RAKYAT ACEH I MEULABOH – Bencana banjir November 2025 lalu masih menyisakan duka. Puluhan murid Sekolah Dasar (SD) Desa Canggai, Kecamatan Pante Ceureumen, kabupaten Aceh Barat harus rela belajar di Pos Bersalin Desa (Polindes) setempat, karena robohnya jembatan gantung menuju sekolah mereka masih belum diperbaiki.
Jembatan gantung ini roboh saat bencana banjir November 2025 melanda. Jembatan tersebut, menghubungkan Desa Canggai – Jambak, Kecamatan Pante Ceureumen, Aceh Barat.
Usai putusnya akses jembatan gantung tersebut, puluhan anak Sekolah Dasar (SD) di Gampong Canggai, kini terpaksa melangsungkan kegiatan belajar mengajar di bangunan Pos Bersalin Desa (Polindes) dengan fasilitas sangat terbatas.
Kondisi demikian, diutarakan miris oleh warga setempat. Anak-anak terpaksa menimba ilmu, tanpa gedung sekolah yang layak. Parahnya lagi, siswa harus berbagi ruang di Polindes yang semestinya berfungsi sebagai fasilitas kesehatan.
Kurangnya sarana pendukung membuat proses transfer ilmu tidak berjalan optimal, namun hal ini menjadi satu-satunya pilihan agar anak-anak tetap belajar dan tidak putus sekolah akibat tidak bisa menyeberangi sungai.
“Kondisinya sangat memprihatinkan. Anak-anak belajar di ruang seadanya di Polindes karena jembatan yang menjadi akses ke sekolah sudah tidak ada lagi,” ungkap salah satu warga Gampong Canggai.
Warga setempat sangat berharap kepada pemerintah segera membangun jembatan gantung yang putus, imbasnya meluas, selain menghambat akses pendidikan, kesehatan, juga berdampak pada roda perekonomian masyarakat, terutama petani dan perkebunan untuk membawa hasil panen.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Aceh Barat, Fadly Octora, di Meulaboh, Selasa (7/4/2026), menjawab kondisi demikian, menyatakan bahwa Pemkab Aceh Barat telah mengambil langkah koordinasi dan sekaligus mengajukan permohonan kepada Kementerian PU untuk Tahun 2026.
Ia menjelaskan bahwa Tim P2JN Aceh pun telah turun ke lokasi untuk melakukan peninjauan dan survei lapangan pada 15 Maret 2026.
Meski demikian, kata Fadly, hingga saat ini belum ada kepastian mengenai tanggal pasti dimulainya pengerjaan fisik pembangunan ulang jembatan gantung tersebut.
Ia menjelaskan bahwa perbaikan kembali jembatan gantung Desa Canggai ini telah dimasukkan ke dalam Rencana Pembangunan Dana Rehab Rekon (R3P) BNPB bersama 8 jembatan lainnya di Kabupaten Aceh Barat yang rusak pasca bencana banjir besar tahun 2025 lalu.
Fadly Octora mengakui bahwa pihaknya masih menunggu lampu hijau dari pemerintah pusat. Walaupun usulan sudah disampaikan secara lisan dan tertulis (resmi), hingga saat ini belum ada respons balik dari Kementerian PU terkait jadwal realisasi pembangunan kembali Jembatan yang mengalami kerusakan parah pasca bencana hidrometeorologi yang terjadi pada November 2025.
“Kita sudah memohon ke Kementerian PU untuk dibangun pada tahun 2026 ini, tetapi sampai saat ini belum ada respons dari pemerintah pusat,” perjelas Fadly, sambil meminta masyarakat untuk bersabar.(den)
Tidak ada komentar