Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si.

Oleh: Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK serta Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh
apridar@usk.ac.id
Aceh dikenal sebagai Serambi Mekkah. Gelar ini bukan sekadar simbol. Ia adalah pengakuan atas peran historis Aceh sebagai pusat peradaban Islam di Nusantara. Pada masa kejayaannya, Kesultanan Aceh Darussalam menjadi salah satu dari lima negara Islam paling berpengaruh di dunia, bersama Turki Usmani, Persia, Mughal, dan Maroko. Para ilmuwan dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Aceh. Mereka menulis karya monumental dalam bidang agama, sastra, pemerintahan, antropologi, hingga pengobatan. Karya-karya ini kemudian dipelajari di Malaysia, Brunei, Patani, Singapura, hingga Filipina.
Apa yang membuat Aceh mencapai puncak peradaban itu? Jawabannya sederhana: keseimbangan antara iman dan taqwa dengan penguasaan sains dan teknologi. Keduanya berjalan beriringan. Tidak ada pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Para ulama Aceh seperti Nuruddin Ar-Raniry, Abdurrauf As-Singkili, dan Syamsuddin As-Sumatrani memiliki pandangan dunia yang terintegrasi. Mereka tidak memecah ilmu menjadi bagian yang terpisah. Bagi mereka, menuntut ilmu adalah ibadah. Menguasai sains adalah bagian dari pengabdian kepada Allah.
Namun hari ini, Aceh menghadapi tantangan yang berbeda. Pertanyaannya: apakah kita masih memegang prinsip yang sama? Apakah iman dan taqwa masih menjadi fondasi, sementara sains dan teknologi menjadi alat untuk membangun peradaban?
Dayah: Warisan yang Terus Bertransformasi
Dayah adalah institusi pendidikan Islam tertua di Aceh. Berdasarkan data Dinas Pendidikan Dayah Aceh tahun 2023, terdapat lebih dari 1.179 dayah aktif yang menaungi sekitar 120.000 santri. Angka ini menunjukkan bahwa warisan keilmuan Islam klasik masih terpelihara dengan baik.
Namun dayah tidak tinggal diam. Penelitian menunjukkan bahwa dayah-dayah di Aceh telah bertransformasi. Mereka menggabungkan pengajaran tradisional Islam dengan pendidikan modern. Dayah Modern Darul Ulum YPUI Banda Aceh menjadi contoh nyata bagaimana pesantren dapat bersifat adaptif dan progresif. Kurikulum dayah kini tidak hanya mengajarkan kitab kuning, tetapi juga astronomi, matematika, dan tata kelola pemerintahan.
Pemerintah Aceh juga serius dalam hal ini. Kantor Wilayah Kementerian Hukum Aceh sedang melakukan harmonisasi Rancangan Peraturan Gubernur tentang kurikulum pendidikan dayah. Regulasi ini diharapkan menjadi payung hukum yang kokoh, adaptif, dan mampu menjawab tantangan zaman. Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2018 tentang penyelenggaraan pendidikan dayah menjadi landasan utama.
Wakil Gubernur Aceh menegaskan bahwa pesantren bukan hanya tempat mendidik anak dalam ilmu agama. Pesantren juga membuka cakrawala mereka pada ilmu pengetahuan umum, teknologi, dan sains. Alumninya mampu melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri.
Inovasi Digital dalam Pendidikan Islam
Transformasi tidak berhenti di kurikulum. Metode pembelajaran juga mengalami perubahan. SMP Islam Al-Azhar Cairo Banda Aceh telah menerapkan model pembelajaran Pendidikan Agama Islam berbasis multimedia. Mereka menggunakan perangkat digital seperti iPad, Apple TV, dan aplikasi Keynote. Hasilnya, minat dan pemahaman siswa terhadap materi PAI meningkat. Namun tantangan tetap ada: koneksi internet yang tidak stabil, keterbatasan platform pembelajaran, dan ketergantungan siswa pada perangkat digital.
Penelitian di Madrasah Aliyah Banda Aceh menemukan empat bentuk inovasi digital: video pembelajaran dan animasi keagamaan, penilaian formatif melalui Kahoot! dan Quizizz, penggunaan Learning Management System seperti Google Classroom, dan pengembangan konten digital berbasis budaya Aceh. Inovasi ini berdampak positif pada keterlibatan siswa, pemahaman, dan literasi digital mereka.
Di SMA Negeri 13 Banda Aceh, pengembangan modul digital untuk pendidikan Islam dan karakter terbukti layak dan praktis digunakan. Ini menunjukkan bahwa integrasi teknologi dalam pendidikan Islam bukan sekadar wacana. Ia sedang terjadi.
