x

Pentingnya Mengintegrasikan Kemampuan Organisasi Hijau dan Kesiapan AI untuk Kinerja Pariwisata Berkelanjutan

waktu baca 7 menit
Rabu, 9 Sep 2026 15:39 24 redaksi

Oleh: Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK serta Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh

apridar@usk.ac.id

 

Industri pariwisata berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, tekanan untuk beroperasi secara berkelanjutan semakin kuat. Kerusakan lingkungan dan pengawasan pemangku kepentingan mendorong organisasi menggunakan tanggung jawab sosial perusahaan sebagai alat strategis untuk meningkatkan kinerja lingkungan. Di sisi lain, revolusi kecerdasan buatan (AI) menawarkan peluang besar untuk transformasi.

Namun, potensi AI tidak akan terwujud secara otomatis. Banyak perusahaan kesulitan menerjemahkan potensi AI menjadi peningkatan kinerja karena kesenjangan kesiapan teknologi dan organisasi. Di sinilah peran krusial integrasi antara kemampuan organisasi hijau dan kesiapan AI.

Kemampuan organisasi hijau dan kesiapan AI bukanlah entitas terpisah. Keduanya adalah dua sisi mata uang yang sama untuk mencapai kinerja pariwisata berkelanjutan. Artikel ini akan menguraikan mengapa integrasi tersebut penting, didukung oleh data dan fakta empiris terkini.

Kemampuan Organisasi Hijau sebagai Fondasi

Kemampuan organisasi hijau mencakup orientasi kewirausahaan hijau dan modal intelektual hijau. Orientasi kewirausahaan hijau adalah kecenderungan perusahaan untuk berinovasi dan mengambil risiko dalam praktik ramah lingkungan. Modal intelektual hijau adalah pengetahuan, keterampilan, dan aset tidak berwujud lainnya yang berfokus pada keberlanjutan.

Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan ini memiliki peran penting. Sebuah studi terhadap 371 hotel di Pakistan mengkonfirmasi bahwa tanggung jawab sosial perusahaan tidak hanya berdampak langsung pada kinerja lingkungan. Dampaknya juga terjadi secara tidak langsung melalui mediasi serial orientasi kewirausahaan hijau dan modal intelektual hijau. Artinya, perusahaan perlu secara aktif mengembangkan kemampuan internal hijau untuk memaksimalkan dampak positif inisiatif keberlanjutan mereka.

Lebih lanjut, kemampuan dinamis hijau (green dynamic capabilities) terbukti mempengaruhi kinerja lingkungan secara positif. Hubungan ini dimediasi secara signifikan oleh eko-inovasi. Eko-inovasi adalah hasil dari kemampuan organisasi untuk menyerap, mengintegrasikan, dan menerapkan pengetahuan hijau. Tanpa kemampuan internal yang kuat, investasi hijau tidak akan menghasilkan inovasi yang berarti.

Studi lain pada hotel kecil dan menengah di Pakistan menegaskan hal ini. Orientasi kewirausahaan hijau terbukti mendorong kinerja berkelanjutan. Namun, kemampuan ini saja tidak cukup di era digital. Diperlukan elemen tambahan.

Kesiapan AI sebagai Katalisator

Kesiapan AI mengacu pada kesiapan teknologi dan organisasi untuk mengadopsi dan memanfaatkan AI. Ini mencakup infrastruktur digital, keterampilan karyawan, dan dukungan manajemen.

Kesiapan AI berperan sebagai katalisator. Studi yang sama di Pakistan menemukan bahwa kesiapan perubahan AI memoderasi secara positif hubungan antara tanggung jawab sosial perusahaan dan orientasi kewirausahaan hijau. Artinya, kemampuan beradaptasi digital memperkuat hubungan antara tanggung jawab sosial dan strategi hijau. Perusahaan yang siap AI lebih mampu mengubah komitmen sosial-lingkungan menjadi orientasi strategis yang nyata.

