SAMBUTAN: Anggota Komisi VI PRA Muhammad Zakiruddin saat memberi kata sambutan pada kegiatan peningkatan kapasitas tenaga kependidikan agama Kabupaten Aceh Tamiang di Grand Arya Hotel, Senin (18/5/2026). IST/RAKYAT ACEHRAKYAT ACEH | ACEH TAMIANG – Tantangan mendidik generasi muda di era digital kian kompleks. Maraknya potongan ceramah instan dan tutorial mengaji di media sosial seperti TikTok, Instagram, hingga YouTube kerap tidak memiliki dasar keilmuan yang jelas. Ditambah lagi, paparan informasi tanpa batas di internet memicu ancaman nyata seperti kecanduan game online hingga pornografi yang merusak moral santri.

Kondisi tersebut memantik perhatian serius dari Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Anggota Komisi VI DPRA, Muhammad Zakiruddin, menegaskan bahwa peran guru ngaji saat ini dituntut untuk bertransformasi.
“Guru ngaji hari ini tidak boleh lagi sebatas mengajarkan cara membaca Al-Qur’an. Mereka harus mampu menanamkan nilai iman, moral, serta menjadi teladan langsung dalam pembentukan karakter santri,” ujar Zakiruddin di Aceh Tamiang, Senin (18/5/2026).
Bertolak dari urgensi tersebut, legislator dari daerah pemilihan (dapil 7) Aceh Tamiang-Langsa ini, memfasilitasi program peningkatan kapasitas bagi para pendidik agama di Bumi Muda Sedia. Langkah ini direalisasikan lewat agenda Pelatihan Peningkatan Kapasitas Tenaga Kependidikan Agama Kabupaten Aceh Tamiang.
Agenda Tahunan
Pelatihan berskala regional ini dipusatkan di Hotel Grand Arya. Guna memaksimalkan penyerapan materi, kegiatan dibagi menjadi dua gelombang. Angkatan I sukses dilaksanakan pada 11–14 Mei, sementara Angkatan II menyusul pada 17–20 Mei.
Sedikitnya 120 peserta yang berasal dari 12 kecamatan se-Aceh Tamiang dilibatkan secara aktif. Mereka merupakan para pendidik yang sehari-hari mengabdi di Dayah, pesantren, hingga balai pengajian tersebar. Selama pelatihan, para peserta digembleng langsung oleh sejumlah narasumber yang kompeten di bidangnya masing-masing.
Zakiruddin berharap, tambahan khazanah ilmu ini bisa menjadi bekal berharga bagi para guru ngaji saat kembali ke masyarakat untuk mendidik anak-anak Tamiang. Pihaknya juga berkomitmen menjaga keberlanjutan program penguatan moral tersebut di masa depan.
“Insya Allah, selama masa jabatan saya, kegiatan pelatihan untuk guru ngaji ini akan kita laksanakan secara rutin setiap tahunnya,” tegas politikus DPRA tersebut.
Melalui komitmen program tahunan ini, diharapkan kompetensi tenaga pendidik agama di Aceh Tamiang terus meningkat secara merata, sekaligus menjadi wadah silaturahmi yang membawa keberkahan bagi syiar Islam di daerah. (ddh)
Tidak ada komentar