IMTAQ dan IPTEK: Dua Sisi Mata Uang yang Sama
Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Aceh pada November 2024 menggelar Silaturrahmi Kerja Wilayah dengan tema “Mengokohkan Peran IMTAQ dan IPTEK Menuju Indonesia Emas”. Ketua ICMI Aceh, Dr. Taqwaddin, menekankan pentingnya memadukan keimanan dan teknologi agar generasi mendatang dapat menghadapi tantangan zaman dengan bijaksana.
Ini bukan sekadar slogan. Visi pembangunan Aceh secara eksplisit menyebutkan target masyarakat Aceh mencapai tingkat peradaban dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi. Misi pertamanya adalah mewujudkan pelaksanaan Syariat Islam dalam kehidupan masyarakat secara kaffah. Dengan kata lain, kemajuan material tidak boleh dilepaskan dari nilai-nilai spiritual.
Keuangan Syariah Digital: Bukti Nyata Integrasi
Salah satu bentuk nyata integrasi IMTAQ dan IPTEK adalah perkembangan keuangan syariah digital di Aceh. Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika Nezar Patria mendukung penuh penerapan ini. Ia melihat potensi ekonomi syariah Aceh lebih besar karena adanya regulasi melalui Qanun yang telah menjadi komitmen Pemerintah Provinsi Aceh.
Data per Juni 2024 menunjukkan pengguna QRIS di Aceh mencapai 586.508 pengguna, dengan target 625.551 pengguna di tahun yang sama. Bank Syariah Indonesia memperluas transaksi digital di Aceh. Jumlah mesin EDC bertambah dari 981 unit menjadi 1.780 unit pada Juni 2025. Transaksi melalui EDC melonjak 206 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Bank Indonesia Aceh meluncurkan sistem pembayaran digitalisasi religi. Pendekatan berbasis agama dipilih untuk mempermudah penerimaan teknologi keuangan di masyarakat Aceh yang dikenal kuat memegang nilai-nilai syariah. Dengan pendekatan dakwah, masyarakat Aceh diharapkan terhindar dari potensi penyalahgunaan teknologi digital.
Tantangan yang Masih Tersisa
Meski banyak kemajuan, Aceh masih menghadapi tantangan serius. Laporan Kemendikbudristek tahun 2022 menunjukkan rata-rata skor Asesmen Nasional untuk literasi siswa SMP di Aceh adalah 38,4 dari skala 100, terendah kedua secara nasional. Skor numerasi hanya 40,2. Ini mengindikasikan rendahnya kemampuan berpikir analitis dan kapasitas pemecahan masalah di kalangan pelajar Aceh.
Riset BPS Aceh tahun 2023 mencatat indeks partisipasi sekolah menurun drastis pada usia 16-18 tahun, hanya 66,3 persen. Sepertiga remaja usia SMA tidak lagi bersekolah. Di wilayah pedalaman seperti Aceh Singkil, Gayo Lues, dan Simeulue, infrastruktur sekolah dan akses internet masih jauh dari ideal. Lebih dari 41 persen sekolah dasar di Aceh tidak memiliki laboratorium IPA.
Kesenjangan ini harus diatasi. Kemajuan peradaban tidak boleh hanya dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat. Ia harus menjangkau seluruh wilayah Aceh.
Kesimpulan
Kunci kemajuan peradaban Islam bukanlah pilihan antara iman dan sains. Keduanya adalah satu kesatuan. Aceh telah membuktikannya di masa lalu. Para ulama dan ilmuwan Aceh tidak memisahkan agama dan pengetahuan. Mereka menguasai keduanya dengan baik.
Hari ini, Aceh sedang berusaha menghidupkan kembali semangat itu. Dayah bertransformasi. Madrasah berinovasi dengan teknologi digital. Keuangan syariah mengadopsi sistem digital. Semua ini adalah langkah maju.
Namun tantangan tetap besar. Literasi dan numerasi masih rendah. Akses pendidikan masih timpang. Kesenjangan digital masih nyata.
Jalan ke depan jelas: kita harus terus memadukan iman dan taqwa dengan sains dan teknologi. Bukan sebagai dua hal yang terpisah, tetapi sebagai satu kesatuan yang utuh. Seperti yang dilakukan oleh para pendahulu kita. Seperti yang diajarkan oleh Islam sendiri.
Aceh pernah menjadi guru dunia pendidikan Islam. Saatnya Aceh bangkit kembali. Bukan dengan meninggalkan identitas keislamannya, tetapi dengan memperkuatnya melalui penguasaan sains dan teknologi. Itulah kunci kemajuan peradaban Islam. Itulah warisan yang harus kita jaga dan kembangkan.
Tidak ada komentar