Penelitian tentang transportasi pariwisata mengkonfirmasi pentingnya kesiapan. Ketiga dimensi kesiapan AI (infrastruktur digital, keterampilan karyawan, dan dukungan manajemen) secara signifikan mendorong adopsi AI. Adopsi ini kemudian meningkatkan efisiensi operasional, tingkat okupansi, kepuasan pelanggan, dan profitabilitas. Dengan kata lain, kesiapan adalah kunci untuk membuka nilai AI.

Di Indonesia, sebuah penelitian menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) dengan 12 pakar dari berbagai sektor menetapkan prioritas strategis untuk pengembangan pariwisata berbasis AI. Para pakar menyepakati lima prioritas utama:

 

Pertama memperkuat infrastruktur digital di destinasi wisata. Kedua meningkatkan literasi digital dan kapasitas AI untuk UMKM. Ketiga mengembangkan platform pariwisata AI nasional terintegrasi.Ke-empat merumuskan regulasi privasi data dan etika AI. Kelima mempromosikan adopsi AI yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Prioritas dari rangkaiaan tersebut menunjukkan bahwa kesiapan AI di Indonesia harus dimulai dari pondasi infrastruktur dan sumber daya manusia, terutama untuk UMKM yang menjadi tulang punggung sektor pariwisata.

Kekuatan Integrasi

Integrasi kemampuan hijau dan kesiapan AI menghasilkan sinergi yang kuat. AI dapat memperkuat dan mempercepat praktik hijau. AI memungkinkan pelacakan konsumsi sumber daya secara real-time dan analisis prediktif permintaan energi. Data ini membantu perusahaan mengidentifikasi inefisiensi dan mengoptimalkan operasi. AI dan kecerdasan manusia berkolaborasi untuk menerjemahkan wawasan ini menjadi tindakan strategis. Kolaborasi ini meningkatkan efektivitas praktik ekonomi sirkular dan kinerja lingkungan.

Kemampuan AI, seperti analitik big data, berfungsi sebagai aset strategis untuk kecerdasan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) . AI memungkinkan pemantauan real-time dan perencanaan skenario. Namun, nilai AI terwujud melalui mekanisme pembelajaran. Kemampuan belajar hijau yang didukung AI memediasi hubungan antara analitik big data dan kinerja ESG. Organisasi harus secara formal melembagakan mekanisme pembelajaran. Mereka perlu menafsirkan keluaran AI dan menerjemahkannya menjadi protokol adaptif baru.

Kepemimpinan yang bertanggung jawab bertindak sebagai mekanisme tata kelola untuk memprioritaskan dan mempertahankan integrasi wawasan AI ke dalam kinerja ESG jangka panjang. Pemimpin harus memiliki mandat etis dan pemikiran sistem untuk memanfaatkan wawasan AI demi kepentingan semua pemangku kepentingan. Ini berarti pengembangan kepemimpinan harus mencakup etika AI dan tata kelola multi-pemangku kepentingan.

Studi tentang inovasi layanan hijau di perusahaan pariwisata China menemukan bahwa kemampuan digital dan AI berhubungan positif dengan kesiapan teknologi. Kesiapan teknologi kemudian mendorong inovasi layanan hijau. Namun, hubungan antara kesiapan teknologi dan inovasi hijau mengikuti pola lengkung (curvilinear). Tingkat kesiapan yang terlalu tinggi justru dapat menghambat inovasi. Fleksibilitas proses memoderasi hubungan lengkung ini. Ini adalah peringatan penting. Kesiapan AI harus diimbangi dengan fleksibilitas. Organisasi tidak boleh menjadi terlalu kaku dalam sistem AI mereka.

Implikasi Praktis

Integrasi kemampuan hijau dan kesiapan AI memiliki implikasi praktis yang jelas. Pertama, organisasi pariwisata harus memperlakukan AI sebagai aset strategis untuk tujuan ESG, bukan sekadar alat efisiensi. Investasi AI harus selaras dengan target net-zero dan tanggung jawab sosial.

