Memanfaatkan rakit pasca bencana Hidrometeorologi jembatan sungai Riseh Sawang, putus, Rabu 26 November 2025 lalu. Guru, petugas medis dan masyarakat setiap hari memanfaatkan jasa rakit sederhana untuk menyeberang ke Desa Guci dan sebaliknya ke Sawang, Aceh Utara, Selasa (6/1). IDRIS BENDUNG-RAKYAT ACEHHujan semalam sudah berhenti. Air sungai mengalir tenang. Itulah yang sangat diharapkan Nurbaiti, S.Pd, guru SMP 5 Sawang, Aceh Utara. Puluhan muridnya sudah menunggu.

Laporan : IDRIS BENDUNG, Aceh Utara
Kewajiban mengajar demi masa depan anak didik tetap diutamakan. Nyawa pun dipertahuhkan. Apalagi cuma ongkos penyeberangan naik rakit hanya Rp 10 ribu.
Itulah yang dilakukan dalam dua hari terakhir ini. “Inilah kewajiban kami sebagai guru. Walaupun harus menyeberangi sungai Riseh, Sawang, dengan menggunakan rakit seadanya. Anak didik butuh masa depan cerah,” kata Nurbaiti dengan tetap semangat.
Didampingi rekan seprofesi, ia menyebutkan bahwa kawasan Desa Guci lokasi sekolah SMP 5 merupakan desa terdampak parah. Banyak rumah kediaman murid rusak. Rasa trauma pasti dirasakan mereka.
“Dengan tetap bersekolah, akan timbul rasa tenang berjumpa sesama rekannya. Ini yang sangat kita harapkan diawal-awal memasuki masa belajar semester II,” pungkasnya.
Senada disampaikan Alfiani, S.Pd guru SD 15. Sebagian besar muridnya berada dilokasi pengungsian. Namun, setelah dua hari masuk masa sekolah, antusias anak didik cukup tinggi. Kondisi anak didik memang sangat prihatin. Rumah-rumah mereka terdampak banjir. Banyak yang tidak menggunakan seragam. Tetapi, itu tidak ada masalah. Karena kebijakan dari dinas memperbolehkan.
Para guru yang mengajar di kecamatan terpencil di Aceh Utara ini, justru kebanyakan berasal dari kecamatan lain. Ada yang harus bergerak menuju Sawang, sejak selesai solat subuh.
Sekedar mengingatkan, paca banjir dan longsor landa 18 kecamatan di Aceh Utara, Sawang merupakan salah satu kecamatan terpencil yang cukup parah terdampak. Sepanjang jalan dari perempatan lintasan jalan elak Krueng Mane- Sawang, terlihat berjejer tenda-tenda darurat.
Rumah warga pun hingga hari ke 42 pasca banjir- yang sempat merengut 236 nyawa di kabupaten tersebut, masih terlihat berlumpur. Barang-barang rumah tangga banyak yang hancur dan berjejer di sisi dan depan rumah.
Itu belum lagi, jalan penuh berlubang dan debu. Bila melintas harus menggunakan masker. Sedangkan aktivitas perekonomian di ibukota kecamatan terlihat sudah normal. (ung/min)
Tidak ada komentar