x

Safriadi Pimpin KSMI Lhokseumawe, Jangan Biarkan Sepak Bola Mini Hanya Hidup Saat Turnamen

waktu baca 4 menit
Jumat, 30 Okt 2026 15:49 1 redaksi

Lhokseumawe – Kepemimpinan baru Komite Sepakbola Mini Indonesia (KSMI) Kota Lhokseumawe resmi dimulai. Safriadi, S.STP., MSM., dipercaya memimpin organisasi olahraga itu setelah ditetapkan melalui musyawarah penyusunan kepengurusan di Kantor KONI Kota Lhokseumawe, Kamis (29/10/2026).

Kepemimpinan ini diharapkan menjadi momentum pembenahan cabang sepak bola mini di Kota Lhokseumawe. Namun, tantangan yang menanti tidak ringan. KSMI dituntut mampu membangun organisasi yang profesional, memperkuat pembinaan atlet, serta menghadirkan kompetisi yang terarah dan berkelanjutan.

Selama ini, antusiasme masyarakat terhadap sepak bola mini menjadi modal penting bagi perkembangan olahraga tersebut. Akan tetapi, popularitas turnamen saja tidak cukup untuk melahirkan atlet berprestasi tanpa ditopang sistem pembinaan, kualitas pelatih, kompetisi berjenjang, dan tata kelola organisasi yang baik.

Safriadi menilai sepak bola mini memiliki potensi besar untuk berkembang dan menjadi salah satu wadah lahirnya talenta-talenta olahraga di Lhokseumawe.

Menurutnya, perkembangan olahraga ini tidak boleh hanya diukur dari banyaknya pertandingan atau kemeriahan turnamen, tetapi juga dari sejauh mana kompetisi mampu meningkatkan kualitas pemain dan melahirkan prestasi.

Ia ingin KSMI hadir sebagai organisasi yang tidak sekadar memiliki struktur kepengurusan, tetapi benar-benar menjalankan fungsi pembinaan dan menjadi rumah bersama bagi klub, atlet, pelatih, serta komunitas sepak bola mini.

Amanah Kepemimpinan Harus Dibuktikan dengan Program Nyata

Safriadi menyampaikan apresiasi kepada Ketua KONI Kota Lhokseumawe beserta jajaran dan seluruh peserta musyawarah atas kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Ia menegaskan, amanah ini bukan sekadar jabatan organisasi, melainkan tanggung jawab untuk mendorong kemajuan sepak bola mini melalui kerja kolektif.

Menurutnya, keberhasilan KSMI tidak dapat dibangun oleh ketua atau pengurus tertentu saja. Diperlukan keterlibatan seluruh elemen sepak bola mini agar organisasi memiliki arah dan program yang dapat dijalankan secara konsisten.

“Kepercayaan ini merupakan amanah. Saya tidak ingin menjanjikan sesuatu secara berlebihan. Yang terpenting adalah membangun kebersamaan, menyusun program yang realistis, dan bekerja sungguh-sungguh untuk kemajuan sepak bola mini Lhokseumawe,”katanya.

Ia juga berharap KSMI menjadi wadah yang terbuka bagi seluruh klub dan komunitas tanpa membedakan kelompok maupun kepentingan tertentu.

Empat Agenda Strategis Menanti KSMI

Dalam kepemimpinan Safriadi, terdapat empat agenda utama yang perlu menjadi perhatian untuk membangun ekosistem sepak bola mini yang lebih kompetitif.

Pertama, penguatan tata kelola organisasi. KSMI perlu membangun sistem kepengurusan yang aktif, transparan, dan memiliki pembagian tugas yang jelas. Organisasi harus mampu merangkul seluruh klub sekaligus menjadi ruang komunikasi dan penyelesaian persoalan.

Kedua, pembinaan atlet usia muda. Potensi pemain lokal harus diidentifikasi sejak dini melalui pembinaan terstruktur. Ketersediaan pelatih berkualitas, peningkatan kemampuan teknis, serta kesempatan mengikuti kompetisi menjadi bagian penting dalam proses pengembangan atlet.

Ketiga, kompetisi yang berjenjang dan berkelanjutan. Turnamen tidak boleh hanya menjadi agenda seremonial atau ajang memperebutkan trofi. Kompetisi harus dirancang sebagai sarana mengukur kemampuan, meningkatkan kualitas permainan, dan menjaring atlet potensial untuk menghadapi kejuaraan tingkat lebih tinggi.

Keempat, memperkuat sinergi kelembagaan. KSMI perlu membangun koordinasi dengan KONI, pemerintah daerah, klub, serta berbagai pihak terkait agar program pembinaan dan pengembangan sepak bola mini mendapatkan dukungan yang berkesinambungan.

Keempat agenda tersebut menjadi pekerjaan penting bagi kepengurusan baru. Sebab, ukuran keberhasilan organisasi pada akhirnya bukan terletak pada terbentuknya struktur semata, melainkan pada program yang berjalan dan prestasi yang berhasil dicapai.

KONI Berharap KSMI Perluas Pembinaan Olahraga

Ketua KONI Kota Lhokseumawe, Mulyanto, S.Sos., menyambut positif terbentuknya kepengurusan KSMI. Kehadiran organisasi tersebut diharapkan dapat memperluas ruang pembinaan olahraga, khususnya bagi generasi muda yang memiliki minat dan bakat dalam sepak bola mini.

Musyawarah yang berlangsung di Kantor KONI Kota Lhokseumawe itu dibuka langsung oleh Mulyanto dan dipimpin Ketua Harian KONI, Dr. Hilmi, S.E., CBA.

Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh pemegang mandat KSMI Kota Lhokseumawe, Mahyuddin Okib, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Umum KONI Kota Lhokseumawe.

Terbentuknya kepengurusan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat eksistensi sepak bola mini dalam ekosistem olahraga daerah. Namun, dukungan kelembagaan tersebut perlu ditindaklanjuti dengan program konkret agar manfaatnya benar-benar dirasakan para atlet dan klub.

Tantangan Besar: Mengubah Potensi Menjadi Prestasi

Safriadi menyadari bahwa prestasi olahraga tidak dapat diraih secara instan. Dibutuhkan proses panjang, kedisiplinan, kompetisi berkualitas, serta konsistensi seluruh pihak dalam menjalankan pembinaan.

Karena itu, ia mengajak seluruh insan sepak bola mini di Lhokseumawe menjadikan momentum pergantian kepemimpinan sebagai kesempatan untuk memperkuat persatuan dan meninggalkan perbedaan kepentingan.

Dukungan KONI, pemerintah daerah, klub, pelatih, atlet, dan masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam membangun fondasi organisasi yang kuat.

“Kalau kita ingin sepak bola mini Lhokseumawe diperhitungkan, kita harus memulai dengan membangun organisasi yang kuat, pembinaan yang serius, dan kompetisi yang berkualitas. Tidak ada prestasi tanpa proses dan tidak ada kemajuan tanpa kebersamaan,” tegasnya.

Kini, kepemimpinan Safriadi menghadapi pekerjaan besar untuk membawa KSMI Lhokseumawe bergerak lebih jauh. Publik olahraga tentu tidak hanya menunggu terbentuknya kepengurusan, tetapi juga ingin melihat program pembinaan yang berjalan, kompetisi yang berkualitas, serta lahirnya atlet-atlet yang mampu bersaing di tingkat provinsi hingga nasional.(arm/ra)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA
    x