Kedua, organisasi harus memformalkan mekanisme pembelajaran. Bentuk tim lintas fungsi untuk menafsirkan keluaran AI. Terapkan sistem umpan balik loop tertutup untuk memastikan pembelajaran berkelanjutan.

Ketiga, kepemimpinan yang bertanggung jawab sangat penting. Integrasikan etika AI ke dalam program pengembangan kepemimpinan. Ini memastikan para pemimpin memiliki mandat untuk menggunakan AI secara bertanggung jawab. Mereka harus mengurangi risiko pencucian hijau (greenwashing) atau penyalahgunaan AI.

Keempat, kembangkan peta jalan kedewasaan digital. Ini memungkinkan adopsi AI secara bertahap dan terencana. Investasi dalam pelatihan perubahan manajemen dan pelatihan berkelanjutan untuk menutup kesenjangan literasi digital.

Kelima, bangun tata kelola data yang kuat dan platform digital. Ini untuk menskalakan aplikasi AI seperti chatbot dan analitik prediktif. Di Indonesia, memperkuat infrastruktur digital dan membangun kapasitas AI untuk UMKM adalah langkah awal yang kritis.

Tantangan dan Jalan ke Depan

Tantangan implementasi tidak bisa diabaikan. Ada kesenjangan infrastruktur digital antara daerah perkotaan dan pedesaan di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Keterbatasan sumber daya manusia dan biaya adopsi AI menjadi hambatan signifikan bagi pelaku pariwisata kecil dan menengah.

Biaya adopsi AI dan kurangnya tenaga terampil adalah hambatan nyata. Studi di Indonesia mengidentifikasi bahwa meningkatkan literasi digital dan kapasitas AI untuk UMKM adalah prioritas strategis. Penelitian di Bali juga mengkonfirmasi adanya hambatan transformasi digital di kalangan UMKM pariwisata.

Untuk mengatasi tantangan ini, pendekatan bertahap diperlukan. Mulailah dengan proyek percontohan AI yang berfokus pada area keberlanjutan spesifik, seperti manajemen energi. Bangun kapasitas internal melalui pelatihan dan kemitraan. Kembangkan kebijakan yang mendukung investasi dalam infrastruktur digital dan pengembangan keterampilan. Insentif untuk adopsi AI berkelanjutan dapat mendorong partisipasi yang lebih luas.

Penelitian di masa depan harus menggunakan desain longitudinal untuk melacak pengembangan kemampuan iteratif dari waktu ke waktu . Studi komparatif lintas negara dan sektor akan membantu menguji batasan temuan saat ini. Penelitian juga perlu menggali elemen mikrofondasi tambahan seperti pola pikir digital dan kapasitas penyerapan.

 

Kesimpulan

Industri pariwisata tidak bisa lagi memilih antara keberlanjutan dan teknologi. Keduanya harus berjalan beriringan. Kemampuan organisasi hijau menyediakan fondasi orientasi dan pengetahuan. Kesiapan AI bertindak sebagai katalisator yang memperkuat dan mempercepat praktik hijau. Sinergi keduanya adalah kunci untuk membuka kinerja pariwisata berkelanjutan yang sejati.

Bukti empiris dengan jelas menunjukkan bahwa integrasi ini bukan sekadar pilihan, melainkan keharusan strategis. Organisasi yang gagal mengintegrasikan kemampuan hijau dan kesiapan AI berisiko tertinggal. Mereka akan kehilangan peluang untuk meningkatkan efisiensi, inovasi, dan daya saing di pasar yang semakin sadar lingkungan dan digital.

Peta jalan ke depan menuntut komitmen. Komitmen untuk membangun infrastruktur digital, mengembangkan keterampilan, dan menumbuhkan kepemimpinan yang bertanggung jawab. Untuk Indonesia, ini berarti memperkuat ekosistem digital dan memberdayakan UMKM. Hanya dengan pendekatan terintegrasi ini, pariwisata dapat menjadi kekuatan untuk kebaikan. Pariwisata dapat memberikan nilai ekonomi sekaligus melindungi planet dan memberdayakan masyarakat.

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x