x

Warga Mengeluh, Jalan Tak Pernah Disiram

waktu baca 2 menit
Jumat, 7 Agu 2026 16:17 3 redaksi

RAKYAT ACEH | SIGLI – Kendati banjir lumpur sudah berjalan delapan bulan lebih, namun jalan kabupaten dari Gampong Tiba Masjid menuju jalan Provinsi ke Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie belum ditangani pemerintah setempat, bahkan penanganan sementara hanya dilakukan pengerasan saja belum diaspal sebagaimana layaknya.
Kondisi ini, sangat memprihatinkan bagi warga Gampong Jojo dan Gampong Tiba Masjid. Pasalnya, debu berat yang ditimbulkan kendaraan roda empat dan sepeda motor (roda dua) yang melintasi jalan tersebut cukup parah.

Tidak heran, selama belakangan ini debu tersebut membuat anak sekolah SDN 3 Gampong Jojo dan Gampong Tiba Masjid yang belajar di Meunasah Gampong Jojo harus menghirup debu tersebut. Sehingga, cukup banyak anak anak sekolah mengalami penyakit batuk menyesak nafas.

Keprihatinan ini, diutarakan Safriani dan Safriana, atau ibu dari sang anak. Diharapkannya, pemerintah harus ambil peduli dengan jalan yang ditimbun sepanjang 400 meter itu kerap menimbulkan debu menyesak pandangan mata.

Salah seorang warga Gampong Jojo Mutiara Timur, Muslim sangat berharap masalah ini mendapat perhatian serius dari Bupati Pidie, Sarjani Abdullah atau sekurangnya perhatian Sekda Pidie, Drs Samsul Azhar.
Plt Kepala Dinas PUPR Pidie, Muntaha ST.MT yang ditanyai media ini menyebutkan jika jalan dari Meunasah Gampong Jojo menuju Gampong Tiba Masjid sepanjang 1.200 meter tersebut baru ada dana perbaikan sementara sepanjang 400 meter saja.

Disebutnya, hanya baru ditimbun pengerasan jalan sepanjang 400 meter dari timbunan sepanjang itu dipastikannya menimbulkan debu berat akibat dilintasi kendaraan roda empat dan roda dua.
Dijelaskannya, jalan sepanjang 400 meter yang telah ditimbun itu akan diaspal.Hotmix. Sedangkan sisa lagi sepanjang 800 meter akan dikerjakan apabila dana sudah turun.
Muntaha, terkejut saat disampaikan jalan yang sudah ditimbun dan diberi pengerasan tersebut tidak pernah disiram oleh rekanan kontraktor yang memperoleh pekerjaan senilai Rp 1 Milyar tersebut.
Praktis keberadaan proyek tersebut diributkan karena kurang perhatian dari pihak rekanan termasuk papan proyek yang kurang memenuhi standar papan proyek yang seharus tidak dipanjang kurang sepadan. (ana/rus)

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x