadir sebagai peserta KKN. Mereka adalah mitra masyarakat dalam merancang solusi bagi berbagai persoalan di desa.

Apa makna literasi budaya bagi kesejahteraan hakiki di Aceh?

Literasi budaya mencakup pengetahuan mendalam tentang bahasa, adat istiadat, nilai-nilai, dan norma sosial. Di Aceh, literasi budaya berarti memahami adat bak po teumeureuhom, hukom bak syiah Kuala, qanun bak putro phang, dan reusam bak laksamana. Ini berarti memahami bahwa budaya Aceh adalah manifestasi dari nilai-nilai Islam yang telah berabad-abad hidup di Tanah Rencong.

Ketika mahasiswa ISBI Aceh masuk ke desa-desa di Nagan Raya, mereka tidak datang sebagai orang asing. Mereka datang sebagai bagian dari masyarakat yang ingin menghidupkan kembali kesadaran budaya. Mereka mengajak masyarakat mengenali kembali kekayaan yang selama ini mungkin terabaikan. Tari tradisional, musik, kerajinan tangan, cerita rakyat semua itu adalah aset. Bukan sekadar aset budaya, tetapi juga aset ekonomi.

Kecamatan Kuala Pesisir di Nagan Raya memiliki karakteristik unik. Kecamatan ini adalah salah satu kecamatan terluas di kabupaten tersebut dan dihuni oleh dua suku dominan: Aceh dan Jawa. Keberagaman ini adalah kekayaan sekaligus tantangan. Literasi budaya di sini berarti membangun jembatan antarbudaya. Ini berarti menumbuhkan rasa saling menghormati dan menghargai perbedaan. Inilah fondasi kesejahteraan hakiki: masyarakat yang rukun, damai, dan saling menguatkan.

Nagan Raya Fair 2026 yang digelar menjadi momentum penting. Acara ini menjadi etalase UMKM dan budaya Aceh, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui pengembangan UMKM serta pelestarian seni dan budaya lokal. Mahasiswa KKN ISBI Aceh berada di tengah geliat kebangkitan budaya dan ekonomi ini. Mereka bukan penonton. Mereka adalah aktor yang ikut menggerakkan.

Kesejahteraan hakiki tidak bisa dicapai melalui pertumbuhan ekonomi semata. Aceh membutuhkan pembangunan yang berlandaskan nilai-nilai. Syariat Islam mengajarkan bahwa kemakmuran harus diiringi dengan keberkahan. Keberkahan lahir ketika masyarakat hidup dalam kesadaran budaya yang kuat. Ketika generasi muda mengenali dan mencintai budayanya sendiri, mereka memiliki benteng moral. Mereka tidak mudah terombang-ambing oleh arus globalisasi yang kerap melunturkan identitas.

ISBI Aceh sebagai institut seni dan budaya satu-satunya di Sumatra memiliki tanggung jawab besar. Kampus ini bukan sekadar tempat belajar seni. ISBI Aceh adalah ujung tombak pengembangan budaya lokal. Melalui KKN, ISBI Aceh membawa kampus ke tengah masyarakat. Ilmu yang diperoleh di bangku kuliah diimplementasikan secara langsung.

Program KKN 2026 di Nagan Raya adalah model pengabdian yang tepat. Mahasiswa tidak hanya mengajar atau membuat workshop. Mereka hidup bersama masyarakat selama satu bulan penuh. Mereka merasakan suka duka warga desa. Mereka belajar dari masyarakat, dan masyarakat belajar dari mereka. Ini adalah pertukaran pengetahuan yang setara. Ini adalah proses saling memperkaya.

Camat Kuala Pesisir, Darmansyah, menyambut baik kedatangan mahasiswa ISBI Aceh. Pemerintah kecamatan bersama aparatur gampong siap memfasilitasi setiap kegiatan. Dukungan penuh dari pemerintah daerah adalah kunci keberhasilan. KKN tidak akan berjalan optimal tanpa sinergi antara mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat.

Saniman Andi Kafri menambahkan bahwa potensi lokal setiap gampong harus diidentifikasi, dikembangkan, dan dipromosikan. Seni dan budaya bukan hanya identitas daerah. Seni dan budaya dapat menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang meningkatkan kesejahteraan. Ini pernyataan yang tepat dan relevan. Ekonomi kreatif berbasis budaya adalah sektor yang tumbuh pesat di berbagai daerah. Aceh memiliki modal besar di bidang ini. Tinggal bagaimana mengelolanya dengan serius dan profesional.

Aceh tidak boleh kehilangan Syariat Islam. Syariat akan kehilangan makna ketika ia hanya menjadi simbol politik, slogan seremonial, dan identitas daerah tanpa tercermin dalam kebijakan, keteladanan pemimpin, budaya kampus, maupun perilaku masyarakat. KKN ISBI Aceh 2026 adalah salah satu wujud nyata bahwa syariat Islam dihidupi, bukan sekadar diucapkan. Membumikan literasi budaya lokal adalah bagian dari mengamalkan syariat Islam. Syariat mengajarkan umatnya untuk mengenali asal-usul, menjaga warisan, dan membangun peradaban.

Kesejahteraan hakiki di Aceh akan tercapai ketika setiap individu memiliki akses terhadap pendidikan yang baik, ekonomi yang layak, dan lingkungan sosial yang adil. Tetapi di atas semua itu, kesejahteraan hakiki tercapai ketika masyarakat Aceh bangga dengan identitasnya. Ketika anak-anak Aceh mengenal tari Saman, rateb meuseukat, dan seudati, bukan sekadar tontonan, melainkan bagian dari diri mereka. Bahasa Aceh tidak lagi dianggap kuno, tetapi dijaga dan diwariskan. Ketika nilai-nilai Islam dan budaya lokal berjalan beriringan, bukan saling bertentangan.

ISBI Aceh melalui KKN 2026 telah memulai langkah itu. 38 mahasiswa di tiga gampong di Nagan Raya adalah pionir. Mereka adalah duta literasi budaya. Mereka adalah agen perubahan yang membawa pesan bahwa kesejahteraan hakiki dimulai dari mengenali dan mencintai budaya sendiri.

Program ini baru berlangsung satu bulan. Tetapi dampaknya akan terasa jauh setelah mahasiswa kembali ke kampus. Masyarakat akan terus mempraktikkan apa yang telah dipelajari. Anak-anak akan terus menari dan bernyanyi. Para ibu akan terus membuat kerajinan yang bernilai jual. Para pemuda akan terus berkarya dengan semangat baru.

Itulah kesejahteraan hakiki. Bukan kemewahan yang fana. Tetapi kehidupan yang bermakna, berbudaya, dan berlandaskan nilai-nilai luhur. Aceh membutuhkan lebih banyak program seperti ini. Bukan hanya dari ISBI Aceh, tetapi juga dari semua elemen masyarakat. Membumikan literasi budaya lokal adalah tanggung jawab kita semua.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x