x

Pemuda Aceh Utara Tembus Forum Pemuda Parlemen Indonesia, Bawa Isu Daerah ke Panggung Nasional

waktu baca 4 menit
Sabtu, 19 Sep 2026 14:26 0 redaksi

RAKYAT ACEH | LHOKSEUMAWE— Dari pelosok Aceh Utara menuju ruang dialog nasional. Perjalanan tersebut dilalui Aris Munandar setelah berhasil melewati rangkaian seleksi untuk menjadi bagian dari Pemuda Parlemen Indonesia, sekaligus mewakili Aceh dalam forum kepemudaan tingkat nasional.

 

Kesempatan itu diraih setelah Aris mengikuti sejumlah tahapan seleksi, mulai dari seleksi administrasi, wawancara, forum dialog dan diskusi, hingga Youth Catalyst Program. Rangkaian proses tersebut menjadi perjalanan panjang yang menurutnya bukan sekadar ajang seleksi, melainkan ruang untuk menguji kemampuan, memperluas wawasan, dan mempersiapkan diri menyampaikan gagasan di tingkat nasional.

 

Aris Munandar mengatakan, kesempatan untuk bergabung dalam Pemuda Parlemen Indonesia tidak datang secara instan. Setiap tahapan menuntut persiapan, kesungguhan, serta kemampuan untuk menghadapi berbagai tantangan.

 

“Keikutsertaan saya di Pemuda Parlemen Indonesia bukan semata-mata untuk membawa nama daerah. Saya ingin menjadi bagian dari generasi muda yang memahami persoalan di daerahnya dan mampu menyampaikan berbagai isu strategis Aceh melalui ruang dialog yang lebih luas,”kata Aris, kepada Rakyat Aceh, Sabtu (19/9/2026).

 

Menurutnya, Aceh masih memiliki berbagai persoalan yang perlu dibicarakan secara terbuka, baik di tingkat daerah maupun nasional. Karena itu, forum kepemudaan seperti Pemuda Parlemen Indonesia dinilai dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan pandangan, bertukar gagasan, sekaligus memahami persoalan bangsa dari perspektif yang beragam.

 

Forum tersebut mempertemukan anak muda dari berbagai daerah di Indonesia. Pertemuan lintas daerah itu membuka kesempatan bagi peserta untuk saling mengenal, berdiskusi, serta melihat berbagai persoalan bangsa melalui latar belakang, pengalaman, dan sudut pandang yang berbeda.

 

Bagi Aris, pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting bahwa menyelesaikan persoalan tidak cukup hanya dengan menyampaikan kritik.

 

“Anak muda tidak cukup hanya mampu mengkritik. Kita juga harus memiliki kemampuan berdialog, membangun komunikasi, memahami persoalan secara utuh, serta mengambil bagian dalam mencari jalan keluar,” katanya.

 

Ia menilai kemampuan tersebut berkaitan erat dengan social skill atau keterampilan sosial. Generasi muda, menurutnya, perlu mampu berinteraksi, berkomunikasi, membangun hubungan yang sehat, serta menyampaikan kritik secara bermoral dan bertanggung jawab.

 

Kritik tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, kritik akan memiliki makna yang lebih besar apabila dibarengi kepedulian dan tindakan nyata.

 

“Anak muda tidak cukup hanya mengetahui bagaimana cara menyampaikan kritik. Kita juga perlu mengambil ruang dan peran untuk memberikan manfaat bagi masyarakat di lingkungan masing-masing,” ujarnya.

 

Aris juga mengingatkan pentingnya menggunakan ruang publik secara bijak. Menurutnya, generasi muda perlu membedakan antara menyampaikan gagasan dengan sekadar menciptakan social stunt, yakni tindakan yang sengaja dibuat secara mencolok atau kontroversial demi mendapatkan perhatian publik, khususnya di media sosial.

 

Popularitas, kata dia, bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang anak muda dalam mengambil peran di tengah masyarakat.

 

“Kita semua adalah bagian dari bangsa yang memiliki moral dan etika. Karena itu, setiap langkah dan tindakan anak muda harus dilandasi tanggung jawab, sikap saling menghargai, serta keberanian menyampaikan kritik dengan cara yang baik,” katanya.

 

Ia berharap semakin banyak ruang dialog nasional yang sehat bagi generasi muda. Forum semacam itu dinilai penting agar anak muda tidak hanya berbicara mengenai persoalan bangsa, tetapi juga mau mendengarkan berbagai pandangan, memahami kebijakan, serta melihat secara langsung persoalan yang dihadapi masyarakat.

 

Dari ruang dialog tersebut, generasi muda dapat memetakan berbagai persoalan yang belum mendapatkan perhatian, memahami langkah yang telah dilakukan, sekaligus melihat bagian-bagian yang masih membutuhkan perbaikan.

 

Bagi Aris, langkah menuju Senayan melalui Pemuda Parlemen Indonesia pada akhirnya bukan sekadar tentang hadir dalam forum nasional. Lebih jauh, kesempatan tersebut menjadi ruang pembelajaran untuk membawa pengalaman dan persoalan Aceh ke dalam diskusi yang lebih luas.

 

Sebagai anak muda Aceh, ia ingin membangun kemampuan berkomunikasi, berdialog, sekaligus mengambil peran secara bertanggung jawab dalam kehidupan masyarakat.

 

“Anak muda Aceh tidak harus menunggu untuk menjadi bagian dari perubahan. Selama tersedia ruang untuk belajar, berdialog, dan berkontribusi, generasi muda dapat mengambil perannya masing-masing untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, daerah, dan bangsa,” pungkasnya.(arm/ra)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x