Puluhan hektare lahan persawahan di Desa Pulo Iboih, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, masih terbengkalai pasca bencana. (dok/RAKYAT ACEHRAKYAT ACEH | BANDA ACEH – Pemerintah Provinsi Aceh telah mengalokasikan lebih US$21,8 juta atau sekitar Rp380 miliar untuk rehabilitasi dan rekonstruksi lahan pertanian yang rusak akibat banjir yang melanda provinsi tersebut tahun lalu.

“Pemerintah Aceh saat ini fokus pada percepatan semua tahapan, mulai dari perencanaan hingga pembangunan dan pengolahan lahan, agar lahan pertanian yang terdampak bencana dapat segera produktif kembali,” kata Sekretaris Daerah Aceh M. Nasir di sini pada hari Senin (4/5).
Anggaran tersebut mencakup optimalisasi dan rehabilitasi lahan hingga pembangunan infrastruktur pendukung seperti sistem irigasi dan jalan pertanian.
Nasir menekankan bahwa pemerintah terus mempercepat upaya rehabilitasi dan rekonstruksi lahan pertanian pascabencana sebagai bagian dari komitmennya untuk menjaga ketahanan pangan dan mendukung pemulihan ekonomi masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa Rp155,6 miliar telah dialokasikan untuk optimalisasi lahan sawah yang mengalami kerusakan ringan. Program ini mencakup 16 kabupaten/kota dengan total luas 27.071 hektar.
Dari jumlah tersebut, sekitar Rp124,5 miliar dialokasikan untuk pembangunan optimasi lahan, yang akan dilaksanakan setelah tahap perencanaan selesai, diikuti oleh pengolahan lahan senilai Rp24,3 miliar.
Sementara itu, untuk lahan dengan kerusakan sedang, Pemerintah Aceh sedang melaksanakan program rehabilitasi lahan dengan total anggaran Rp65,2 miliar. Program ini mencakup lima kabupaten dengan luas 4.393 hektar.
“Saat ini, kemajuan pembangunan rehabilitasi sawah yang mengalami kerusakan sedang, yang dilakukan oleh kelompok tani bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI), telah mencapai sekitar 3.981 hektar, atau sebagian besar dari total target,” ujarnya.
Selain itu, Pemerintah Provinsi Aceh telah merencanakan 641 unit pompa irigasi di 16 kabupaten/kota dengan anggaran Rp98 miliar.
Selain itu, terdapat pula pembangunan sistem irigasi pipa di 13 kabupaten/kota, dengan total 149 unit dan anggaran sebesar Rp14 miliar, serta pengembangan 45 struktur konservasi dengan anggaran sebesar Rp5,4 miliar. (ant/hra)
Tidak ada komentar