Puluhan hektare lahan persawahan di Desa Pulo Iboih, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, masih terbengkalai hingga Selasa (14/4).
AKHYAR RIZKI RAKYAT ACEHRakyat Aceh| Bireuen – Puluhan hektare lahan persawahan di Desa Pulo Iboih, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, masih terbengkalai hingga Selasa (14/4), meskipun bencana banjir dan tanah longsor telah berlalu sekitar lima bulan lalu. Hingga kini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen dinilai belum menunjukkan langkah konkret dalam memulihkan infrastruktur pertanian di wilayah tersebut.

Kondisi ini berdampak serius terhadap perekonomian warga yang sejak November tahun lalu menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Lumpuhnya aktivitas di areal persawahan membuat roda ekonomi desa praktis terhenti, tanpa kepastian kapan akan kembali pulih.
Zulkifli Syakban, mantan Keuchik Pulo Iboih yang juga petani setempat, mengaku kecewa atas lambannya respons pemerintah daerah. Ia menilai tidak adanya progres pemulihan sebagai bentuk pembiaran terhadap nasib masyarakat desa.
“Sangat kita sesalkan. Hingga saat ini belum terlihat sedikit pun progres pemulihan di lahan persawahan. Kami merasa pemerintah daerah seperti menutup mata terhadap kondisi kami di sini,” ujar Zulkifli.
Menurutnya, keberadaan sawah selama ini bukan hanya menjadi sumber penghasilan bagi pemilik lahan, tetapi juga berfungsi sebagai penopang ekonomi masyarakat kecil, termasuk para janda dan buruh tani harian.
Dalam kondisi normal, warga bekerja sebagai buruh tani untuk memenuhi kebutuhan hidup, mulai dari menanam padi, membersihkan gulma, hingga masa panen. Namun, sejak lahan tidak lagi bisa digarap, sumber penghasilan tersebut ikut hilang.
“Kalau sawah tidak bisa digarap, maka bukan hanya petani pemilik lahan yang terdampak, tetapi juga buruh tani yang selama ini bergantung pada pekerjaan harian di sawah,” jelasnya.
Situasi ini memicu efek domino terhadap kelompok masyarakat paling rentan. Banyak warga kini kehilangan mata pencaharian utama dan terpaksa menghadapi ketidakpastian ekonomi yang berkepanjangan.
Zulkifli pun mendesak Pemkab Bireuen agar segera turun langsung ke lapangan dan mengambil langkah nyata untuk memulihkan kondisi lahan pertanian. Ia berharap upaya perbaikan infrastruktur irigasi dan normalisasi lahan dapat segera dilakukan agar aktivitas pertanian kembali berjalan.
“Kami sangat berharap pemerintah segera bertindak. Kalau sawah hidup kembali, bukan hanya pemilik lahan yang terbantu, tetapi juga para janda dan warga kurang mampu bisa kembali bekerja sebagai buruh harian. Jangan biarkan kami terus berada dalam ketidakpastian,” pungkasnya. (akh)
Tidak ada komentar